Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:17 WIB

Untung Rugi Right Issue Bagi Anda

Sabtu, 03 Maret 2012 / columns

 

PIALANG NEWS - Penawaran umum terbatas atau right issue sering terdengar, dapat dimengerti artinya, namun kerap luput dari perhatian investor. Terutama yang memiliki sedikit saham dan sedikit portofolio.

Atau bisa juga meski memiliki cukup banyak saham, namun awam akan manfaat dan kerugian dari kegiatan penggalangan dana oleh emiten tersebut. Kasus lain, ada juga investor yang tidak  peduli karena tidak memperoleh informasi atas aksi korporasi dari perusahaan yang ia miliki sahamnya.

Right issue dapat diartikan sebagai penerbitan saham baru oleh sebuah perusahaan terbuka dalam rangka penambahan modal perusahaan. Tujuannya antara lain adalah untuk menambah jumlah saham yang beredar agar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi lebih likuid—aktif diperdagangkan.

Kemudian, aksi ini dapat dilakukan pula untuk melakukan penggalangan dana secara mudah dan murah misalnya untuk pengembangan usaha atau untuk membayar pinjaman. 

Aksi korporasi ini biasanya dilakukan dengan mekanisme HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). HMETD ini ditawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lama  karena pemegang saham lama memiliki pre-emptive right  yaitu hak yang memberikan kesempatan untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditetapkan dengan menukarkan Bukti Right—bukti kepemilikan atau hak pembelian—yang dimilikinya.

Sedangkan bagi investor yang tidak ingin menebus saham baru, ia dapat menjual haknya tersebut di pasar sekunder. Investor yang mentransaksikan Bukti Right dapat menikmati Capital Gain, yaitu ketika harga jual Right lebih besar dari harga belinya. Sebaliknya, ketika harga beli lebih tinggi dari harga jual, maka investor akan menderita rugi alias Capital Loss.

Dalam aktivitas perdagangan, ilustrasi keuntungan memiliki Bukti Right dapat diwakilkan dengan cerita berikut:  Jansen, seorang investor, membeli Bukti Right dari aksi penawaran umum terbatas PT Barokah Tbk di pasar sekunder pada harga Rp250.

Sedangkan, harga pelaksanaan (exercise price) saham baru adalah sebesar Rp1.500. Pada saat tanggal pelaksanaan, harga saham PT Barokah Tbk diasumsikan melonjak hingga Rp2.000 per unit. 

Nah, dengan Bukti Right yang dimilikinya Jansen dapat membeli saham PT Barokah Tbk tersebut hanya dengan membayar total sebesar Rp1.750, yaitu Rp1.500 (harga pelaksanaan) + Rp250 (harga Right).

Artinya, Bapak Jansen memperoleh keuntungan  Rp250 untuk setiap unit saham baru yang ia beli yang perhitungan diperoleh dari dari Rp2.000 – Rp1.750. Untung bukan?

Selain manfaat atau keuntungan itu tadi, tentu ada pula resiko dari kepemilikan Bukti Right yand diperoleh di pasar sekunder ini. Jika harga saham di pasar pada periode pelaksanaan jatuh dan menjadi lebih rendah dari harga pelaksanaan saham baru, maka investor tidak akan mengkonversikan Bukti Right tersebut, dan investor akan mengalami kerugian atas harga beli Right.

Contohnya: Jansen membeli Bukti Right PT Barokah Tbk di Pasar Sekunder pada harga Rp250 dengan harga pelaksanaan saham baru sebesar Rp1.500. Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham di pasar turun menjadi Rp1,250 per saham. Tentu saja, Jansen akan berpikir menukarkan Bukti Right yang dimilikinya.

Namun, jika melakukannya ia harus membayar Rp1.750 (Rp1.500 harga pelaksanaan + Rp250 harga right), atau lebih mahal daripada harga saham di pasar. Sementara,  jika ia tidak menukarkan Bukti Right yang dimilikinya, ia pun tetap mengalami kerugian Rp250 atas harga pembelian Right tersebut.

Alhasil, pemegang saham yang tidak mengkonversi Bukti Right tersebut akan mengalami dilusi kepemilikan, atau jumlah saham yang dimiliki akan berkurang secara proporsional terhadap jumlah total saham yang diterbitkan perusahaan.

Tak hanya itu, pengurangan porsi kepemilikan saham di suatu perusahaan akibat adanya right issue juga berbanding lurus dengan penurunan jumlah dividen yang diterima.

Agar investor tertarik dan berminat menggunakan haknya untuk membeli saham baru, biasanya emiten akan menetapkan harga jual saham baru di bawah harga pasar atau diskon, yang besarnya sekitar 20%-30%.  

Jika harga saham di pasar lebih rendah dari pada harga HMETD, tentu saja right issue tidak akan sukses karena pemegang saham akan memilih membeli saham di bursa dibandingkan mengambil HMETD. 

Hati-Hati dengan Kabar Right Issue

Apabila investor mendengar adanya rencana right issue suatu emiten, sebaiknya perlu berhati-hati karena aksi tersebut biasanya akan memicu koreksi harga terlebih dulu.

Koreksi terjadi karena harga saham akan menuju ke arah harga pelaksanaan saham right issue, atau harga teoritis setelah right issue, atau dalam beberapa kasus berada di bawahnya. Harga teoritis ini biasanya ada di bawah harga terakhir yang ada di pasaran, karena umumnya harga pelaksanaan right issue lebih murah dibandingkan harga di pasar.

Bisa saja saham itu cukup baik secara fundamental namun tetap saja terdapat hal yang mendorong harganya terkoreksi pasca tersiar kabar right issue. Mengapa fenomena ini terjadi? Tak lain karena ada potensi delusi kepemilikan dari pemegang saham apabila yang tidak mengeksekusi Right yang dimilikinya.

Alhasil, mereka yang tidak ingin terkena dampak itu biasanya akan melepas sahamnya dan secara ototmatis membuat tekanan jual. Selain itu, dengan adanya rentang antara harga di pasar dengan harga pelaksanaan right issue atau dengan harga teoritis setelah right issue, membuat ada celah atau peluang bagi beberapa pihak untuk melakukan short selling atas saham tersebut.

Bagi emiten, right issue adalah salah satu upaya mencari dana murah yang bisa digunakan untuk ekspansi usaha, modal kerja atau membayar utang. Rights issue yang positif adalah jika dana yang diperoleh diinvestasikan untuk proyek terutama yang menjanjikan imbal hasil yang tinggi, baik itu proyek investasi baru atau peningkatan modal kerja.

Sebaliknya, bila aksi korporasi ini dipakai hanya untuk membayar hutang, hal ini adalah sinyal negatif ke pasar bahwa manajemen kesulitan untuk membayar hutang atau terbebani dengan beban bunga yang tinggi. Koreksi harga saham ini akan lebih mungkin terjadi apabila tujuan right issue adalah untuk membayar hutang, bukan untuk ekspansi atau pengembangan usaha.

Sementara itu bagi investor baru, saham right issue ini justru akan membuka peluang untuk memiliki saham dari emiten dengan harga murah. Oleh karena itu jika saham tersebut berfundamental baik, biasanya saham tersebut setelah terkoreksi akan naik kembali ke harga semula sebelum right issue atau bahkan naik melebihi harga semula.

Nah, apa yang sebaiknya dilakukan investor terhadap saham emiten yang akan right rssue tersebut?  Bagi investor yang telah memiliki saham saham tersebut, sebaiknya dilepas dulu dan dibeli kembali ketika harga saham sudah berhenti terkoreksi atau terlihat tanda-tanda mulai rebound.

Sementara, bagi investor yang belum memiliki saham tersebut dan berniat untuk mengoleksinya, maka pembelian saham tersebut bisa dilakukan ketika saham tersebut telah berhenti terkoreksi atau mulai menunjukkan tanda-tanda untuk rebound. Selamat bertransaksi!

 

Dibaca : 12845 kali
Baru dibaca Terpopuler