Senin, 20 Nopember 2017 | 10:58 WIB

Duet Bakrie – Samin Tan: Rancang Lagi Swap Raksasa?

Selasa, 23 April 2012 / columns / st05

R Indro Bagus Satrio Utomo*

Epic pertarungan salah satu anggota keluarga terkuat Eropa, Nathaniel Rothschild dengan Grup Bakrie sudah nyaris tak terdengar lagi. Belum lagi itu mereda, kini tersiar kabar Grup Bakrie dan Samin Tan kembali melakukan transaksi raksasa di PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Asmin Koalindo Tuhup. Transaksinya diperkirakan mencapai Rp27 triliun.

BRMS, anak usaha  PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berbisnis mengelola aset-aset tambang mineral dikabarkan akan ‘dipindahtangankan’ ke Borneo Bumi Energy & Metal Pte Ltd.  Sebagai gambaran, Borneo Bumi merupakan kongsi antara PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebesar 49% dengan PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN) sebesar 51%.

Sebagai kelanjutan transaksi itu, konon Samin Tan akan ‘memindahtangankan’ kepemilikannya di Asmin Koalindo. Asmin adalah perusahaan yang mengelola aset-aset tambang batubara milik grup Samin Tan melalui bendera BORN ke bawah bendera Bumi Plc, yang juga dimiliki Samin Tan melalui Bumi Borneo Resources Pte Ltd dan Borneo Bumi Energy & Metal Pte Ltd. 

“Kabarnya, mereka tengah mempersiapkan swap raksasa. Memindahkan aset BRMS ke bawah Borneo Bumi, lalu memindahkan aset Asmin Koalindo ke bawah Bumi Plc,” ujar seorang eksekutif di pasar modal. Eksekutif itu belum mendapatkan informasi detil mengenai rencana swap raksasa tersebut. 

Namun ia membisikkan, nilai transaksinya bisa mencapai Rp27 triliun. Angka itu dihitung dari nilai kepemilikan 87,1% saham BRMS oleh BUMI senilai Rp12,9 triliun dengan kepemilikan BORN di Asmin Koalindo senilai Rp14,6 triliun.

Jika skema ini benar adanya, maka kongsi grup Bakrie dengan Samin Tan akan mengelola Bumi Plc yang menguasai Bumi Resources (BUMI), Berau Coal Energy (BRAU) dan Asmin Koalindo. Sedangkan di Borneo Bumi, keduanya (Bakrie dan Samin Tan) akan mengelola bersama kepemilikan 87,1% saham BRMS.

Lumayan njelimet memang, karena transaksi ini akan melibatkan sejumlah nama perusahaan milik grup Bakrie dan Samin Tan. Dari segi struktur kepemilikan, akan terjadi perubahan yang cukup fundamental.

Di satu sisi, Bumi Plc yang merupakan kongsi bersama antara grup Bakrie, Recapital, Rothschild dan Samin Tan akan mengelola bersama aset-aset tambang batubara papan atas di Indonesia yakni BUMI, BRAU dan Asmin Koalindo.

Di sisi lain, kongsi grup Bakrie dan Samin Tan di Borneo Bumi akan mengelola bersama aset-aset tambang mineral mulai dari emas, tembaga, berlian dan sebagainya, yang dikelola dibawah bendera BRMS.

Untuk mempermudah pemahaman atas struktur transaksi ini, akan dijabarkan terlebih dahulu struktur grup Bumi Plc, baik sebelum maupun sesudah terjadinya perselisihan antara grup Bakrie dengan Rothschild.

Bagan di atas merupakan struktur kepemilikan saham dalam kongsi grup Bakrie dengan Rothschild pasca transaksi swap tahap I. Transaksi ini memindahkan kepemilikan saham BUMI dan BRAU di bawah bendera Bumi Plc, sebelum terjadinya perselisihan antara keduanya. 

Rencana semula, grup Bakrie akan melanjutkan transaksi swap tahap II, yaitu memindahkan kepemilikan 87,1% saham BRMS milik BUMI ke bawah Bumi Plc secara langsung seperti dalam bagan di bawah ini.

Namun rencana tersebut batal lantaran perselisihan antara grup Bakrie dengan Rothschild, membuat kongsi keduanya pecah. Seperti diketahui, Bakrie Brothers (BNBR) dan Long Haul Holding (LHH) menarik pinjaman sebesar  GBP1 miliar dengan menjaminkan 47,6% saham Bumi Plc milik grup Bakrie (BNBR dan Long Haul).

Pinjaman tersebut digalang Credit Suisse Singapura dari 10 kreditur dengan patokan harga gadai saham sebesar GBP8,5 per saham pada 2 Maret 2011. Artinya, harga saham Bumi Plc tidak boleh lebih rendah dari GBP8,5 per saham, agar pinjaman tersebut tidak masuk dalam situasi ‘default’.

Pada 3 Oktober 2011, harga saham Bumi Plc menyentuh level GBP8,45 atau lebih rendah GBP 0,05 dari batas bawah harga gadai saham. Malah pada 10 Oktober 2011, harga saham Bumi Plc menyentuh GBP7,2 per saham, lebih rendah 44,61% dari batas bawah harga gadai di level GBP8,5 per saham. 

Otomatis, pinjaman grup Bakrie menghadapi ancaman ‘default’. Terjadilah perundingan antara grup Bakrie, Credit Suisse dengan 10 kreditur. Hasil perundingan itu, sebanyak sembilan kreditur menyepakati pelunasan pinjaman grup Bakrie dengan dana, sedangkan hanya satu kreditur yang mendesak agar 47,6% saham Bumi Plc yang dijadikan jaminan pinjaman dieksekusi (dibayar dengan saham, bukan dana).  Konon, kreditur yang keukeuh menolak pelunasan dengan dana itu merupakan hedge fund milik keluarga Rothschild.

Melihat gelagat tidak baik dari Rothschild, grup Bakrie pun menuding Rothschild sengaja ‘menurunkan’ harga saham Bumi Plc untuk menekan harga saham Bumi Plc. Tujuannya, agar sembilan kreditur lainnya menyepakati pelunasan pinjaman grup Bakrie dengan eksekusi 47,6% saham Bumi Plc yang dijadikan jaminan.

Tak hanya itu, Rothschild pun berupaya keras ‘menggoyang’ Ari Saptari Hudaya dari kursi Direktur Utama Bumi Plc untuk menguasai manajemen Bumi Plc. Sayangnya, RUPS Bumi Plc menolak pelengseran Ari Saptari Hudaya seperti diajukan Rothschild.

Di tengah perselisihan tersebut, grup Bakrie kemudian merapat ke rekan lamanya, Samin Tan, pengusaha batubara papan atas pemilik PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN). Samin Tan adalah orang di balik akuisisi grup Bakrie kepada PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia di tahun 2004 senilai Rp10 triliun.

Samin Tan pun sepakat ikutan dalam skema ‘penyelamatan’ aset-aset tambang grup Bakrie dari upaya hostile takeover yang digalang Rothschild. Berandai-andai Rothschild memenangkan perseteruan dengan grup Bakrie, maka Rothschild melalui Bumi Plc akan menguasai aset-aset Bumi Resources (BUMI) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) secara penuh dari tangan grup Bakrie.

Sayangnya, upaya Rothschild mengambil alih 47,6% saham Bumi Plc milik grup Bakrie gagal total. Samin Tan melalui BORN sepakat mengucurkan dana USD1 miliar untuk menalangi utang grup Bakrie kepada Credit Suisse. BORN memperoleh pendanaan penuh dari Standard Chartered. 

 

Bagan di atas merupakan bentuk baru struktur kepemilikan grup Bumi Plc pasca perselisihan dengan Rothschild dan masuknya Samin Tan. Sebagai tahap awal kerjasama grup Bakrie dengan Samin Tan, didirikan dua perusahaan vehicle bernama Bumi Borneo Resources Pte Ltd dan Borneo Bumi Energy & Metal Pte Ltd. Grup Bakrie memiliki 51% saham, sedangkan Samin Tan memiliki 49% saham di Bumi Borneo. Sebaliknya, grup Bakrie memiliki 49% saham di Borneo Bumi, sedangkan Samin Tan memiliki 51% saham di Borneo Bumi.

Rupanya, kerjasama antara grup Bakrie dengan Samin Tan tidak berhenti sampai disitu. Seperti dikatakan sumber di atas, grup Bakrie dan Samin Tan tengah menggodok skema swap aset-aset batubara utama milik BORN (Samin Tan) di bawah bendera PT Asmin Koalindo Tuhup ke dalam struktur aset Bumi Plc. 

Di sisi lain, grup Bakrie akan memindahkan kepemilikan saham BRMS ke dalam struktur aset Borneo Bumi. Alih-alih memindahkan saham BRMS ke bawah Bumi Plc, seperti rencana semula, usai perselisihan grup Bakrie tampaknya memilih kerjasama dengan Samin Tan dalam mengelola aset-aset mineral milik BRMS.

 

Bagan di atas adalah perkiraan struktur aset-aset grup Bakrie di sektor batubara dan mineral setelah rampungnya transaksi swap BRMS dan Asmin Koalindo seperti yang diungkap sumber.

Usai transaksi ini, boleh dikatakan grup Bakrie akan memiliki jaringan bisnis batubara yang sangat besar di bawah bendera Bumi Plc. Sementara di sisi lain grup Bakrie juga akan mengelola tambang-tambang mineral yang tengah dikembangkannya di bawah bendera Borneo Bumi.

Dari sisi Samin Tan, keuntungan yang akan diterima adalah kepemilikan bersama aset-aset tambang batubara Berau Coal (BRAU), Bumi Resources (BUMI) dan Asmin Koalindo, serta kepemilikan bersama aset-aset tambang mineral yang dikelola BRMS.

Rothschild, yang gagal merebut tambang-tambang grup Bakrie pun langsung ‘berdamai’ dengan grup Bakrie. Mungkin anak dari keluarga bankir raksasa Eropa ini sadar bahwa menyetop kerjasama dengan grup Bakrie, sama saja kehilangan aset-aset tambang batubara dan mineral papan atas di Indonesia.

 

----------------------------------

*Penulis pernah bekerja sebagai jurnalis di pasar modal selama kurang lebih empat tahun di portal berita detik dan berprofesi sebagai corporate investigator selama enam  tahun. Sekarang dia memimpin Buzz Indonesia, sebuah perusahaan komunikasi digital. Di edisi ini, ia menulis pada rubrik Fundamental. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pialang Edisi Februari 2012.

Dibaca : 1826 kali
Baru dibaca Terpopuler