Kamis, 24 Mei 2018 | 16:49 WIB

Tagar Dipandang Sebagai Simbol Gagasan Masyarakat

Perang tagar dianggap sebagai tanda masyarakat mengarah ke demokrasi yang baik.REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pakar Teknologi Informasi (IT) Ismail Fahmi memandang gerakan tagar media sosial sebagai salah satu simbol gagasan-gagasan masyarakat. Karenanya ia menilai perang tagar politik di media sosial sebenarnya memberikan tanda bahwa masyarakat telah mengarah ke demokrasi yang baik, hanya saja dengan satu syarat, tidak diwarnai oleh benturan provokasi.“Saya lihat, tagar-tagar ini merupakan simbol dari gagasan-gagasan masyarakat. Bahwa saat ini ada dua gagasan atau harapan besar masyarakat yang digaungkan. Nah ini kalau saya lihat, kalau tidak sampai diprovokasi, tidak terjadi benturan di masyarakat, ini menjadi pesta demokrasi yang bagus,” ungkap Ismail saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/4).Ia mengatakan, adanya tagar #Jokowi2Periode yang sempat viral beberapa waktu yang lalu merupakan sebuah gagasan besar masyarakat yang menginginkan Jokowi untuk melanjutkan untuk memimpin Indonesia sebagai presiden dalam dua periode. Sementara, adanya tagar tandingannya, yakni #2019GantiPresiden merupakan gagasan masyarakat yang melawan gagasan untuk melanjutkan Jokowi.Sehingga, menurutnya, tagar-tagar ini bukanlah hal yang main-main. “Karena ketika begitu banyak orang mendukung itu, dari yang hanya online dan tersebar di sosial media, kemudian menjadi offline yakni adanya tagardi kaos, topi, mug, dan  pin, itu adalah hal yang luar biasa. Ketika orang mulai jualan itu itu luar biasa. Termasuk dijual di CFD, itu sudah level berikutnya,” kata pengamat yang lulusan Groningen University di Belanda itu.Oleh sebab itu, dia mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tak terprovokasi sehingga bisa menghasilkan intimidasi. Insiden yang terjadi pada kegiatan mingguan CFD Thamrin pada Ahad (29/4), menurutnya, merupakan sebuah pelajaran yang patut dipetik untuk melanjutkan demokrasi yang lebih baik di Indonesia."Nah kalau mereka melakukan intimidasi, ini jadi jelek citranya. Dan ini yang diharapkan. Ketika mereka terprovokasi, mereka akan jatuh nih citra dari masing-masing tagar,” jelasnya.Dia juga mengimbau masyarakat untuk lebih tenang dalam menyikapi provokasi-provokasi yang terlanjur dihembuskan. Dia menekankan, dengan menerima perbedaan pendapat, seharusnya perang tagar menjadi sebuah ajang demokrasi yang baik.“Beda pendapat tapi tetap bagus. Jadi mereka tetap bersama-sama, ndak ada masalah, walaupun berbeda pendapat,” tuturnya.Let's block ads! (Why?)
Senin, 30 April 2018 / rss idsatu.com
Tagar Dipandang Sebagai Simbol Gagasan Masyarakat
Perang tagar dianggap sebagai tanda masyarakat mengarah ke demokrasi yang baik.REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pakar Teknologi Informasi (IT) Ismail Fahmi memandang gerakan tagar media sosial sebagai salah satu simbol gagasan-gagasan masyarakat. Karenanya ia menilai perang tagar politik di media sosial sebenarnya memberikan tanda bahwa masyarakat telah mengarah ke demokrasi yang baik, hanya saja dengan satu syarat, tidak diwarnai oleh benturan provokasi.“Saya lihat, tagar-tagar ini merupakan simbol dari gagasan-gagasan masyarakat. Bahwa saat ini ada dua gagasan atau harapan besar masyarakat yang digaungkan. Nah ini kalau saya lihat, kalau tidak sampai diprovokasi, tidak terjadi benturan di masyarakat, ini menjadi pesta demokrasi yang bagus,” ungkap Ismail saat dihubungi Republika.co.id, Senin (30/4).Ia mengatakan, adanya tagar #Jokowi2Periode yang sempat viral beberapa waktu yang lalu merupakan sebuah gagasan besar masyarakat yang menginginkan Jokowi untuk melanjutkan untuk memimpin Indonesia sebagai presiden dalam dua periode. Sementara, adanya tagar tandingannya, yakni #2019GantiPresiden merupakan gagasan masyarakat yang melawan gagasan untuk melanjutkan Jokowi.Sehingga, menurutnya, tagar-tagar ini bukanlah hal yang main-main. “Karena ketika begitu banyak orang mendukung itu, dari yang hanya online dan tersebar di sosial media, kemudian menjadi offline yakni adanya tagardi kaos, topi, mug, dan  pin, itu adalah hal yang luar biasa. Ketika orang mulai jualan itu itu luar biasa. Termasuk dijual di CFD, itu sudah level berikutnya,” kata pengamat yang lulusan Groningen University di Belanda itu.Oleh sebab itu, dia mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan tak terprovokasi sehingga bisa menghasilkan intimidasi. Insiden yang terjadi pada kegiatan mingguan CFD Thamrin pada Ahad (29/4), menurutnya, merupakan sebuah pelajaran yang patut dipetik untuk melanjutkan demokrasi yang lebih baik di Indonesia."Nah kalau mereka melakukan intimidasi, ini jadi jelek citranya. Dan ini yang diharapkan. Ketika mereka terprovokasi, mereka akan jatuh nih citra dari masing-masing tagar,” jelasnya.Dia juga mengimbau masyarakat untuk lebih tenang dalam menyikapi provokasi-provokasi yang terlanjur dihembuskan. Dia menekankan, dengan menerima perbedaan pendapat, seharusnya perang tagar menjadi sebuah ajang demokrasi yang baik.“Beda pendapat tapi tetap bagus. Jadi mereka tetap bersama-sama, ndak ada masalah, walaupun berbeda pendapat,” tuturnya.Let's block ads! (Why?) Sumber :http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/05/01/p80mdm284-tagar-dipandang-sebagai-simbol-gagasan-masyarakat
Baru dibaca Terpopuler