Minggu, 18 Februari 2018 | 02:48 WIB

8 Etos Kerja Profesional

Senin, 05 Maret 2012 / columns

 

Jansen Sinamo

Menuruf Profesor Michio Kaku, dunia sedang memasuki peradaban planeter yang semakin dicirikan oleh dominasi nalar dan sains, Web dan Internet, teknologi nano, kecerdasan buatan, komputasi masif, serta energi terbarukan dari samudera, angkasa, dan fusi hidrogen.

Tetapi musuh bersama kita tetap saja sama: warisan primitif homo sapiens terutama rasisme, fundamentalisme, immoralisme, dan barbarisme. Agar bangsa dan organisasi kita semakin mampu berkiprah positif dalam peradaban planeter ini, maka 8 Etos Kerja Profesional semakin mendesak untuk dikembangkan.

Etos 1: Kerja adalah Rahmat; Aku bekerja tulus penuh kebersyukuran. Rahmat (berkah, anugerah, kasih karunia) adalah pemberian baik yang kita terima bukan karena jasa atau perbuatan kita, melainkan kebaikan sang pemberi.

Jadi, respons yang tepat hanyalah bersyukur dan berterima kasih. Jadi, bekerja harus ceria, gembira, dan penuh sukacita. Bekerja tidak boleh bersungut-sungut, mengeluh, dan mengaduh. Bekerja adalah wujud terima kasih kita kepada Tuhan, negara, dan pemilik perusahaan yang telah membuka lapangan kerja.

Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku bekerja benar penuh tanggung jawab. Amanah wajib dipertanggung-jawabkan. Pemilik perusahaan menitipkan bisnis, manajemen mempercayakan tugas-tugas, pelanggan mengandalkan pasokan, dan pemasok mempercayakan produk.

Ada yang menerima pekerjaannya sebagai amanah langsung dari negara, bangsa, bahkan Tuhan. Banyak kebutuhan pihak lain dipercayakan pada kita. Kita dituntut bertanggung jawab.

Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku bekerja tuntas penuh integritas. Kerja adalah panggilan Tuhan atau seruan idealisme yang mengandung kebenaran, keadilan, dan keluhuran. Pekerjaan kita terkait langsung dengan kemanusiaan, kesejahteraan masyarakat, keadilan sosial, kedaulatan rakyat, dan demokrasi.

Dengan etos panggilan maka terbitlah perasaan benar di hati kita untuk melakukannya dengan benar pula. Kesadaran ini menciptakan rasa percaya diri dan motivasi yang kuat.

Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku bekerja keras penuh semangat. Aktualisasi adalah proses membuat potensi menjadi aktual. Manusia, ibarat perut bumi, mengandung potensi bio-psiko-rohani yang luar biasa. Anthony Robbins menyebutnya the sleeping giant, sedangkan Denis Waitley menyebutnya seed of greatness. Dan ia menunggu untuk dikembangkan.

Aktualisasi mengubah inner potential menjadi personal power: kompetensi, keahlian, dan pengetahuan yang efektif  yang semakin tajam apabila kita bekerja konsisten dari hari ke hari. Inilah basis produktivitas.

Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku bekerja serius penuh kecintaan. Manusia beribadah di dua tempat: di rumah peribadatan dan kedua, di tempat kerja. Bentuk ibadah pertama adalah ritual pemujaan dan pemujian, sedangkan yang kedua: olah kerja yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Semua agama mengajarkan agar kita berbuat kebaikan sebesar-besarnya dan menjauhi kemungkaran sebisa-bisanya. Mengabdi pada Yang Maha Mulia membuat kita menerima kekuatan dari keagungan itu sehingga kita ikhlas mendedikasikan diri bagi nilai-nilai luhur pekerjaan kita.

Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku bekerja cerdas penuh kreativitas. Apa pun yang kita kerjakan, pasti mengandung unsur-unsur keindahan, keteraturan, harmoni, estetika, dan simetri. Artinya bekerja, sebagian atau seluruhnya, adalah aktivitas berkesenian.

Maka kerja adalah aktivitas artistik yang mendatangkan sukacita dari aktivitas kreatif, eksploratif, dan interaktif. Pada saat yang sama sukacita memperkuat vitalitas kita, yaitu semangat kerja yang berkobar-kobar dan jiwa berkarya yang berkibar-kibar.

Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku bekerja tekun penuh keunggulan. Ini berarti kita memperoleh apresiasi, martabat, dan marwah dari pekerjaan kita. Maka respons yang tepat adalah menjaga kehormatan itu dengan bekerja sebaik-baiknya, penuh ketekunan dan keunggulan, sehingga menampilkan mutu setinggi-tingginya, dan dengan begitu pemberi kehormatan merasa dihormati karena hasil pekerjaan kita.  Inilah inti budaya unggul yang berarti the best of its kind, superior, and excellent.

Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku bekerja paripurna penuh kerendahan hati. Semua pekerjaan adalah sebentuk pelayanan, yakni memberi nilai tambah bagi konstituen kita sekaligus meneguhkan eksistensi pekerjaan tersebut. Nilai tambah ini disajikan bagi pelanggan fungsional dan organik yang memungkinkan mereka hidup lebih mudah, lebih sejahtera dan makmur.

Di pihak lain pekerjaan harus kita muliakan agar dengan bekerja kita pun menjadi insan mulia. Ciri utama kemuliaan ialah altruisme, yang berarti tidak mementingkan diri sendiri, yakni melayani dengan ikhlas.

--------------------------------------------------------------------

 

Jansen Sinamo yang dijuluki Mr. Ethos Indonesia adalah penulis beberapa buku babon tentang etos kerja profesional. Dia dapat dihubungi di email: guruethos@gmail.com, dan www.8etos.com. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pialang Edisi Februari 2012.

Dibaca : 1261 kali
Baru dibaca Terpopuler