Kamis, 24 Mei 2018 | 16:44 WIB

Pelemahan Rupiah Tak Mampu Genjot Ekspor Indonesia

loading... JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) belum mampu menggenjot ekspor Indonesia. Hal ini terbukti dengan realisasi ekspor Indonesia pada April 2018 yang mengalami penurunan sebesar 7,19% menjadi sekitar USD14,47 miliar.Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pelemahan rupiah sejatinya harus bisa membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif. Sayangnya, struktur ekspor Indonesia yang masih berbasis komoditas membuat pelemahan mata uang Garuda tak memberikan efek berarti terhadap peningkatan ekspor."Harusnya pelemahan rupiah itu ekspor harusnya lebih kompetitif. Ini kesempatan bagus untuk ekspor. Tapi struktur ekspor kita masih berbasis komoditas. Sehingga ekspor kita harus dibenahi," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/5/2018).Menurutnya, pemerintah harus segera melakukan diversifikasi produk yang diekspor. Sebab, ekspor yang berbasis komoditas lebih dipengaruhi oleh permintaan pasar dan nilai. "Jadi harus diperbaiki struktur ekspornya. Harus diversifikasi produk dan pasar. Pelemaha rupiah itu (seharusnya) memberikan ekspor kita naik iya, tapi bagaimana menggunakannya," tandasnya.Seperti diberitakan sebelumnya, BPS  mencatat realisasi ekspor Indonesia pada periode April 2018 yang mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Pada April 2018, realisasi ekspor mencapai USD14,47 miliar atau turun 7,19% dibanding Maret 2018 yang sebesar USD15,59 miliar.Suhariyanto mengatakan, meskipun terjadi penurunan jika dibanding Maret 2018, namun realisasi ekspor pada periode ini masih mengalami peningkatan sebesar 9,01% dibanding April 2017."Nilai ekspor April 2018 sebesar USD14,47 miliar. Kalau dibanding dengan posisi Maret 2018, berarti terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 7,19% tetapi dibanding April 2017 yoy berarti masih meningkat 9,01%," katanya.Menurutnya, penurunan nilai ekspor ini terjadi karena ada penurunan ekspor baik migas maupun nonmigas. Untuk ekspor migas, pada April 2018 nilainya hanya sekitar USD1,19 miliar atau menurun 11,32% dibanding Maret 2018."Nilai ekspor gasnya masih meningkat, tapi nilai hasil minyak mentahnya mengalami penurunan. Jadi penurunan ekspor nonmigas lebih disebabkan karena hasil minyak dan minyak mentah, sementara ekspor gasnya mengalamai kenaikan 4,36%," imbuh dia.= (fjo) Let's block ads! (Why?)
Selasa, 15 Mei 2018 / rss idsatu.com
Pelemahan Rupiah Tak Mampu Genjot Ekspor Indonesia
loading... JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) belum mampu menggenjot ekspor Indonesia. Hal ini terbukti dengan realisasi ekspor Indonesia pada April 2018 yang mengalami penurunan sebesar 7,19% menjadi sekitar USD14,47 miliar.Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pelemahan rupiah sejatinya harus bisa membuat ekspor Indonesia lebih kompetitif. Sayangnya, struktur ekspor Indonesia yang masih berbasis komoditas membuat pelemahan mata uang Garuda tak memberikan efek berarti terhadap peningkatan ekspor."Harusnya pelemahan rupiah itu ekspor harusnya lebih kompetitif. Ini kesempatan bagus untuk ekspor. Tapi struktur ekspor kita masih berbasis komoditas. Sehingga ekspor kita harus dibenahi," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/5/2018).Menurutnya, pemerintah harus segera melakukan diversifikasi produk yang diekspor. Sebab, ekspor yang berbasis komoditas lebih dipengaruhi oleh permintaan pasar dan nilai. "Jadi harus diperbaiki struktur ekspornya. Harus diversifikasi produk dan pasar. Pelemaha rupiah itu (seharusnya) memberikan ekspor kita naik iya, tapi bagaimana menggunakannya," tandasnya.Seperti diberitakan sebelumnya, BPS  mencatat realisasi ekspor Indonesia pada periode April 2018 yang mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Pada April 2018, realisasi ekspor mencapai USD14,47 miliar atau turun 7,19% dibanding Maret 2018 yang sebesar USD15,59 miliar.Suhariyanto mengatakan, meskipun terjadi penurunan jika dibanding Maret 2018, namun realisasi ekspor pada periode ini masih mengalami peningkatan sebesar 9,01% dibanding April 2017."Nilai ekspor April 2018 sebesar USD14,47 miliar. Kalau dibanding dengan posisi Maret 2018, berarti terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 7,19% tetapi dibanding April 2017 yoy berarti masih meningkat 9,01%," katanya.Menurutnya, penurunan nilai ekspor ini terjadi karena ada penurunan ekspor baik migas maupun nonmigas. Untuk ekspor migas, pada April 2018 nilainya hanya sekitar USD1,19 miliar atau menurun 11,32% dibanding Maret 2018."Nilai ekspor gasnya masih meningkat, tapi nilai hasil minyak mentahnya mengalami penurunan. Jadi penurunan ekspor nonmigas lebih disebabkan karena hasil minyak dan minyak mentah, sementara ekspor gasnya mengalamai kenaikan 4,36%," imbuh dia.= (fjo) Let's block ads! (Why?) Sumber :https://ekbis.sindonews.com/read/1306007/33/pelemahan-rupiah-tak-mampu-genjot-ekspor-indonesia-1526376644
Baru dibaca Terpopuler