Rabu, 20 Juni 2018 | 20:05 WIB

Amran Ajak Perguruan Tinggi Terlibat Majukan Pertanian

loading... MALANG - Perguruan tinggi diharapkan terlibat aktif dalam pengembangan teknologi, dan inovasi di bidang pertanian. Harapan ini ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat memberikan kuliah umum di Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya Malang, Jumat (25/5/2018).Menurutnya, untuk mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia dan mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045, dibutuhkan peran besar perguruan tinggi. "Di dalam kampus inilah, pusat dikembangkannya teknologi, dan inovasi untuk bisa merubah pertanian kita menjadi lebih maju," tuturnya.Melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi pertanian yang dihasilkan perguruan tinggi, diyakininya pertanian Indonesia akan mampu bersaing dengan negara lain. "Akademisi, pemerintah, dan pengusaha harus sinergi untuk pengembangan pertanian agar petaninya makmur," lanjut Amran.Saat ini, menurutnya, posisi pertanian di Indonesia terus mengalami kemajuan. Bahkan, berdasarkan Food Sustainability Index (FSI) Desember 2016 tentang pertanian berkelanjutan, Indonesia ada di urutan 16 dunia dengan poin 53,87.Posisi Indonesia hanya satu tingkat di bawah Argentina, yang memiliki poin 55,00. Yang membuat Amran sangat bangga, posisi Indonesia mampu berada di atas China yang ada di urutan 16 dengan poin 51,97, dan Amerika Serikat yang ada di urutan 19 dengan poin 50,73.Pemanfaatan teknologi dan inovasi sudah mulai dirasakan hasilnya pada sektor pertanian padi. Penggunaan alat dan mesin pertanian, serta pemupukan dan pestisida organik, mampu meningkatkan pendapatan sektor pertaian menjadi Rp316 triliun per tahun.Dia mencontohkan, penggunaan mesin penyiangan yang tiga kali lebih cepat dari penyiangan manual, mampu menghemat biaya penyiangan sebesar Rp7 triliun per tahun. Demikian juga dengan penggunaan mesin pemanen padi, mampu menghemat biaya panen sekitar 30% atau sekitar Rp8,8 triliun per tahun.Selain meningkatkan pemanfaatan teknologi, saat ini juga ditingkatkan kecintaan dunia pertanian di kalangan anak muda. Salah satunya,melalui Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita). "Di kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ada lahan tidur seluas 30 ribu hektare yang kini ditanami jagung oleh petani-petani muda peserta program Gempita," ujar Amran.Terobosan lain yang dilakukan adalah dengan revisi Perpres No. 172/2014. Dimana pengadaan benih, pupuk, pestisida, serta alat dan mesin pertanian, dari sebelumnya harus dilakukan dengan tender, sekarang bisa dilakukan dengan penunjukkan langsung.Adanya perubahan sistem pengadaan dari tender menjadi penunjukkan langsung tersebut, diklaim Amran, memiliki dampak besar, yakni segala pengadaan tersebut bisa tepat waktu, tepat dosis, tepat harga, tepat jenis, dan tepat bentuk atau ukurannya.Intensivikasi lahan juga dilakukan. Termasuk pada lahan rawa yang luasannya mencapai jutaan hektare. "Lahan rawa yang sebelumnya tidak bisa optimal dimanfaatkan karena kelebihan air, sekarang bisa dimanfaatkan untuk produksi padi. Hal ini juga berkat adanya teknologi dan inovasi," ungkapnya.Terobosan-terobosan yang dilakukan Kementan secara bertahap mulai dirasakan. Salah satunya untuk produk jagung. Pada 2015, Amran menyebutkan, Indonesia masih mengimpor jagung 3,5 juta ton. Tahun 2016 turun menjadi 1,8 juta ton, dan di tahun 2017, Indonesia sudah tidak mengimpor jagung untuk pakan ternak.Bahkan, dia menyebutkan, pada 2018 ini, jagung produksi Gorontalo sudah mampu diekspor ke Filipina sebanyak 57.650 ton. Selain itu, sejak 2017 telah mampu mengekspor bawang merah ke enam negara sebanyak 7.750 ton. Let's block ads! (Why?)
Jumat, 25 Mei 2018 / rss idsatu.com
Amran Ajak Perguruan Tinggi Terlibat Majukan Pertanian
loading... MALANG - Perguruan tinggi diharapkan terlibat aktif dalam pengembangan teknologi, dan inovasi di bidang pertanian. Harapan ini ditegaskan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat memberikan kuliah umum di Fakultas Pertanian (FP) Universitas Brawijaya Malang, Jumat (25/5/2018).Menurutnya, untuk mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia dan mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045, dibutuhkan peran besar perguruan tinggi. "Di dalam kampus inilah, pusat dikembangkannya teknologi, dan inovasi untuk bisa merubah pertanian kita menjadi lebih maju," tuturnya.Melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi pertanian yang dihasilkan perguruan tinggi, diyakininya pertanian Indonesia akan mampu bersaing dengan negara lain. "Akademisi, pemerintah, dan pengusaha harus sinergi untuk pengembangan pertanian agar petaninya makmur," lanjut Amran.Saat ini, menurutnya, posisi pertanian di Indonesia terus mengalami kemajuan. Bahkan, berdasarkan Food Sustainability Index (FSI) Desember 2016 tentang pertanian berkelanjutan, Indonesia ada di urutan 16 dunia dengan poin 53,87.Posisi Indonesia hanya satu tingkat di bawah Argentina, yang memiliki poin 55,00. Yang membuat Amran sangat bangga, posisi Indonesia mampu berada di atas China yang ada di urutan 16 dengan poin 51,97, dan Amerika Serikat yang ada di urutan 19 dengan poin 50,73.Pemanfaatan teknologi dan inovasi sudah mulai dirasakan hasilnya pada sektor pertanian padi. Penggunaan alat dan mesin pertanian, serta pemupukan dan pestisida organik, mampu meningkatkan pendapatan sektor pertaian menjadi Rp316 triliun per tahun.Dia mencontohkan, penggunaan mesin penyiangan yang tiga kali lebih cepat dari penyiangan manual, mampu menghemat biaya penyiangan sebesar Rp7 triliun per tahun. Demikian juga dengan penggunaan mesin pemanen padi, mampu menghemat biaya panen sekitar 30% atau sekitar Rp8,8 triliun per tahun.Selain meningkatkan pemanfaatan teknologi, saat ini juga ditingkatkan kecintaan dunia pertanian di kalangan anak muda. Salah satunya,melalui Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita). "Di kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, ada lahan tidur seluas 30 ribu hektare yang kini ditanami jagung oleh petani-petani muda peserta program Gempita," ujar Amran.Terobosan lain yang dilakukan adalah dengan revisi Perpres No. 172/2014. Dimana pengadaan benih, pupuk, pestisida, serta alat dan mesin pertanian, dari sebelumnya harus dilakukan dengan tender, sekarang bisa dilakukan dengan penunjukkan langsung.Adanya perubahan sistem pengadaan dari tender menjadi penunjukkan langsung tersebut, diklaim Amran, memiliki dampak besar, yakni segala pengadaan tersebut bisa tepat waktu, tepat dosis, tepat harga, tepat jenis, dan tepat bentuk atau ukurannya.Intensivikasi lahan juga dilakukan. Termasuk pada lahan rawa yang luasannya mencapai jutaan hektare. "Lahan rawa yang sebelumnya tidak bisa optimal dimanfaatkan karena kelebihan air, sekarang bisa dimanfaatkan untuk produksi padi. Hal ini juga berkat adanya teknologi dan inovasi," ungkapnya.Terobosan-terobosan yang dilakukan Kementan secara bertahap mulai dirasakan. Salah satunya untuk produk jagung. Pada 2015, Amran menyebutkan, Indonesia masih mengimpor jagung 3,5 juta ton. Tahun 2016 turun menjadi 1,8 juta ton, dan di tahun 2017, Indonesia sudah tidak mengimpor jagung untuk pakan ternak.Bahkan, dia menyebutkan, pada 2018 ini, jagung produksi Gorontalo sudah mampu diekspor ke Filipina sebanyak 57.650 ton. Selain itu, sejak 2017 telah mampu mengekspor bawang merah ke enam negara sebanyak 7.750 ton. Let's block ads! (Why?) Sumber :https://ekbis.sindonews.com/read/1309096/34/amran-ajak-perguruan-tinggi-terlibat-majukan-pertanian-1527262891
Baru dibaca Terpopuler