Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:27 WIB

Menyelami Trading Strategy

Jumat, 11 Mei 2012 / columns / majalah pialang
Menyelami Trading Strategy
Terkait :

Pardomuan Sihombing | Kepala Riset Recapital Securities

Dalam bertransaksi saham ada dua pendekatan strategi yang dapat dilakukan pelaku pasar, yaitu aktif strategi dan pasif strategi.  Aktif strategi menggunakan analisa teknikal dengan memanfaatkan fluktuasi harga saham dipasar. Fluktuasi harga yang dimanfaatkan pelaku pasar adalah price reversal. Sedangkan pasif strategi menggunakan analisa fundamental untuk menemukan nilai wajar saham dan menunggu hingga harga yang telah dinilai tercapai.

Kali ini kita akan mencoba membahas bagaimana melakukan aktif strategi atau yang sering dikatakan trading strategy. Sebelumnya sekilas dibahas mengenai price reversal. Apa yang dimaksud dengan istilah ini? Price reversal merupakan fenomena yang umum terjadi di pasar modal manapun termasuk di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena tersebut berpotensi menciptakan volatilitas harga yang tinggi sehingga menimbulkan resiko trading yang tinggi pula.
Namun jangan salah, resiko tidak melulu berdampak negatif.

Di balik itu, ada peluang besar yang menciptakan capital gain secara konsisten dan kontinu. Penelitian mendalam terkait fenomena ini ini menyatakan, price reversal berpotensi menghasilkan informasi trading atau investasi yang sangat penting, yaitu timing dalam melakukan aksi beli atau jual.  Timing aksi jual atau beli diperoleh melalui sinyal-sinyal pergerakan harga dan variabel trading lainnya yang terekam melalui probabilitas pembalikan (reversal) harga.


Dalam asumsi teknikal analisis, pergerakan harga saham sudah merefleksikan semua informasi yang masuk ke pasar baik informasi publik maupun private. Namun pada kenyataannya, harga saham kerap mengalami overvalued atau undervalued karena berbagai faktor, terutama uncertainty dalam bentuk value of market fluctuating.

Kondisi tersebut membuat harga pasar tidak mewakili nilai wajarnya (intrinsic value), atau dengan kata lain harga saham selalu dalam posisi mispricing. Harga saham yang mengalami mispricing tersebut akan mencari nilai wajarnya melalui proses koreksi harga sehingga menimbulkan price reversal berulang-ulang.

Fenomena umum ini membentuk pola yang konsisten sehingga menciptakan kesenjangan (gap) atau mismatch antara teori dengan fakta empiris.

Pengamatan price reversal karena koreksi harga yang mengalami mispricing di BEI ini memberikan gambaran umum (general pattern) bahwa aktivitas trading terutama periode intraday sering mengalami overreaction. Akibatnya, harga selalu mengalami overvalued dan undervalued.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat probabilitas price reversal pada periode intraday meliputi aktivitas intraday trading, faktor fundamental emiten dan persepsi pasar terhadap saham yang ditransaksikan. Di samping itu, informasi asimetrik dan tingkat efisiensi pasar yang berpotensi memberi pengaruh terhadap frekuensi price reversal. Namun dalam penelitian ini tidak dianalisis dengan mendalam.

Berdasarkan pengamatan deskriptif, saham-saham dari berbagai tick size yang berlaku di BEI menunjukan potensi probabilitas price reversal berkisar antara 7,7 - 24,3% pada periode per 15 menit. Pola tersebut menunjukan bahwa potensi price reversal cukup besar, dan menciptakan risiko perdagangan saham dalam jangka pendek.

Sedangkan frekuensi price reversal dalam satu hari perdagangan berkisar antara 6-14 kali, baik major maupun minor reversal. Dengan demikian, setiap saham rata-rata menciptakan 6-14 kali price reversal yang menawarkan potensi keuntungan cukup banyak.

Tingginya potensi price reversal ini sebenarnya dapat merugikan para traders yang melakukan transaksi dalam jangka intraday. Pasalnya, mereka kerap melakukan keluar-masuk pasar, sehingga menciptakan capital loss dan membengkaknya biaya transaksi.

Namun dibalik kendala tersebut, apabila para traders memiliki kemampuan mengantisipasi kenaikan dan penururunan harga dengan lebih baik, maka potensi capital gain yang diperoleh cukup besar. Apabila kita dapat mengantisipasi price reversal baik saat naik (up trend) sebagai peluang jual, maupun ketika menurun (down trend) sebagai saat membeli, maka dalam sehari dapat diperoleh berkali-kali capital gain. Hal ini memungkinkan seorang traders melakukannya tanpa modal sama sekali karena transaksi berlangsung pada hari yang sama.

Solusi Price Reversal

Bahasan selanjutnya berusaha memberikan solusi masalah price reversal dan mengubahnya menjadi peluang besar untuk mendapat keuntungan dalam aktivitas intraday trading maupun daily trading.

Analisis dan pemecahan masalah penelitian intraday trading dijelaskan untuk melihat hubungan antara price reversal dengan faktor fundamental dan persepsi pasar. Hal ini dijelaskan melalui mapping link yang mudah dipahami. Di BEI, terjadinya price reversal dinilai lebih dominan dibanding dengan price continuation, baik pada saat pasar buka (opening market) maupun pada saat tutup (market on close).

Sementara di New York Stock Exchange (AS) dan Tokyo Stock Exchange (Jepang) situasinya berbeda. Price continuation lebih kuat dibanding price reversal, khususnya pada saat pasar tutup.. Perbedaan ini disebabkan struktur market itu sendiri. Struktur market di BEI menggunakan continous auction method (sepanjang hari bursa). Dengan tidak adanya market maker (dealers) ataupun specialist, membuat volatilitas imbal hasil open-to-open lebih tinggi dibandingkan volatilitas imbal hasil close-to-close.

Sedangkan di NYSE dan TSE, pada open market digunakan call auction method melalui dealer/market maker, dan selanjutnya mengunakan continous auction method sampai penutupan pasar (O’Hara, 2005).

Proses overreaction dan price reversal ditinjau dari teori market microstructure disebabkan pengaruh order flow yang membawa komponen informasi baru sehingga berpotensi menggerakkan harga karena efek imbalance order.

Selain itu, perilaku volatilitas harga terkait frekuensi price reversal, dipengaruhi tingkat efisiensi pasar modal. Semakin kuat efisiensi suatu pasar modal, price continuation lebih mendominasi dibanding price reversal, baik indeks pasar, portofolio maupun saham individual, khususnya menjelang penutupan pasar (market on close).

Di samping pengaruh variabel, price reversal dapat disebabkan perilaku (behavior) pelaku pasar sendiri khususnya para traders. Namun hal tersebut merupakan faktor yang sulit diukur. Salah satu artikel yang membahas unsur perilaku bertransaksi dalam aktivitas trading adalah Black (1986) yang menyatakan bahwa noise dapat menyebabkan pasar tidak efisien karena trading dilakukan secara not information based. Noise dalam bentuk ekspektasi juga tidak mengikuti rational rules seperti informasi makroekonomi.

Namun di sisi lain, noise trading merupakan esensi dari likuiditas pasar. Sedangkan menurut Jorion (2003), pembalikan harga merupakan peristiwa yang tergolong sering (frequently) terjadi dalam aktivitas perdagangan saham, sehingga berpotensi meningkatkan risiko (investment risk) pasar.

Fenomena ini juga merupakan peluang meraup keuntungan bagi sebagian traders yang melakukan transaksi spekulatif. Tingginya probabilitas price reversal ini menyebabkan tingkat kesulitan dalam memprediksi arah pasar meningkat, sehingga akan meningkatkan potensi kerugian pada setiap transaksi (risk level) pelaku pasar.

Kejadian pembalikan harga yang menjadi perhatian trader adalah perilaku volatilitas harga pada periode intraday yaitu sering terjadi peningkatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai beberapa poin kemudian berbalik arah (reversal) mengalami penurunan sampai belasan poin.

Kemudian indeks naik kembali sekitar 5-10 poin dan berfluktuasi dalam besaran poin yang relatif rendah, kemudian meningkat kembali dengan signifikan, lalu turun kembali (Lihat Gambar 1).

Pada Gambar 1 ditunjukkan beberapa fenomena price reversal (IHSG) yang relatif tinggi baik frekuensinya maupun besaran poinnya.

Fenomena ini terjadi dalam beberapa jam saja dalam satu hari bursa yang disertai frekuensi pembalikan indeks yang relatif tinggi. Di samping itu, volume perdagangan juga berfluktuatif cukup tinggi sehingga menciptakan likuiditas pasar sekaligus meningkatkan risiko investasi.

Dalam situasi seperti itu, kondisi pasar dapat dikategorikan tidak kondusif untuk melakukan trading maupun investasi jangka pendek (short-term investment), karena arah trend pasar intraday yang berubah-ubah dengan cepat. 

Namun bagi traders yang sering melakukan jual-beli saham secara spekulatif dalam waktu singkat (hourly) pada hari yang sama (intraday trading), situasi pasar yang fluktuatif dengan besaran poin yang tinggi merupakan peluang mendapatkan gain meskipun sangat tinggi risikonya. 

Dibaca : 2104 kali
Baru dibaca Terpopuler