Jumat, 27 April 2018 | 00:37 WIB

Apa Itu Transaksi Margin?

Bila investor tidak melakukan top up akibat nilai jaminan turun signifikan, broker akan menjual paksa (forced sell) saham-saham yang dibeli dengan dana fasilitas margin.
Sabtu, 03 Maret 2012 / columns

 

PIALANG NEWS - Salah satu fasilitas yang diberikan broker atau perusahaan sekuritas kepada investornya adalah fasilitas margin atau fasilitas pinjaman untuk bertransaksi saham. Dengan fasilitas ini, investor dapat melakukan jual beli saham melebihi nilai aset likuid yang di milikinya.

Umumnya, investor yang terbiasa melakukan transaksi harian menyukai fasilitas ini. Bayangkan saja, dengan duit orang pinjaman, investor berpotensi dapat gain yang lebih besar.

Namanya pinjaman pasti ada bunganya. Besar bunga fasilitas margin lebih tinggi dari bunga bank, dan semakin lama uang ditahan semakin besar pula bunga yang harus dibayarkan. Perlu diketahui, tidak semua broker memberikan fasilitas ini kepada nasabahnya dan menerapkan sejumlah syarat khusus yang harus dipenuhi.

Saat pasar saham sedang bullish, ada saja jalan bagi broker untuk memberikan fasilitas margin ke nasabahnya. Oleh broker tersebut, fasilitas margin seringkali dikemas dengan macam-macam istilah dengan tujuan perputaran likuditas. Misalnya, istilah T plus yang artinya investor boleh menunda pembayaran transaksi yang dilakukannya.

Dalam transaksi normal, proses penyelesaian transaksi di bursa mengikuti formula T+3 yang artinya penyelesaian transaksi akan dilaksanakan dalam tiga hari kerja setelah transaksi dilakukan.

Dengan fasilitas T plus tersebut, investor boleh membayar kapan saja. Asal, investor memiliki jaminan (collateral) dalam bentuk portofolio dan bersedia membayar bunga sesuai dengan jumlah hari keterlambatan.

Setiap broker yang memiliki izin menyelenggarakan fasilitas margin memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Namun, fasilitas margin mestinya tidak lebih dari 50% dari nilai jaminan. 

Meski begitu, peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI) membolehkan broker memberi margin dengan komposisi 100:65. Artinya, jika investor memiliki jaminan aset likuid Rp100 juta misalnya, maka dia bisa bertransaksi hingga Rp165 juta. Tapi jika fasilitas margin sudah dipergunakan hingga 80%, investor akan diminta untuk menambah nilai jaminan (top up).

Satu hal yang perlu diingat, penggunaan fasilitas margin berisiko. Saat kondisi pasar sedang bearish, harga saham dapat jatuh dengan cepat. Nah, saat itulah resiko dari penggunaan fasilitas margin dapat berpotensi menurunkan nilai portofolio investor.

Bahkan, bila investor tidak melakukan top up akibat nilai jaminan turun signifikan, broker akan menjual paksa (forced sell) saham-saham yang dibeli dengan dana fasilitas margin.

Seperti halnya pedang bermata dua, fasilitas margin dapat membuat investor untung banyak dan sekaligus dapat membuat kerugian besar pula. Misalnya, investor membeli saham senilai Rp60 juta dimana separuhnya menggunakan fasilitas margin.

Ketika harga pasar saham tersebut turun hingga 25%, nilai saham menjadi hanya Rp45 juta. Investor harus mengembalikan Rp30 juta kepada broker ditambah bunga. Sehingga modal investor yang tersisa tidak akan sampai Rp15 juta, turun lebih dari 50%.

Sementara, bila investor tidak menggunakan fasilitas margin, ia hanya akan menderita kerugian sebesar Rp30 juta – (Rp30 juta - 25%) = Rp7,5 juta. Artinya, modalnya masih tersisa sebesar Rp22,5 juta.

Kerugian sebesar lebih dari 50% merupakan hal yang buruk, itu karena investor menggunakan fasilitas margin. Dapat dibayangkan bilamana nilai pasar suatu saham yang dibeli dengan margin turun hingga 50%? Investor tentu akan kehilangan 100% investasinya ditambah beban bunga dan biaya transaksi.

Ingatlah, saham yang nilainya turun tapi dibeli dengan dana dari rekening sendiri suatu saat masih berkesempatan untuk berbalik arah. Kerugian yang terjadi itu hanya di atas kertas, selama investor belum merealisasikan kerugian tersebut dengan menjual sahamnya. 

Namun, ketika investor harus menjual saham yang turun dan dibeli dengan fasilitas margin, kerugian yang timbul merupakan hal yang pasti. Bijaklah berinvestasi!

Dibaca : 4564 kali
Baru dibaca Terpopuler