Rabu, 25 April 2018 | 04:01 WIB

History Repeat Itself ...

Selasa, 27 Maret 2012 / columns / st05

Muhamad Alfatih,CFTe*

Salah satu dasar teori Technical Analysis adalah prinsip “History repeat itself” yang berasal dari teori Dow. Teori yang berasal dari kompilasi editorial Charles H. Dow di koran Wallstreet ini menjadi dasar dari pendekatan chart pattern analysis.

Berdasarkan pendekatan chart pattern analysis, maka ditemukan bahwa terdapat pola-pola chart yang sering berulang dan akhirnya menjadi acuan dalam memperkirakan arah pasar selanjutnya. Bulkowski dalam bukunya “Encyclopedia of Chart Pattern” menuliskan lebih dari 60 pola grafik yang bisa menunjukkan kecenderungan arah harga bullish, bearish atau netral.

Studinya ini berdasarkan 38,500 contoh kasus dari 500 saham bursa di Amerika dengan data historis 1991-2004. Dan hasilnya selain mendukung pola-pola di buku klasik-nya Magee “Technical Analysis of Stock Trends” yang pertama kali ditulis di tahun 1940, juga menambah data statistik mengenai keberhasilan/kegagalan dari masing-masing pola chart tersebut.

Belakangan teori ini seolah mendapatkan dukungan ilmiah dari temuan kelompok behaviour finance, yaitu kelompok psikolog yang mempelajari perilaku manusia dibidang keuangan. Kelompok yang mendapat hadiah Nobel dibidang ekonomi pada tahun 2002 ini, menyimpulkan bahwa perilaku manusia dibidang keuangan seringkali berulang pada saat mendapatkan informasi atau stimulus yang serupa dan dapat diperkirakan. Faktor ini kelihatannya yang mengakibatkan munculnya pola-pola grafik yang mirip.

Salah satu pola yang barangkali banyak diingat kalangan pemodal di Bursa Efek Indonesia adalah pengaruh teror bom terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan, bahkan juga terjadi saat tragedi 911 dengan hancurnya World Trade Center di NY.

Ketika muncul berita buruk itu, maka indeks cendrung akan anjlok tajam akibat kepanikan para investor yang mengkhawatirkan pengaruh bom tersebut bagi keamanan investasi mereka. Namun, setelah investor memahami bahwa kecil sekali bahkan tidak ada pengaruh teror bom tersebut terhadap perkembangan ekonomi dan emiten di bursa, maka indeks kembali menguat.

Beberapa pola yang terkenal adalah Doble top/bottom, tripple top/bottom, head & shoulders, cup & handle, flag, triangle dll. Pola yang sifatnya continous (melanjutkan trend sebelumnya) adalah flag, pennant. Pola reversal termasuk Doble top/bottom, tripple top/bottom, head & shoulders, cup & handle. Sedangkan rectangle, triangle dan wedge punya dual fungsi, bisa reversal maupun continuous.

---------------------------------------------------

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa contoh pattern yang terkenal

---------------------------------------------------

Oleh karena banyaknya tipe chart pattern (lebih dari 60 jenis menurut Bulwosky), maka prinsip yang penting diketahui dalam mempelajari chart pattern ini adalah :

  1. Chart pattern terbentuk dalam pola non-trend setelah sebelumnya ada trend kuat (naik atau turun)
  2. Pahami betul dimana batas support dan resistance di masa non-trend ini, yang akan membentuk chart pattern
  3. Apakah akan menjadi Continuation atau reversal, bukanlah hal penting. Yang penting break outnya dimana, di resitancenya ataukah di supportnya? Break resistance (batas atas) akan menunjukkan arah trend selanjutnya adalah bullish. Sebaliknya, break bawah akan menjadi bearish.
  4. Setelah break (atas atau bawah), seringkali terjadi gerakan berbalik arah mendekati level yang baru di break, sebelum melanjutkan gerakan searah break out nya menuju target. Gerakan balik ini disebut pull back (kadang dipisah jadi pullback setelah break bawah dan throwback setelah break atas)
  5. Target kenaikan/penurunan dihitung sebesar ukuran pattern (jarak support-resistance), dihitung dari level break out. Misalnya pattern doble bottom berukuran Rp1200,- (jarak bottom ke peak diantara bottom itu, atau jarak support-resistance), dan break di Rp3700,- maka kemungkinan target kenaikan adalah 3700+1200 atau Rp4900,-. Angka target jangan dianggap satu titik, tapi satu level area +10% dari target.
  6. Setelah capai level target, maka harga akan fluktuasi dulu (bisa bentuk pattern baru) sebelum terlihat arah pergerakan harga selanjutnya.
  7. Pattern dianggap gagal, jika pullback terjadi berlebihan dan mendorong harga masuk kedalam pattern yang sebelumnya sudah ditinggalkan.
  8. Kadang-kadang, kita bisa melihat beberapa pola terjadi bersamaan, karena terlihatnya suatu pola juga dipengaruhi oleh persepsi psikologis si analis. Oleh karena itu, dalam menggunakan chart pattern, kita harus selalu siap dengan batas resiko.

---------------------------------------------------

 

Pola pergerakan S&P500 tahun 2009-2011 yang mirip dengan pola tahun 2005-2008. Apakah pergerakan “segitiga” yang sekarang sedang berlangsung akan mengalami nasib seperti akhir 2009 sampai awal 2009, atau akhir 2007-awal 2008? Setidaknya, keduanya mengindikasikan kenaikan terlebih dahulu.

---------------------------------------------------

Pola pergerakan IHSG selama 5 tahun terakhir. Kesempatan beli saat ini?

---------------------------------------------------

Pola pergerakan harga komoditas CPO serta prediksinya untuk tahun 2012-2013

---------------------------------------------------

Muhamad Alfatih, CFTe* (PT Samuel Sekuritas Indonesia - Mantan redaktur Majalah Pialang) *CFTe (Chartered Financial Technician) adalah gelar profesi yang dikeluarkan oleh International Federation of Technical Analysis (www.IFTA.org) dan ujiannya sudah bisa dilaksanakan di Indonesia. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pialang.

 

Dibaca : 1159 kali
Baru dibaca Terpopuler