Kamis, 24 Mei 2018 | 16:48 WIB

Ini Kunci Keuletan dan Keberlanjutan Bisnis Startup

loading...JAKARTA - Perubahan besar sedang terjadi dalam lanskap bisnis dewasa ini. Kalau dulu perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh di dunia dikuasai oleh sektor-sektor industri pertambangan, energi, perbankan dan sejenisnya, kini dan lima tahun terakhir beralih ke perusahaan-perusahaan digital."15 tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan besar di Amerika dikuasai oleh sektor kalau tidak minyak, retailer besar dan bank. Lima tahun yang lalu sampai sekarang, lima besar perusahaan terbesar itu digital, ada Apple, Google, Alphabet, Amazon, Facebook, Microsoft. 20 orang terkaya di Amerika, tujuh di antaranya datang dari perusahaan digital," ungkap Andy Zain, managing director Kejora Ventures di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Sabtu (5/5/2018).Semua perusahaan besar digital tersebut tidak muncul dan sukses dengan jalan yang mudah. Semua menghadapi jatuh bangun. Dan umumnya para pendirinya tidak dibekali pendidikan khusus yang terprogram sejak awal, untuk membangun seperti apa yang sudah besar dan sedang mereka jalankan sekarang ini.Ini disebabkan karena ekosistem digital tidak muncul begitu saja dengan mudah. Dunia kewirausahaan seperti menghadapi tantangan besar dengan fenomena digitalisasi, sehingga banyak orang seperti berjalan dalam kegelapan meraba-raba, demikian ungkap Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi (SBE) Universitas Prasetiya Mulya, Agus Soehadi."Dari pertemuan dengan dekan-dekan sekolah bisnis di Asia Pasifik, ada arus kuat bahwa sekolah-sekolah bisnis yang dulu berorientasi pada profesional kini bergeser ke arah entrepreneurship. Sayangnya, pendidikan kewirausahaan sekarang ini belum bisa dikatakan well-established," katanya.Alhasil, kata dia, seperti sekarang ini, kita seperti gamang menghadapi arus digitalisasi bisnis yang tak bisa dibendung oleh siapa pun. Dalam situasi yang serba kompleks ini kita membutuhkan mentor dan ekosistem yang mendukung semua pihak.Untuk itulah, menurut Agus, program New Ventures Innovation (NVI) Prasetiya Mulya menjadi penting dibangun. "Gambarannya tanpa pendidikan yang terstruktur yang dirancang untuk para startup, jatuhnya berkali-kali. Dengan pendidikan yang terstruktur, diharap jatuhnya beberapa kali saja dan cepat bangun," pungkas Agus.Deputi Infastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Sungkari mengungkapkan, pentingnya ekosistem yang mendukung untuk dapat melahirkan banyak startup di Indonesia."Bicara soal startup, kita sebagai pemerintah bertugas untuk membangun ekosistemnya, di antaranya dengan infrastruktur yang baik. Oleh karena itu apa yang dibuat di sini dengan Innovation Hub itu sangat berarti. Saya harap ukuran Innovation Hub bukan bentuk fisiknya, tapi berapa talenta dan berapa banyak mentornya," kata Hari. Menurut Hari, startup mau datang ke Innovation Hub karena mereka membutuhkan para mentor. Para mentor itu bisa berperan sebagai macam-macam, bisa menghubungkan para startup dengan pasar, dengan visi bisnis, dengan investor malaikat dan lain-lain. "Saya berharap dengan jaringan alumni Prasetiya Mulya yang besar, ekosistem ini bisa dibangun, apalagi dengan para mentor yang memang sudah punya pengalaman membangun bisnis yang besar," ungkapnya dihadiri para praktisi startup yang bergerak antara lain di bidang keuangan (fintech), data besar (big data), dan distribusi.Agus menambahkan, fasilitas Innovation Hub adalah wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur. Fasilitas Innovation Hub ditujukan sebagai wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur, diantaranya founders digital start-ups, venture capitalists, perusahaan pendukung digital startup (IT companies, Business Coaches, Financial Institutions), pemerintah, profesional perusahaan, dan komunitas.Menurut Direktur Program MM Universitas Prasetiya Mulya, Indria Handoko, program NVI dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis startup secara eksponensial (scale up). Let's block ads! (Why?)
Sabtu, 05 Mei 2018 / rss idsatu.com
Ini Kunci Keuletan dan Keberlanjutan Bisnis Startup
loading...JAKARTA - Perubahan besar sedang terjadi dalam lanskap bisnis dewasa ini. Kalau dulu perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh di dunia dikuasai oleh sektor-sektor industri pertambangan, energi, perbankan dan sejenisnya, kini dan lima tahun terakhir beralih ke perusahaan-perusahaan digital."15 tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan besar di Amerika dikuasai oleh sektor kalau tidak minyak, retailer besar dan bank. Lima tahun yang lalu sampai sekarang, lima besar perusahaan terbesar itu digital, ada Apple, Google, Alphabet, Amazon, Facebook, Microsoft. 20 orang terkaya di Amerika, tujuh di antaranya datang dari perusahaan digital," ungkap Andy Zain, managing director Kejora Ventures di Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Sabtu (5/5/2018).Semua perusahaan besar digital tersebut tidak muncul dan sukses dengan jalan yang mudah. Semua menghadapi jatuh bangun. Dan umumnya para pendirinya tidak dibekali pendidikan khusus yang terprogram sejak awal, untuk membangun seperti apa yang sudah besar dan sedang mereka jalankan sekarang ini.Ini disebabkan karena ekosistem digital tidak muncul begitu saja dengan mudah. Dunia kewirausahaan seperti menghadapi tantangan besar dengan fenomena digitalisasi, sehingga banyak orang seperti berjalan dalam kegelapan meraba-raba, demikian ungkap Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi (SBE) Universitas Prasetiya Mulya, Agus Soehadi."Dari pertemuan dengan dekan-dekan sekolah bisnis di Asia Pasifik, ada arus kuat bahwa sekolah-sekolah bisnis yang dulu berorientasi pada profesional kini bergeser ke arah entrepreneurship. Sayangnya, pendidikan kewirausahaan sekarang ini belum bisa dikatakan well-established," katanya.Alhasil, kata dia, seperti sekarang ini, kita seperti gamang menghadapi arus digitalisasi bisnis yang tak bisa dibendung oleh siapa pun. Dalam situasi yang serba kompleks ini kita membutuhkan mentor dan ekosistem yang mendukung semua pihak.Untuk itulah, menurut Agus, program New Ventures Innovation (NVI) Prasetiya Mulya menjadi penting dibangun. "Gambarannya tanpa pendidikan yang terstruktur yang dirancang untuk para startup, jatuhnya berkali-kali. Dengan pendidikan yang terstruktur, diharap jatuhnya beberapa kali saja dan cepat bangun," pungkas Agus.Deputi Infastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Sungkari mengungkapkan, pentingnya ekosistem yang mendukung untuk dapat melahirkan banyak startup di Indonesia."Bicara soal startup, kita sebagai pemerintah bertugas untuk membangun ekosistemnya, di antaranya dengan infrastruktur yang baik. Oleh karena itu apa yang dibuat di sini dengan Innovation Hub itu sangat berarti. Saya harap ukuran Innovation Hub bukan bentuk fisiknya, tapi berapa talenta dan berapa banyak mentornya," kata Hari. Menurut Hari, startup mau datang ke Innovation Hub karena mereka membutuhkan para mentor. Para mentor itu bisa berperan sebagai macam-macam, bisa menghubungkan para startup dengan pasar, dengan visi bisnis, dengan investor malaikat dan lain-lain. "Saya berharap dengan jaringan alumni Prasetiya Mulya yang besar, ekosistem ini bisa dibangun, apalagi dengan para mentor yang memang sudah punya pengalaman membangun bisnis yang besar," ungkapnya dihadiri para praktisi startup yang bergerak antara lain di bidang keuangan (fintech), data besar (big data), dan distribusi.Agus menambahkan, fasilitas Innovation Hub adalah wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur. Fasilitas Innovation Hub ditujukan sebagai wadah interaksi dalam ekosistem enterpreneur, diantaranya founders digital start-ups, venture capitalists, perusahaan pendukung digital startup (IT companies, Business Coaches, Financial Institutions), pemerintah, profesional perusahaan, dan komunitas.Menurut Direktur Program MM Universitas Prasetiya Mulya, Indria Handoko, program NVI dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan bisnis startup secara eksponensial (scale up). Let's block ads! (Why?) Sumber :https://ekbis.sindonews.com/read/1303301/34/ini-kunci-keuletan-dan-keberlanjutan-bisnis-startup-1525537443
Baru dibaca Terpopuler