Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:26 WIB

The Korean Invasion (1)

Demam Negeri Ginseng Di Industri Pasar Modal
Kamis, 20 September 2012 / columns / majalah pialang edisi 12

 

 
LUASNYA lebih kecil dari Pulau Jawa, namun kue ekonomi Negeri Ginseng jauh lebih besar dari Indonesia. Dari negara yang porak-poranda pasca perang saudara 1950-1953, Korea Selatan berhasil mengubah dirinya menjadi negara berperekonomian 13 besar dunia. Korea unggul dalam banyak hal; pembuatan kapal, semikonduktor, konstruksi, elektronika digital dan mobil. Pada tahun 2007, sebanyak 14 perusahaan asal negeri gingseng ini masuk dalam daftar Fortune Global 500. 
Korea adalah rumah bagi tujuh dari 10 pembuat kapal terbesar, dan di elektronik, Samsung Electronics adalah pemasok chip memori dan semiconductor terbesar dunia. Mungkin akan sulit untuk tidak menemukan produk mereka di rumah Anda. Dan sekarang, putra-putri Anda sedang ‘terjajah’ hobi musik dan sinetronnya oleh artis cantik dan ganteng yang lebih mirip boneka daripada manusia. Adalah K-Pop ala boy band dan girl band yang memang tengah digandrungi kawula muda.
Korea Selatan telah menginvansi lewat produk, jasa, teknologi, hingga tren mode dan musik. Tak hanya kepada Indonesia, tetapi dunia, karena mereka telah menjual dan membeli di lebih dari 220 negara. Di sektor riil itu sudah terjadi lebih dulu dengan banyaknya investor Korea yang membuka lapak usaha. Pada pertengahan tahun lalu, hanya Jepang negara di Asia—selain ASEAN—yang mengalahkan Korea dalam jumlah realisasi investasi langsung di Indonesia.
Sekarang, secara perlahan invasi itu merembes ke pasar modal. Ketertarikan perusahaan asal Korea berinvestasi di pasar modal Indonesia sebenarnya tidak terjadi dalam dua-tiga tahun belakangan. Anggota bursa PT Woori Korindo Securities Indonesia dan PT Kiwoom Securities Indonesia adalah sebagian dari wajah Korea Selatan di Bursa Efek Indonesia.
Mereka merupakan sebagian dari sekitar 26 sekuritas asing yang cukup aktif di BEI. Seiring kenaikan peringkat kredit Indonesia ke level negara layak investasi (investment grade), serbuan Korea ke pasar modal juga makin gencar. Fund-fund manager asal Korea masuk ke pasar modal Indonesia dengan mengakuisisi manajer-manajer investasi lokal. Salah satunya adalah Mirae Asset Global Investments Co yang membeli mayoritas saham PT NISP Asset Management.
Tak cukup sampai di situ, sebagai efek dominonya beberapa sekuritas lokal juga mulai terkena demam Korea. Salah satunya adalah PT Mandiri Sekuritas yang bekerja sama dengan perusahaan efek asal Korea Selatan, Daishin Securities dalam pengembangan mesin perdagangan saham lewat internet atau online trading. Untuk proyek ini Mandiri rela merogoh ko-cek hingga Rp25 miliar untuk pengembangan.
Direktur Head of Online Trading Mandiri Sekuritas, Ridwan Pranata mengakui ketertarikan Mandiri Sekuritas membenamkan teknologi online trading asal Korea karena kepincut cerita sukses sistem online trading dari PT E-Trading Securities cukup disukai oleh pasar. Itu terbukti dari nasabah retailnya yang sudah cukup besar. “Sehingga kita harus mengikuti sistem yang telah diterima oleh pasar,” ujar dia.
E-Trading Securities yang mulai beroperasi pada Januari 2003 ini fenomenal. Merekalah pioner sistem online trading di Pasar Modal Indonesia dan kini menjadi tren di industri ini. Posisi E-Trading mulai merangsek naik ke 10 besar broker dengan frekuensi transaksi paling banyak keenam pada 2007 dan menjadi nomor wahid sejak 2008 hingga sekarang. Tahun lalu, pangsa pasar mereka untuk frekuensi transaksi sebesar 10,37% jauh meninggalkan Indo Premier Securities yang 6,23%.
Lompatan ini terjadi pasca akusisi saham mayoritas E-Trading oleh perusahaan asal Korea, Daewoo Securities pada 2007. “Mereka sudah percaya dengan sistem online trading yang mereka miliki dan itulah yang mereka bawa kesini,” ujar Wakil Direktur Utama E-Trading Securities Arisandhi Indrodwisatio. Kini E-Trading yang baru belia dengan mudah mengalahkan para pemain lokal kawakan yang terlambat beradaptasi.
 
Dibaca : 1528 kali
Baru dibaca Terpopuler