Minggu, 27 Mei 2018 | 23:02 WIB

DOID menargetkan produksi overburden naik 10%

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan jasa pertambangan PT Delta Dunia Makmur Tbk berharap kinerja tahun ini menjadi lebih baik. Emien berkode saham DOID di Bursa Efek Indonesia ini menargetkan produksi lapisan tanah penutup batubara alias overburden naik 10% dibandingkan realisasi produksi overburden tahun 2017. Melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), Delta Dunia Makmur menargetkan volume pengupasan tanah penutup batubara atau overburden menjadi 375 juta hingga 425 juta bank cubic meter (bcm). "Target tersebut naik di atas 10% dibandingkan tahun 2017," ucap Direktur Keuangan DOID Eddy Porwanto pada KONTAN, Selasa (13/2). Sayang, perusahaan ini belum selesai menghitung pendapatan dan laba bersih tahun 2017 lalu. Eddy mengatakan, pihaknya sampai sejauh ini kinerja keuangan mereka masih menunggu diaudit. Alhasil, "Belum boleh kami publish," ungkap dia. Yang pasti, laba bersih DOID pada Januari-September 2017 lalu sebesar US$ 31,43 juta. Pencapaian tersebut naik 24,08% dibandingkan US$ 25,33 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2016. Penopang laba itu adalah pendapatan yang tercatat US$ 558,48 juta atau naik 33,52% dari US$418,26 juta pada periode Januari-September 2016. Tahun lalu DOID merealisasikan produksi batubara sebanyak 40,2 juta ton. Angka tersebut naik 14,53% dibandingkan pencapaian produksi batubara pada tahun 2016. Lalu sepanjang tahun ini DOID menargetkan produksi batubara menjadi 45 juta sampai dengan 50 juta ton atau naik antara 11,94%–24,37% ketimbang tahun 2017. "Anggaran belanja modal antara US$ 200 juta–225 juta pada tahun 2018," ujarnya. Anggaran tersebut untuk membeli sejumlah alat berat yang akan menopang pertumbuhan perusahaan ini. DOID sendiri tercatat mengembalikan seluruh Izin Usaha Pertambangan (IUP) miliknya kepada pemerintah pada Desember 2017 lalu. IUP tersebut dikelola oleh dua anak usaha DOID, yakni PT Pulau Mutiara Persada dan PT Banyubiru Sakti. Dengan diserahkan IUP tersebut, DOID kini hanya fokus pada pengembangan jasa pertambangan melalui PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). Stephanie Limuissa, Deputi CFO sekaligus Hubungan Investor DOID pernah bilang, pelepasan tambang IUP milik DOID tersebut tidak berdampak apa-apa terhadap perusahaan. Sebab, selama ini memang tidak diolah karena harga batubara yang kurang baik sehingga tidak terasa kontribusinya bila dibandingkan dengan jasa penambangan. "Kami fokus di BUMA dan saat ini kami memang dalam proses pengembalian IUP. Dan ke depan hanya fokus ke jasa kontraktor. Dari awal memang tidak ada dampak ke finansial kami," katanya. Dia mengatakan, anak usaha PT Pulau Mutiara Persada memiliki IUP di Desa Muara Ketalo dan Semambu di Jambi yang berakhir tahun 2014 dan 2016. Selain itu seluruh IUP milik PT Banyubiru Sakti juga akan dikembalikan karena statusnya IUP eksplorasi telah berakhir.     Reporter Andy Dwijayanto, Aulia Fitri Herdiana Editor : Barratut Taqiyyah RafieTAMBANG DAN ENERGI[embedded content]Berita terbaru IndustriLet's block ads! (Why?)
Rabu, 14 Februari 2018 / rss idsatu.com
DOID menargetkan produksi overburden naik 10%
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan jasa pertambangan PT Delta Dunia Makmur Tbk berharap kinerja tahun ini menjadi lebih baik. Emien berkode saham DOID di Bursa Efek Indonesia ini menargetkan produksi lapisan tanah penutup batubara alias overburden naik 10% dibandingkan realisasi produksi overburden tahun 2017. Melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), Delta Dunia Makmur menargetkan volume pengupasan tanah penutup batubara atau overburden menjadi 375 juta hingga 425 juta bank cubic meter (bcm). "Target tersebut naik di atas 10% dibandingkan tahun 2017," ucap Direktur Keuangan DOID Eddy Porwanto pada KONTAN, Selasa (13/2). Sayang, perusahaan ini belum selesai menghitung pendapatan dan laba bersih tahun 2017 lalu. Eddy mengatakan, pihaknya sampai sejauh ini kinerja keuangan mereka masih menunggu diaudit. Alhasil, "Belum boleh kami publish," ungkap dia. Yang pasti, laba bersih DOID pada Januari-September 2017 lalu sebesar US$ 31,43 juta. Pencapaian tersebut naik 24,08% dibandingkan US$ 25,33 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2016. Penopang laba itu adalah pendapatan yang tercatat US$ 558,48 juta atau naik 33,52% dari US$418,26 juta pada periode Januari-September 2016. Tahun lalu DOID merealisasikan produksi batubara sebanyak 40,2 juta ton. Angka tersebut naik 14,53% dibandingkan pencapaian produksi batubara pada tahun 2016. Lalu sepanjang tahun ini DOID menargetkan produksi batubara menjadi 45 juta sampai dengan 50 juta ton atau naik antara 11,94%–24,37% ketimbang tahun 2017. "Anggaran belanja modal antara US$ 200 juta–225 juta pada tahun 2018," ujarnya. Anggaran tersebut untuk membeli sejumlah alat berat yang akan menopang pertumbuhan perusahaan ini. DOID sendiri tercatat mengembalikan seluruh Izin Usaha Pertambangan (IUP) miliknya kepada pemerintah pada Desember 2017 lalu. IUP tersebut dikelola oleh dua anak usaha DOID, yakni PT Pulau Mutiara Persada dan PT Banyubiru Sakti. Dengan diserahkan IUP tersebut, DOID kini hanya fokus pada pengembangan jasa pertambangan melalui PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). Stephanie Limuissa, Deputi CFO sekaligus Hubungan Investor DOID pernah bilang, pelepasan tambang IUP milik DOID tersebut tidak berdampak apa-apa terhadap perusahaan. Sebab, selama ini memang tidak diolah karena harga batubara yang kurang baik sehingga tidak terasa kontribusinya bila dibandingkan dengan jasa penambangan. "Kami fokus di BUMA dan saat ini kami memang dalam proses pengembalian IUP. Dan ke depan hanya fokus ke jasa kontraktor. Dari awal memang tidak ada dampak ke finansial kami," katanya. Dia mengatakan, anak usaha PT Pulau Mutiara Persada memiliki IUP di Desa Muara Ketalo dan Semambu di Jambi yang berakhir tahun 2014 dan 2016. Selain itu seluruh IUP milik PT Banyubiru Sakti juga akan dikembalikan karena statusnya IUP eksplorasi telah berakhir.     Reporter Andy Dwijayanto, Aulia Fitri Herdiana Editor : Barratut Taqiyyah RafieTAMBANG DAN ENERGI[embedded content]Berita terbaru IndustriLet's block ads! (Why?) Sumber :http://industri.kontan.co.id/news/doid-menargetkan-produksi-overburden-naik-10
Baru dibaca Terpopuler