Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:26 WIB

Berburu Investor Muda di Kota Gudeg

Berburu Investor Muda di Kota Gudeg
Rabu, 19 September 2012 / columns / heru setyaka ( majalah pialang edisi 10 )
Berburu Investor Muda di Kota Gudeg
Terkait :

 

Sejak akhir 2010 Dominicus Wahyu Budi Kristiawan, mahasiswa jurusan Manajemen Keuangan, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta telah membiasakan diri membaca berbagai artikel soal saham, obligasi atau apapun yang berbau pasar modal.

Dia melahap berita dari koran, majalah, siaran televisi sampai seminar-seminar soal investasi. “Sudah setahun ini belajar mengenai saham dan cara berinvestasi di pasar modal. Namun, saya baru mulai mempraktekkannya tiga bulan terakhir,” ujarnyasaat ditemui di Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW. Domi, bersama empat temannya sampai harus mengumpulkan modal secara patungan untuk mempraktekkan ilmu pasar modalnya. “Awal investasi, kami memilih investasi saham energi. Sayangnya, setelah beli harganya langsung anjlok. Maka, kami menunggu hingga harganya membaik,” jelasnya. Saat ini, Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW menawarkan program investasi hanya Rp 1 juta bagi mahasiswa UKDW. Pojok BEI ini bekerja sama degan Galeri Pasar Modal Reliance Securities.

Lain Domi, lain pula dengan Priscilla Raisa Susanti. Mahasiswa angkatan 2009 ini mengaku belum berani berinvestasi. Meski begitu, setahun belakangan dia selalu menyempatkan diri datang ke Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW. Dia mengaku berminat berinvestasi, tetapi sedang mengumpulkan uang. Priscilla mulai tertarik dengan pasar modal saat duduk di bangku semester dua ketika ada program Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) di Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW. “Susah-susah gampang ya. Tergantung seseorang menggali informasi. Makanya, sering ke sini untuk mengetahui pergerakannya,” paparnya. Program Pojok BEI memang berupaya menjemput investor baru terutama kalangan akademis. Tak hanya berbagi informasi, Pojok BEI mengakomodir praktik langsung investasi dengan modal awal yang kecil, sesuai kantong mahasiswa. Nilainya juga beragam, ada yang menetapkan minimal Rp 1 juta, ada yang Rp 2 juta.

Toh sekarang, dengan online trading banyak yang menawarkan pembukaan rekening antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Saat ini, Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW mempunyai 57 klien dengan omzet rata-rata Rp 400 juta perbulan. Jumlah pengunjung galeri ini sekitar 300 orang setiap bulan. “Awalnya jumlah yang ke sini lebih banyak. Sekarang, investor bisa membuka grafik, dan online trading di komputernya, asalkan terkoneksi dengan internet,” kata Kepala Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW, Ririn Safitri. Menurut Ririn, pengenalan sejak dini mengenai pasar modal sangatlah penting. Dengan begitu, masyarakat mengetahui manfaat dan resiko berinvestasi jangka panjang. Pojok BEI 3 in 1 Gallery UKDW membuat program pelatihan pasar modal dari tingkat basic, intermediate, dan advance. Berdasarkan catatannya, investor di Pojok BEI UKDW cenderung, karena lebih banyak memilih saham dibandingkan obligasi dan reksadana. “Saham lebih banyak memberikan keuntungan ya, meski resikonya juga besar. Tetapi untuk jangka panjang saham menjadi pilihan,”tutupnya.

Domi, dan Cilla merupakan sebagian kecil mahasiswa yang tertarik terjun ke pasar modal. Saat ini animo masyarakat Yogyakarta terhadap pasar modal cukup tinggi. Investor lain, Yohannes Tunjung yang mengaku sudah bermain saham sejak tahun 2006 menyarankan perlunya calon investor memahami profil sekuritas. Begitu pula pembelajaran berupa simulasi bermain saham. “Simulasi adalah cara yang tepat, bagaimana dia harus menguasai moment untuk berjualan, berinvestasi atau menarik dulu investasinya,” ungkap Tunjung. Baginya investasi di pasar modal tidaklah merugikan, karenanya saat mendengar ada investor yang mengalami rugi, dia bisa memprediksikan adanya kesalahan dari sang investor.

Ini pernah dialami oleh Bambang Widodo, pendiri Jogja Stock Club. Awal masuk berinvestasi dia sempat tertipu oleh broker yang tidak bertanggung jawab. Namun, kerugian yang dialami tidak membuat Bambang mengurungkan diri untuk masuk dan belajar lebih banyak soal pasar modal. Kerugian justru menjadi pemicu dirinya untuk belajar. Dia membeli banyak buku soal pasar modal, dan mempelajari teknikal dan fundamental saham. Kini Lewat lembaganya, Bambang mengajak masyarakat untuk belajar lebih detail soal pasar modal agar bisa berinvestasi dan tidak mengalami kerugian. Karena begitu rugi, maka kepercayaan masyarakat terhadap investasi model ini akan runtuh. “Seorang investor tentu saja harus memahami dan menganalisa secara teknikal dan fundamental. Kami mengajarkan calon investor untuk menguasai itu lewat Jogja Stock Club ini.”

Mendobrak Budaya

Mungkin inilah hubungan antara budaya dan bisnis. Di Jogjakarta, karakter warganya yang lebih santai dan kurang mempunyai jiwa risk taker rupanya turut mewarnai perkembangan bisnis pasar modal di sana. Namun itu dulu dan selalu saja ada cara untuk mengakali situasi itu terutama berkat program ‘jemput bola’ regulator dan sejumlah broker. Banyak sekuritas kini mulai menyingkir dari fenomena berburu ‘di kebun binatang’ dengan ‘senapan’ fee trading murah lewat perdagangan saham via internet atau online trading. Beberapa broker sengaja membuka kelas kursus pengenalan pasar modal. “Banyak anggota bursa (AB) yang membuka cabang di sini, karena membidik calon investor anak-anak muda atau mahasiswa,” kata Pimpinan cabang Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Yogyakarta, Irfan Noor Reza.

Status Yogyakarta sebagai kota pelajar cukup membantu. Irfan mengungkapkan, rata-rata latar belakang pendidikan yang lebih baik memudahkan program edukasi investasi di pasar modal. Meski sasarannya investor retail, AB juga tidak luput menyasar segmen premium dan korporasi. Hingga Oktober 2011, jumlah investor telah mencapai 3.792 dengan nilai transaksi setiap bulan di atas Rp 260 miliar. Angka ini naik signifikan meskipun PIPM Yogyakarta baru beroperasi awal 2010. “PIPM Yogyakarta, bersama sembilan sekuritas melakukan pameran di mal-mal, dan ternyata animo masyarakat cukup tinggi,” ujar Irfan “Banyak perusahaan sekuritas yang mampu menambah investor baru, meski tetap mengandalkan investor ritel.”

Branch Manager PT Mega Capital Indonesia (MCI) cabang Yogyakarta, Rika Meirawati mengaku, awalnya Mega Securitas lebih banyak membidik calon nasabah dari kalangan masyarakat umum. Tetapi melihat peluang yang cukup besar dari nasabah ritel dari kalangan kampus, membuat Rika berpikir untuk menyasar segmen tersebut. Apalagi untuk Yogyakarta, mayoritas masyarakat adalah dari dunia kampus. “Ternyata benar, segmen mahasiswa memberikan kontribusi signifikan. Terutama sisi target penambahan jumlah nasabah. Dari sisi nilai transaksi memang tidaklah besar,” kata Rika.

Rika optimistis mampu menyasar pasar Yogyakarta, karena dana yang dimiliki sebenarnya cukup tinggi, namun selama ini rata-rata masyarakat lebih memilh menaruhnya di bank. Cara ini memang tidak salah, hanya dibutuhkan strategi lain untuk memaksimalkan uangnya dengan berinvestasi. “Lihat saja, perbankan terus membuka cabangnya di sini (Yogyakarta, Red). Itu artinya, potensi dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat sangatlah besar,” tegas perempuan yang pernah bekerja di beberapa sekuritas ini.

Dibaca : 2981 kali
Baru dibaca Terpopuler