Minggu, 19 Nopember 2017 | 17:25 WIB

Cara Sehat dan Aman Memilih Saham

Jumat, 04 Mei 2012 / columns / majalah pialang

Suwono Kusuma

Investor saham terkaya di dunia, Warren Buffet,  punya prinsip tentang bisnis yang boleh atau tidak boleh dibeli.  “Invest in only what you can understand and analyze,” kata dia.  

Artinya, Anda sebagai investor harus mencari bisnis yang dapat Anda mengerti dan bisa dianalisis.  Kalaupun belum mengerti, setidaknya Anda tertarik dan mau belajar cara-cara menganalisisnya.  

Lihatlah saham pilihan sang maestro:  The Coca Cola Company. Buffet menuturkan membeli Coca Cola  karena logika sederhana. Perusahaan itu tetap eksis sejak Buffet kecil  berjualan minuman ringan tersebut.

Lalu mulailah dia menghitung-hitung secara sederhana berapa tingkat konsumsi kola di Amerika dan berapa kira-kira komsumsi  produk itu di seluruh dunia.  Kemudian dia bandingkan dengan harga sahamnya saat itu.  

Saham yang dibelinya memang tidak langsung naik. Tapi dia secara konsisten membeli saham itu, karena yakin bisnisnya sederhana, dapat dimengerti. Dan, menurut analisis Buffet, harga saham masih jauh di bawah nilai sebenarnya.

Memiliki saham dari perusahaan yang riwayat operasionalnya konsisten berarti kita membeli perusahaan yang sudah lama beroperasi dan terbukti berhasil membukukan keuntungan secara konsisten. Perusahaan seperti ini biasanya adalah perusahaan besar dan sudah dikenal luas.

Kalau di Indonesia, Anda dapat menyebut nama PT Astra Internasional Tbk,  PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT HM Sampoerna Tbk dan lainnya. Mereka telah melewati masa-masa sulit (krisis) dan terasah untuk bertahan dengan berbagai strategi. 

Ketika membeli saham, Anda lebih baik bertanya apakah masa depan dari perusahaan ini masih prospektif?  Sederhananya, apakah produknya masih disukai konsumen? Apakah pertumbuhan tingkat penjualannya masih tinggi?  Lalu bagaimana kapasitas pabriknya, apakah masih bisa ditingkatkan?   Apabila jawabannya Ya, maka dapat dipastikan saham tersebut  memiliki prospek sangat cerah.

Faktor manajemen perusahaan juga perlu dipertimbangkan.  Apakah manajemennya memiliki integritas, kecerdasan, dan energi untuk mengelola perusahaan?  Integritas adalah hal yang paling penting, karena tanpa integritas, kecerdasan, dan energi menjadi tidak berguna.  Hindari juga perusahaan dengan hutang sangat besar, perusahaan ini umumnya agak susah bergerak maju.

Seorang investor membeli saham perusahaan berarti  dia melihat prospek bagus dari perusahaan  tersebut dan berharap harga sahamnya akan naik di masa depan.  Berikut pedoman umum yang digunakan investor ahli untuk memilih saham:

         o Prioritaskan investasi pada perusahaan yang bidang usahanya Anda pahami.  Ini penting sekali karena akan membuat Anda merasa lebih tenang dan nyaman walaupun harga sahamnya turun naik. Jangan pernah membeli perusahaan yang bidang usahanya dan lokasi pabriknya saja Anda tidak tahu.  Itu sama saja Anda sedang berjudi.

         o Perusahaan yang membukukan keuntungan cenderung akan membagikan dividen.  Jadi investor bisa menikmati capital gain (selisih jual-beli) dan dividen.  Investor dapat mengukur besaran dividen yang dibagikan terhadap nilai investasinya.  Alat ukurnya adalah dividen yield, yaitu nilai dividen per saham dibagi harga pasar dari sahamnya. Misalkan, suatu perusahaan membagian dividen Rp 50 per lembar saham sementara harga saham di pasar adalah Rp 1.000. Artinya, imbal hasil dividennya 5%.  Semakin besar dividen yield, kian besar keuntungan yang dinikmati investor.

         o Perusahaan yang tingkat penjualannya dan labanya tumbuh dari tahun ke tahun.  Perhatikan laporan keuangan perusahaan, apakah laba diperoleh dari hasil operasional atau karena hal lain seperti
penjualan asset dan lain-lain.  Perusahaan yang memperoleh laba bukan dari operasional itu kurang baik.

         o Perusahaan dikelola secara profesional dan transparan. Yakni, perusahaan yang dikelola oleh tim manajemen yang profesional dengan tingkat integritas yang tinggi.  Investor juga harus mudah mengakses informasi seputar laporan keuangan dan lain-lain.

         o Price to Earning Rationya (PER ) rendah. PER diartikan sebagai suatu rasio yang menggambarkan bagaimana keuntungan perusahaan atau emiten saham (company's earnings) terhadap harga sahamnya (stock price).  Bandingkan dengan PER perusahaan sejenis lainnya yang masih dalam satu industri.

         o Return on Asset (ROA) tinggi.  Biasanya digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan suatu perusahaan mencetak laba bersih dengan nilai asset yang dimilikinya.  Semakin besar ROA semakin handal emiten mencetak laba.  

 
         o Price to Book Value (PBV) rendah.  Semakin rendah nilai P/BV suatu saham maka saham tersebut dikategorikan undervalued, yang berarti sangat baik untuk investasi jangka panjang.

         o Debt to Equity (DER) rendah.  Investor cenderung menghindari perusahaan yang memiliki rasio hutang yang terlalu besar. Itu karena biasanya perusahaan akan sulit mencetak keuntungan yang luar biasa karena setidaknya hasil operasional harus dibagi untuk membayar bunga hutang.  Perusahaan juga terbebani banyak syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh kreditor.

         o Jumlah saham yang beredar.  Biasanya investor lebih memilih perusahaan dengan jumlah saham beredar lebih sedikit karena harganya akan lebih cepat naik. Logikanya, jumlah uang yang dibutuhkan agar saham tersebut naik jauh lebih sedikit dibandingkan dengan perusahaan yang jumlah saham beredarnya  banyak. Di bursa ada “ saham sejuta investor”, ini biasanya sebutan untuk perusahaan yang
jumlah sahamnya terlalu banyak.

         o Bagi Investor yang menggunakan pendekatan teknikal, dia akan membeli saham kalau sudah berada atau mendekati level support dan akan menjual ketika mendekati level resistence.

------------


Fakta :  Banyak investor yang “main saham” asal beli, tanpa mengetahui informasi dan data-data dari saham yang dibelinya. Pantas saja mereka sering mengeluh rugi.

-------------

Dengan berpegang pada kriteria-kriteria di atas, Anda sudah dapat menentukan saham-saham incaran. Dengan memiliki saham-saham incaran, Anda punya strategi dan mata Anda bergerak memperhatikan saham-saham tersebut.  

Hingga pada satu titik di mana akhirnya memutuskan membeli. Sama seperti memilih pasangan hidup, ketika sudah menemukan calon yang memenuhi kriteria Anda, tentu selanjutkan Anda tetapkan langkah dan strategi untuk mengejarnya.

Tanpa memiliki incaran, Anda akan seperti orang yang tidak punya tujuan, dan gampang terbujuk atau tersesat dengan pergerakan harga saham. Tidak ada satu perusahaan atau saham yang dapat memenuhi semua kriteria di atas, tapi kalau memilih saham berdasarkan salah satu atau beberapa kriteria tersebut, berarti Anda sudah mengambil keputusan benar.

Mungkin saja yang menjadi pertimbangan investor bukan hanya PER yang rendah saja, bisa jadi ada pertimbangan lainnya, misalnya faktor dividen atau aksi perusahaan.  Karena biasanya barang bagus, PER nya juga tinggi.

Misalnya :  Saham PT Unilever Tbk (UNVR) kalau dilihat dari  PER, harganya sudah tinggi jika dibandingkan dengan saham sektor konsumsi lainnya.  Namun, trader yang membeli saham UNVR berpendapat lain karena hampir setiap rumah di seluruh Indonesia menggunakan salah satu produknya.

Pertimbangkan ini saat membeli saham:

   * Apakah bisnis dari perusahaan itu sederhana dan dapat dimengerti  ?
   * Apakah bisnisnya memiliki riwayat operasional yang konsisten?
   * Apakah bisnis memiliki prospek jangka panjang yang baik ?
   * Apakah manajemen bisnis itu rasional ?
   * Apakah manajemen terbuka dengan pemegang saham ?
   * Apakah perusahaan memiliki kemampuan financial yang kokoh ?
   * Berapa tingkat pengembalian modal (return on equity) dari bisnis ?
   * Carilah perusahaan dengan tingkat margin profit yang tinggi.

 

------------------------------

Suwono Kusuma memulai karir di pasar sejak 1997 mulai dari sales, dealer , floor trader dan floor trading manager di sekuritas lokal dan asing.  Ketika krisis 1998 Suwono sudah bekerja sebagai seorang pialang, dan menyaksikan IHSG jatuh sampai di level dibawah 400. Kini dia bekerja di Woori Kurindo Securities. Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi

 

Dibaca : 1746 kali
Baru dibaca Terpopuler