Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:28 WIB

Komunitas #TraderGathering

Rabu, 19 September 2012 / columns / kokolato

Pagi ini karena sesuatu hal iseng-iseng browsing ke web KSEI ( Kustodian Sentral Efek Indonesia www.ksei.co.id ) dan menemukan statistic yang cukup menarik. Statistik yang mungkin sudah menjadi rahasia umum, statistik yang mungkin pernah kita dengar ataupun baca di Koran maupun internet. Statistik mengenai jumlah investor di Indonesia. Ada yang tahu berapa persen jumlah penduduk Indonesia yang sudah melek pasar modal? Berapa persen jumlah penduduk Indonesia yang sudah berinvestasi di Bursa Efek Indonesia? Berapa persen jumlah penduduk Indonesia yang tercatat sebagai investor?? Ada yang bisa jawab??

Jika anda menjawab 10 juta investor, maka saya ucapkan SELAMAT!!!, anda masih salah..hehehe.

Data terakhir dari KSEI menyebutkan bahwa per Mei 2012 jumlah investor di Indonesia hanya sebanyak 363 ribu investor ( saya melihatnya dari sub rekening efek yg tercatat di C-BEST), atau hanya sekitar 0,14% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa. Menyedihkan memang jika melihat kenyataan tersebut, terlebih bagi kita-kita yang sudah mengenal apa itu pasar modal dan potensi financial yang ditawarkan. Lebih sedih lagi Apabila kita bandingkan angka tersebut dengan negara-negara tetangga kita, makin miris ngeliatnya. Kita sangat jauh tertinggal dalam hal jumlah investor saham dan persentase dari total populasi penduduk. Perbandingan total investor kita dengan jumlah penduduk sangat jauh tertinggal dari Singapura yang jumlah investornya mencapai 1,6 juta atau 30,5% dari total penduduk, dari Malaysia yang jumlah investornya mencapai 17,4% atau sekitar 5,1 juta investor, dari Hong Kong 1,13 juta (15,9%), Jepang 14,02 juta (11%), China 26,7 juta (2%), India 24 juta (2,02%), Thailand 2,4 juta (3,6%) dan bahkan Pakistan  5,2 juta (2,78%). Menyedihkan ketika melihat jumlah investor kita hanya mencapai angka ratusan ribu padahal sejak tahun 2009 BEI sudah menargetkan angka jutaan. Menyedihkan jika kita bandingkan dengan total penduduk Indonesia yang lebih dari 240 juta jiwa.

Hmm..bukan salah siapa-siapa juga sih, toh otoritas bursa juga dah berusaha secara maksimal untuk meningkatkan jumlah investor di Indonesia, sudah berupaya merangsang masyarakat untuk menekuni pasar modal sebagai media investasi yang menguntungkan, sudah mencoba berbagai cara untuk mengubah mindset penduduk Indonesia dari saving menjadi investing..kalo bukan salah siapa? Lalu apa yang salah? Di mana letak kesalahannya? Well, gak penting juga si bagi kita untuk mencari tahu letak kesalahannya, toh balik lagi bursa sudah menjalankan kewajibannya untuk mengedukasi masyarakat, sudah banyak program yang dijalankan oleh bursa. Sudah cukup sebenarnya, dan kewajiban untuk mengevaluasi semua program yang sudah dijalankan serta hasil yang diperoleh dari program tersebut adalah kewajiban otoritas bursa, bukan kewajiban kita.

Yang penting kita tahu usaha yang sudah bursa lakukan, kita tahu bahwa selama ini bursa telah menyelenggarakan berbagai macam program edukasi investor. Ada sekolah pasar modal (http://sekolahpasarmodal.idx.co.id), Lalu ada juga pojok BEI yang merupakan implementasi kerjasama 3 in 1 antara bursa, universitas dan  perusahaan sekuritas. Ada juga Pusat informasi Pasar Modal (PIPM) yang tersebar di banyak kota di Indonesia, dan terakhir bursa juga menyediakan akses informasi melalui pusat referensi pasar modal dengan membentuk satu institusi baru yakni PT Indonesian Capital Market Electronic Library (ICaMEL).. BEI juga memiliki berbagai program sosialisasi dan edukasi lainnya, di antaranya Temu Investor, Forum Calon Investor, Business Gathering, Investor Day dan Investor Summit. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua program yang sudah dijalankan oleh bursa tersebut efektif, tepat sasaran?? Jawaban apakah program tersebut efektif atau tidak, secara tidak langsung terlihat dari jumlah investor yang ada di Indonesia saat ini..hehe.

Beberapa program menurut saya agak kurang tepat pelaksanaannya. Sebagai contoh, sekolah pasar modal. Program ini tujuannya memang sangat baik yakni mencetak investor-investor baru yang handal serta menyebarluaskan pengetahuan dan informasi yang benar dan tepat tentang investasi saham. tetapi menurut saya hal tersebut kurang efektif, kenapa? Sekolah pasar modal dilaksanakan pada hari rabu dan kamis yang merupakan hari kerja. Hal tersebut secara tidak langsung membatasi pilihan investor dan calon investor yang masih berstatus karyawan, masih menjadi pegawai kantoran untuk mengikuti pelatihan yang ada di sekolah pasar modal tersebut. Pertanyaannya adalah, berapa besar investor di Indonesia yang menjadi full time trader/investor sehingga bisa mengikuti Sekolah Pasar Modal pada hari kerja?? Berapa besar trader/investor yang tertarik untuk mengikuti Sekolah Pasar Modal tetapi terpaksa mengurungkan niatnya karena pelaksanaannya pada hari kerja dimana mereka akhirnya terpaksa tidak mengikuti pelatihan tersebut Karena alasan pekerjaan???. Mungkin saya salah, tetapi saya yakin, Sekolah Pasar Modal akan lebih efektif, akan lebih bermanfaat jika diselenggarakan saat weekend. Memang, bursa juga sudah punya beberapa program yang diselenggarakan saat weekend, tetapi masih sangat kurang dalam hal frekuensi pelaksanaannya.

Kekurangan ini dengan baik diisi oleh sebagian orang yang kemudian menyelenggarakan training saham dengan berbagai bentuk dan kemasan. Dan bagai gayung bersambut, keberadaan training-training saham ini disambut dengan baik oleh masyarakat yang sangat haus akan ilmu terutama ilmu mengenai pasar modal, ilmu mengenai teknik trading dan investasi. Biaya bukan menjadi persoalan bagi mereka yang berniat mencari ilmu dan berkecukupan, karena mereka yakin bahwa biaya yang mereka keluarkan sesungguhnya bukan merupakan biaya, tetapi merupakan investasi yang hasilnya akan mereka nikmati kembali baik dalam bentuk kecerdasan maupun keuntungan financial. Invest your brain before invest your money, they said. Sayangnya, tidak semua investor punya dana lebih untuk bayar biaya training saham, jangankan untuk bayar training saham, untuk buka account aja pake batasan minimal.

#tradergathering muncul sebagai alternative tempat belajar mengenai saham ditengah “mahalnya” biaya training saham independent dan keterbatasan edukasi pasar modal yang dilakukan oleh bursa. #tradergathering merupakan sarana sharing ilmu mengenai pasar modal, teknik trading dan investasi dengan semangat berbagi dari trader, oleh trader dan untuk trader. Sarana untuk belajar bagi mereka yang terbatas dananya, maupun sarana untuk kopdar dengan komunitas pasar modal bagi mereka yang selama ini trading sendirian di tengah belantara bursa. Layaknya sebuah gathering, biaya yang muncul dalam gathering ditanggung bersama oleh peserta gathering, urunan. Biaya yang harus dikeluarkan oleh peserta #tradergathering hanyalah biaya untuk sewa tempat dan akomodasi baik snack maupun makan siang. Besarannya akan bervariasi tergantung dari tempat penyelenggaraan #tradergathering, bisa mahal bisa murah, kalau di hotel ya mahal, kalo di restoran biasa ya lebih murah. Di manapun #tradergathering dilaksanakan, isinya tetap sama, sharing dari seorang trader untuk trader lainnya. Trader yang sharing bisa jadi akan berbeda untuk  #tradergathering yang berbeda pula, tapi yang jelas siapapun yang sharing, kompetensi dan kualifikasinya tidak perlu diragukan lagi baik dari sisi pendidikan formal maupun pengalaman trading. Gratisan bukan berarti kualitasnya murahan, gratisan bukan berarti acaranya sembarangan. Pemateri dalam #tradergathering merupakan orang-orang yang selama ini sudah dikenal di komunitas pasar modal, baik lewat milist, twitter, facebook maupun media interaksi lainnya, sebut saja @bagusperdana_ @ariasantoso @vicella @desmondwira dan @hmin918. Mereka adalah beberapa trader yang pernah sharing mengenai teknik trading dan pengalaman trading mereka di #tradergathering, dan saya yakin sudah banyak yang tahu kualitas mereka.

 

#tradergathering bisa dibilang terinspirasi dari @akademiberbagi (http://akademiberbagi.org) sebuah gerakan sosial nirlaba yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya. Bentuknya adalah kelas-kelas pendek yang diajar oleh para ahli dan praktisi di bidangnya masing-masing. Kelasnya pun berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan ruang kelas yang disediakan oleh para donatur ruangan. Perbedaannya adalah #tradergathering hanya mengkhususkan berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai segala hal yang berkaitan dengan trading, investasi dan pasar modal, tidak seperti @akademiberbagi yang mempunyai berbagai macam topic yang berbeda. Kedua, #tradergathering tidak sepenuhnya free karena ada biaya patungan sewa tempat dan akomodasi makan dan snack, beda dengan @akademiberbagi yang sepenuhnya free karena ada donator ruangan dan tanpa akomodasi makan dan minum.

Seharusnya #tradergathering bisa free, seharusnya edukasi mengenai saham dan segala aktifitas yang berhubungan dengan trading / investasi menjadi tanggung jawab otoritas bursa dan para anggota bursa yang tergabung di dalamnya khususnya dalam hal biaya. Seharusnya, otoritas bursa lebih mendorong sekuritas-sekuritas anggota bursa untuk turut berperan aktif dalam mengedukasi para investor maupun calon investor. Meski selama ini hal tersebut juga sudah dijalankan, baik yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan bursa maupun independent di sekuritas masing-masing. Tapi balik lagi, seringkali, acara yang di laksanakan oleh BEI maupun sekuritas kurang efektif karena seringkali dilaksanakan pada hari dan jam kerja. Seharusnya otoritas bursa mendorong sekuritas-sekuritas untuk menjadi sponsor acara-acara independent seperti #tradergathering, dan agar acara-acara seperti #tradergathering bisa banyak diselenggarakan di daerah-daerah dan bukan Cuma di Jakarta saja. #tradergathering goes to campus, #tradergathering keliling nusantara misalnya..hehehehe.

Agar #tradergathering bisa bener-bener free, maka butuh dukungan banyak pihak terutama soal penyediaan tempat belajar. Bisa jadi ke depan, #tradergathering terbuka terhadap semua pihak yang mau turut serta memajukan pasar modal Indonesia dan mencerdaskan investor lokal. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah peserta #tradergathering mau bener-bener Free?? Karena ketika ada pihak yang mensponsori #tradergathering maka terbuka kemungkinan adanya promosi, adanya presentasi dari pihak yang member sponsor, bakal ada kesan jualan. Sebagian mungkin akan berkata OK aja gak masalah, tapi sebagian yang lain mungkin akan menolak kehadiran sponsor dan lebih rela patungan daripada ditawari macem-macem. Hehe..gak tau lah..ntar aja mikirinnya..apa perlu dibikin survey ya? Gratisan dengan sponsor atau patungan tanpa sponsor??

Apapun itu, gratisan atau patungan, ke depan, pengennya #tradergathering lebih teratur dan terencana dengan baik. Pengennya #tradergathering punya semacam kurikulum yang jelas, ada pembedaan kelas dari kelas pemula atau kelas basic, untuk orang yang baru terjun di dunia saham atau siapapun yang tertarik dengan dunia pasar modal, kelas intermediate untuk jenjang investor/trader yang lebih tinggi, hingga kelas advance. Pengennya #tradergathering bisa terjadwal dengan rapi, baik bulanan maupun tiga bulanan. Pengennya, bakal muncul #tradergathering di masing-masing daerah dengan pemateri dari daerah tersebut, #tradergatheringSBY untuk daerah Surabaya dan sekitarnya, #tradergatheringBALI untuk Bali #tradergatheringMDN untuk wilayah Medan dan sekitarnya dan daerah lainnya yang punya semangat berbagi yang sama, berbagi tanpa mengharapkan imbalan financial, siapa tahu #tradergathering bisa seperti @akademiberbagi yang punya banyak chapter di daerah..siapa tahu? ya nggak?

Mengutip John Lennon, you may say I am a dreamer, but I’m not the only one, and I hope someday you will join us. Join sebagai pemateri di #tradergathering.

#tradergathering Great community great sharing, and profit will come to us all.

Dibaca : 2608 kali
Baru dibaca Terpopuler