Rabu, 21 Februari 2018 | 08:35 WIB

9 Strategi Trading di Tahun Naga

Sabtu, 25 Februari 2012 / columns
9 Strategi Trading di Tahun Naga

 

Suwono Kusuma

Dalam mitologi China, naga memiliki kaitan yang sangat erat dengan angka 9. Naga China memiliki karakteristik yang merupakan kombinasi dari 9 makhluk, seperti memiliki kepala seperti unta, atau tanduk seperti rusa. Nah, dalam mitologi yang sama pula, naga juga memiliki 9 anak dengan karakteristik yang berbeda-beda. Angka sembilan memang disukai warga china, apalagi tahun ini memang tahun naga air.

Tulisan ini tidak membahas soal naga, angka sembilan atau tahun baru Imlek yang baru saja dirayakan. Entah kenapa, dari catatan pengalaman saya banyak klien yang sudah sukses dan berpengalaman dalam memanfaatkan celah untuk mencari keuntungan dari Bursa Efek Indonesia. Setelah dikelompokkan, ada 9 strategi yang kerap mereka gunakan.

Ada yang setia hanya dengan satu atau dua cara, ada juga yang berpetualang dengan berbagai macam strategi. Seperti juga mereka, strategi yang anda pilih seyogyanya sesuai dengan tujuan investasi, keadaan keuangan. Termasuk horison waktu investasi, dan seberapa jauh toleransi anda menghadapi resiko.

Buy and hold. Biasanya digunakan oleh investor jangka panjang. Mereka beranggapan pasar modal dalam tren naik, dan juga saham yang mereka pegang adalah saham pilihan dengan fundamental yang bagus. Investor model ini harus siap memantau pergerakan sahamnya setiap kuartal, terutama mempelajari laporan keuangan, pertumbuhan laba, dividen, manajemen dan prospek ke depan. Bila ada data yang menurun dalam beberapa kuartal secara berurutan, maka saham tersebut tidak layak lagi dipertahankan dan gantilah dengan saham lain yang lebih baik. 

Bila harga saham naik dan sudah memberikan keuntungan potensial maka bisa saja anda menjual sebagian saham untuk menutup nilai investasi awal. Tujuannya, berjaga-jaga bila  harga saham  drop. Bila sudah menemukannya jangan ragu-ragu untuk mengoleksinya. Biasanya, saham-saham model ini bisa ditemukan di di dalam portofolio reksadana dan pengelola dana investasi, seperti saham BMRI, BBRI dan ASII .

Rupiah cost average. Adalah strategi investasi jangka panjang dimana anda menginvestasikan sejumlah uang ke saham atau reksadana pada interval waktu tertentu—misalnya bulanan, kuartalan, dan lain-lain. Strategi mengharuskan anda membeli saham tertentu dan rutin, tidak perduli apakah harga sahamnya sedang naik atau turun. Konsistensi jumlah dana dan waktu berinvestasi sangat menentukan kesuksesan strategi ini dalam upaya mengelola resiko.  Strategi ini umumnya digunakan oleh orang-orang yang berinvestasi reksadana dan unit link secara bulanan.

Beli dengan utang. Artinya, saham-saham milik dijaminkan kepada sekuritas tempat anda bermain saham untuk digunakan mendapatkan dana membeli saham lagi. Sekuritas akan memberikan pinjaman dengan memperhatikan jaminan cash atau saham kita tersebut. Fasilitas pembiayaan bagi investor ini dikenal dengan sebutan margin trading. Besarnya bunga margin saat ini bervariasi antara 16-18% per tahun. Contohnya, jumlah cash atau portofolio ada senilai  Rp.1 Miliar, maka dia bisa memperoleh fasilitas membeli saham hingga Rp.2 Miliar. Ada peraturan yang melekat pada fasilitas margin ini yang dikeluarkan regulator.

Keuntungan strategi membeli secara margin adalah leverage atau efek pengungkit. Dengan dana minim, bisa membeli saham yang nilainya nilai lebih besar. Bayangkan keuntungannya. Namun, fasilitas margin hanya cocok untuk investor dengan nyali risiko yang tinggi. Saya tidak menyarankan strategi ini, karena telah banyak menyaksikan sendiri betapa fasilitas ia  menghukum investor dengan kejam pada 2008.  Perlu dicatat, bila pasar sedang ambruk, penggunanya harus membayar bunga tinggi, dan rela melepas saham dengan murah, atau menambah cash dan saham jaminan (margin call).

Ikut pemain besar. Strategi bertransaksi ini jamak dilakukan, biasanya karena si trader malas berpikir dan merasa para pemain besar pasti lebih pintar dan cermat menganalisa pasar. Dan memang setiap pemain besar bisa ’menggoyang’ harga saham di pasar. Pada strategi ini disarankan trader mempelajari juga tren perilaku pemain besar dan selalu pasang telinga atas apa yang terjadi pada ’patron’ nya itu. Apakah mereka membeli dalam jumlah besar, disimpan berapa lama, dan apakah mereka membeli dan menjual di perusahaan sekuritas yang sama

Hit and run. Biasanya digunakan oleh trader dalam kondisi bursa yang kurang bagus. Strategi ini dilakukan memanfaatkan koreksi harga saham dan segera menjualnya kembali bila meskipun hanya naik tipis. Trader yang punya berkantong pas-pasan banyak menggunakan strategi ini agar modalnya dapat berputar dengan cepat  dan tidak mengendap terlalu lama.

Strategi short selling, efektif digunakan trader ketika tren bursa sedang turun. Cara kerja strategi ini adalah mengambil tindakan untuk menjual terlebih dulu saham yang dipegang, dan kemudian melakukan pembelian kembali di harga lebih bawah.  Risikonya, bila pasar berbalik arah maka anda bisa berpotensi kehilangan saham. Strategi beli dengan menimbun ini hampir sama dengan buy and hold, dan biasa dipakai investor berkantong tebal. 

Beli dengan cara menimbun. Prinsip kerjanya hampir sama dengan spekulan penimbun beras atau BBM bersubsidi. Bedanya menimbun saham itu legal. Ada contoh nyata yang menarik dari strategi ini. Adalah saham BSDE (PT. Bumi Serpong Damai Tbk) yang terus merosot hingga Rp.100 pada akhir 2008.  Namun, pada saat itu  ada investor yang justru senang dan terus menimbun saham ini. Uniknya, dia bukan seorang yang terlalu paham tentang valuasi atau nilai saham.  Dia hanya berpikir sederhana, bahwa kawasan BSDE adalah sebuah kota mandiri yang sedang maju sangat pesat. Sebagai kota, di sana apapun ada. Anda tahu berapa harganya sekarang? Dikisaran Rp1000.

Switching Strategy. Umumnya dipakai ketika koleksi saham mereka ternyata tidak naik dalam waktu yang sudah lama. Padahalan, ada saham unggulan lagi yang  menarik.  Maka yang dilakukan adalah mengganti saham-saham lama dengan saham-saham baru yang punya prospek lebih cerah.  Strategi ini butuh keberanian dan kejelian, biasanya saham lama yang diganti itu dalam posisi rugi sementara saham baru yang dibeli belum tentu lebih baik.

Beli lewat asing jual melalui lokal. Ini sering dipakai oleh pemain besar dengan ’memperdaya’ pemain ritel yang sering ikut-ikutan untuk mendapatkan keuntungan. Caranya, mereka menggunakan jasa beberapa sekuritas baik lokal maupun asing dalam bertransaksi yang umumnya dianggap sebagai market maker. Faktanya, memang bila asing banyak beli maka banyak follower terutama pemain saham ritel yang ikut membeli. Nah, giliran harga sudah naik mereka kemudian menjual stok sahamnya. Sialnya, banyak kasus menunjukkan karena berinvestasi tanpa ilmu, para pemain ritel baru sadar  ketika ketika harga sudah turun kembali. 

  1. Beli dan Simpan ( buy and hold)
  2. Beli setiap bulan dengan  rutin (rupiah cost aveage)
  3. Beli dengan hutang ( buying on margin)
  4. Ikut pemain besar (follow Big Player)
  5. Beli dan jual dalam waktu singkat (hit and run)
  6. Jual dulu baru beli kemudian (short selling)
  7. Beli dengan cara menimbun (buying by hoarding)
  8. Mengganti saham lama dengan saham baru (switching strategy)
  9. Beli lewat asing jual melalui lokal (buy through foreign, sell through local)

 

Dibaca : 1699 kali