Kamis, 24 Mei 2018 | 16:51 WIB

AS Beri Suaka Pilot Wanita Pertama Afghanistan

Kehidupan Kapten Rahmani dinilai terancam di Afghanistan.REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) telah mengabulkan permohonan suaka pilot militer wanita pertama Afghanistan, Kapten Niloofar Rahmani. Suaka diberikan kepada Rahmani setelah ancaman pembunuhan memaksanya untuk melarikan diri dari negara asal.Rahmani menjadi sosok yang terkenal di tanah airnya setelah dia dinyatakan memenuhi syarat untuk menerbangkan jet tempur. Ia dipuji oleh Pemerintah AS sebagai simbol kemajuan wanita di negara tersebut.Namun Washington menyatakan, akan terlalu berbahaya baginya untuk pulang ke Afghanistan. Setelah mengajukan permohonan suaka ke AS dua tahun lalu, Rahmani akhirnya mendapatkannya pekan ini, setelah dua serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 25 orang di Kabul, termasuk 11 anak-anak dan sembilan wartawan.Rahmani yang sekarang berusia 27 tahun, mendaftar ke militer di usia 18 tahun di bawah koalisi Afghanistan yang dipimpin AS dan lulus dari sekolah pelatihan pada 2013. Namun seiring dengan ketenarannya, ia mendapatkan banyak ancaman pembunuhan.Kelompok Taliban yang menganggap profesinya memalukan, mulai membunuh anggota keluarganya termasuk paman dan sepupunya. Untuk bisa mendukung karier Rahmani, keluarga dekatnya harus bersembunyi.Saudara laki-lakinya telah menjadi sasaran dalam dua upaya pembunuhan termasuk aksi tabrak lari. Sementara saudara perempuannya telah dipaksa untuk bercerai dan dilarang melihat anaknya."Jika Anda terus melakukan pekerjaan Anda, Anda akan bertanggung jawab atas kehancuran keluarga Anda," ujar Taliban dalam sebuah surat kepada Rahmani.Rahmani mengaku tidak ingin mengorbankan keluarganya dan tak akan mengambil jalan itu jika sejak awal tahu betapa buruknya ancaman tersebut. Di sisi lain, rekan-rekan prianya di angkatan udara Afghanistan juga sering memberinya penghinaan. Ia merasa kondisi semakin buruk di tanah airnya.Pada 2015, Kapten Rahmani melarikan diri ke AS dan menerima penghargaan International Women of Courage Award dari Departemen Luar Negeri AS. Militer AS membayar pelatihan lanjutannya, hingga Ibu Negara Michelle Obama memuji keberaniannya."Yang saya inginkan sekarang adalah kembali ke mimpi saya untuk terbang. Saya akhirnya bisa menjalani hidup saya dengan damai. Sekarang semua kekhawatiran saya adalah tentang keluarga saya di Afghanistan," kata Rahmani kepada The Wall Street Journal, setelah ia diberikan suaka oleh AS.Ketika dia mengajukan permohonan suaka pada 2016, pejabat militer Afghanistan berpendapat hidupnya sama sekali tidak berisiko. Militer Afghanistan bahkan meminta AS untuk menolak permohonannya."Saya yakin dia berbohong dengan mengatakan dia diancam, hanya untuk mendapatkan suaka," kata juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan.Situasi keamanan di Afghanistan telah semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir, setelah perang berkecamuk selama lebih dari 16 tahun.Laporan baru-baru ini menunjukkan 14,5 persen distrik di negara itu berada di bawah kendali Taliban dan ISIS.Let's block ads! (Why?)
Sabtu, 05 Mei 2018 / rss idsatu.com
AS Beri Suaka Pilot Wanita Pertama Afghanistan
Kehidupan Kapten Rahmani dinilai terancam di Afghanistan.REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) telah mengabulkan permohonan suaka pilot militer wanita pertama Afghanistan, Kapten Niloofar Rahmani. Suaka diberikan kepada Rahmani setelah ancaman pembunuhan memaksanya untuk melarikan diri dari negara asal.Rahmani menjadi sosok yang terkenal di tanah airnya setelah dia dinyatakan memenuhi syarat untuk menerbangkan jet tempur. Ia dipuji oleh Pemerintah AS sebagai simbol kemajuan wanita di negara tersebut.Namun Washington menyatakan, akan terlalu berbahaya baginya untuk pulang ke Afghanistan. Setelah mengajukan permohonan suaka ke AS dua tahun lalu, Rahmani akhirnya mendapatkannya pekan ini, setelah dua serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 25 orang di Kabul, termasuk 11 anak-anak dan sembilan wartawan.Rahmani yang sekarang berusia 27 tahun, mendaftar ke militer di usia 18 tahun di bawah koalisi Afghanistan yang dipimpin AS dan lulus dari sekolah pelatihan pada 2013. Namun seiring dengan ketenarannya, ia mendapatkan banyak ancaman pembunuhan.Kelompok Taliban yang menganggap profesinya memalukan, mulai membunuh anggota keluarganya termasuk paman dan sepupunya. Untuk bisa mendukung karier Rahmani, keluarga dekatnya harus bersembunyi.Saudara laki-lakinya telah menjadi sasaran dalam dua upaya pembunuhan termasuk aksi tabrak lari. Sementara saudara perempuannya telah dipaksa untuk bercerai dan dilarang melihat anaknya."Jika Anda terus melakukan pekerjaan Anda, Anda akan bertanggung jawab atas kehancuran keluarga Anda," ujar Taliban dalam sebuah surat kepada Rahmani.Rahmani mengaku tidak ingin mengorbankan keluarganya dan tak akan mengambil jalan itu jika sejak awal tahu betapa buruknya ancaman tersebut. Di sisi lain, rekan-rekan prianya di angkatan udara Afghanistan juga sering memberinya penghinaan. Ia merasa kondisi semakin buruk di tanah airnya.Pada 2015, Kapten Rahmani melarikan diri ke AS dan menerima penghargaan International Women of Courage Award dari Departemen Luar Negeri AS. Militer AS membayar pelatihan lanjutannya, hingga Ibu Negara Michelle Obama memuji keberaniannya."Yang saya inginkan sekarang adalah kembali ke mimpi saya untuk terbang. Saya akhirnya bisa menjalani hidup saya dengan damai. Sekarang semua kekhawatiran saya adalah tentang keluarga saya di Afghanistan," kata Rahmani kepada The Wall Street Journal, setelah ia diberikan suaka oleh AS.Ketika dia mengajukan permohonan suaka pada 2016, pejabat militer Afghanistan berpendapat hidupnya sama sekali tidak berisiko. Militer Afghanistan bahkan meminta AS untuk menolak permohonannya."Saya yakin dia berbohong dengan mengatakan dia diancam, hanya untuk mendapatkan suaka," kata juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan.Situasi keamanan di Afghanistan telah semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir, setelah perang berkecamuk selama lebih dari 16 tahun.Laporan baru-baru ini menunjukkan 14,5 persen distrik di negara itu berada di bawah kendali Taliban dan ISIS.Let's block ads! (Why?) Sumber :http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/18/05/05/p8940g377-as-beri-suaka-pilot-wanita-pertama-afghanistan
Baru dibaca Terpopuler