Senin, 23 April 2018 | 03:27 WIB

Margaret Tang : Melihat Setiap Kesulitan Dalam Pekerjaan Sebagai Tantangan Layaknya Bermain Golf

Jumat, 24 Februari 2012 / life & style
Margaret Tang : Melihat Setiap Kesulitan Dalam Pekerjaan Sebagai Tantangan Layaknya Bermain Golf
Direktur, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)

Setiap pekerjaan memiliki tantangan yang berbeda-beda, namun karir yang sukses adalah bagaimana melewati tantangan tersebut dan membuat hal yang sulit menjadi mudah untuk dilakukan dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Hal tersebut yang dilakukan dalam karir Margaret Mutiara Tang. Margaret, begitu panggilan akrabnya, menemui banyak tantangan di setiap karirnya namun semua tantangan tersebut boleh dikatakan cukup sukses dijalaninya.

Awal Karir

Margaret muda menyelesaikan masa studi perkuliahannya pada di University of Oregon, USA pada 1984 silam. Berbekal gelar Bachelor of Science, ia memulai karir pertamanya dengan menjadi Head of Information Technology PT Janssen Pharmaceutica (1987 - 1990). Booming pasar saham di awal  1990-an menjadi salah satu jalan Margaret terjun ke dunia capital market.

Keinginan pindah dari fokus pekerjaan tersebut didasarinya karena ada satu keyakinan, Margaret merasa jauh lebih berkembang jika pindah ke jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pasar saham. Ketertarikan dengan pasar saham menjadi salah satu alasan lainnya, walaupun secara total Margaret  mengalami penurunan pendapatan bulanan dan harus belajar lagi dari awal.

“Sebab saat itu pemerintah sedang fokus untuk mengembangkan pasar saham Indonesia sehingga pada saat itu banyak perusahaan yang mencari karyawan untuk bekerja di bagian kustodian,” kata Margaret.

Tawaran dari Standard Chartered Bank pada 1990 menjadi pijakan pertamanya berkarir di dunia pasar modal sebagai Head of Client Services, Custodial Services sampai dengan 1993. Sejak saat itu, Margaret mulai fokus berkarir di dunia pasar modal.

Selanjutnya ia berkarir di PT Bank Dagang Nasional Indonesia dengan menjadi Head of Custody antara 1993 sampai dengan 1996, dan menjadi Head of Origination, Capital Market Division PT Bank International Indonesia (1996 – 1999) dengan tugas membuat perjanjian investasi berjenis promissory notes dan berbagai investasi yang sifatnya jangka pendek (short term financing).

“Jadi pembagian tugas di BII dilakukan berdasarkan horizon investasi, short term dan long term. Untuk yang short term itu bertugas di bagian capital market, sedangkan untuk investasi long term itu dogolongkan ke dalam divisi investment banking. Saya masuk ke investasi short term,” jelas Margaret.

Tantangan Besar Pertama

Kesulitan besar pertama diterima Margaret sebagai tantangan saat perekonomian Indonesia mengalami kejatuhan hebat akibat krisis moneter di 1997. Tugasnya sebagai pihak yang membuat perjanjian investasi  berjenis promissory notes membuatnya menemui rintangan karena pihak penerbit (issuer) promissory notes mengalami kerugian dan terjadi gagal bayar. Penurunan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang membuat jumlah utang perusahaan meningkat menjadi tujuh kali lipat menjadi sebab utamanya.

“Pada saat itu baru merasakan, saya harus mengejar pihak issuer karena investor tidak mau dirugikan karena notes sudah diterbitkan namun karena nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang meningkat tujuh kali lipat membuat pihak issuer mengalami default. Saya harus cari jalan keluar baik untuk issuernya ataupun untuk investornya,” jelas Margaret.

Kerumitan penyelesaian masalah semakin bertambah karena pada saat itu banyak pihak penerbit promissory notes yang tidak mengetahui bahwa surat utang jenis ini tidak memiliki jaminan (collateral). Namun kewajiban atas kesanggupan pembayaran kredit yang diterima membuat pihak penerbit melakukan beberapa penyelesaian kepada investor selaku pihak kreditur.

Penyelesaian pembayaran dari pihak penerbit dilakukan dengan berbagai cara, misalkan dengan memberikan aset yang dimilikinya berupa aset dalam bentuk apartemen atau aset properti lainnya. Oleh karena itu pasca krisis 1997, produk promissory notes tidak diperdagangkan lagi karena terlalu beresiko dengan alasan utama tidak ada collateral.

Menurut Margaret, pada saat itu investor asing juga tidak berminat untuk berinvestasi di promissory notes dan lebih memilih jika berinvestasi di saham perusahaan atau obligasi rekapitulasi karena beberapa bank yang mengalami kesulitan keuangan pasca krisis keuangan menerbitkan obligasi rekapitulasi. Keuntungan yang didapatkan investor asing dari obligasi rekapitulasi dialihkan dengan membeli surat utang negara yang dinilai lebih aman.

Selanjutnya tawaran berkarir di negara tetangga Singapura oleh Grup Sinarmas diterima Margaret membuatnya menduduki jabatan Banking Relation di Asia Pulp & Paper Co. Ltd di Singapura pada 1999. Namun karir ini hanya bertahan selama empat tahun saja setelah pada 2003 Margaret menjabat sebagai Head of Domestic Custody Service di Deutsche Bank AG, Indonesia.

Ibu dari satu putera ini kemudian menduduki jabatan Securities Country Manager Citibank NA, Indonesia pada 2005 silam. Ia mengaku senang berkarir di bagian kustodian karena merasa tertantang untuk selalu dituntut tak hanya memahami pasar saham, namun juga harus mampu membaca arah pasar, berhubungan dengan regulator, serta berhubungan dengan beberapa peraturan baik dari regulasi perbankan, pasar modal maupun perpajakan.

“Kita dituntut untuk mengerti itu semua karena setiap setahun sekali, kustodian di bank asing itu harus roadshow keluar negeri dan harus menjelaskan kepada klien-klien kita di luar negeri,” jelas Margaret.

Pelajaran yang berharga dari krisis 1997 membuat Margaret bersama pelaku pasar lainnya lebih siap dalam menghadapi krisis 2008. Saat terjadi krisis tiga tahun silam, Margaret berpendapat investor domestik sudah lebih pintar dalam menyingkapinya.

Sebagai contoh, investor yang memiliki investasi di produk reksadana juga tidak banyak yang melakukan penarikan (redemption) karena sudah melakukannya untuk ambil untung (taking profit) di 2003. Selain itu krisis 2008 memang lebih dipengaruhi oleh sentimen global dan tidak terjadi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US$ seperti halnya 1997 silam.

Menjadi Regulator

Setelah empat tahun berkarir di Citibank, Margaret memperoleh tawaran untuk menjadi Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk periode 2009-2013. Margaret merasa tertantang berkarir di KSEI karena ingin lebih mengembangkan pasar modal bersama lembaga otoritas pasar modal lainnya. Karir di KSEI boleh dibilang sebagai puncak karirnya.

Beberapa proyek pengembangan pasar modal yang saat ini tengah dikerjakannya bersama dengan dua direksi KSEI yang lain adalah penerapan identitas tunggal investor (Single Investor Identification/SID), pemisahan rekening dana, edukasi investor, dan peningkatan jumlah investor domestik.

Margaret mengatakan beberapa perbedaan antara pekerjaan di KSEI dengan karir sebelumnya adalah saat ini ia lebih memposisikan diri sebagai regulator dengan jenis spesifik pekerjaan lebih bersifat memberikan penjelasan kepada pelaku pasar. Di satu sisi mendengarkan keluhan dari pelaku pasar, akan tetapi di sisi lainnya tidak bisa harus mengikuti semua keinginan dari pelaku pasar.

Tantangan berkarir di KSEI adalah menambah basis investor domestik pasalnya tidak banyak investor yang berinvestasi di dunia pasar modal. Jumlah sub rekening yang tercatat di KSEI saat ini baru sekitar 330 ribu sub rekening dan jumlah tersebut juga berikut dengan investor institusi. Artinya jumlah investor individu pasar modal saat ini baru sekitar 190 ribu dan jumlah tersebut masih berikut investor individu asing.

“Jadi saya rasa tantangannya adalah menambah jumlah investor individu domestik di pasar modal Indonesia dan ini yang terus kami upayakan bersama dengan regulator pasar modal lainnya,” tambahnya.

Selain itu, tugas yang harus diembannya di KSEI adalah meningkatkan rasa aman investor dalam berinvestasi. Salah satu program yang dapat menjamin rasa aman investor dalam berinvestasi adalah melalui pembuatan kartu Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes). Tingkat rasa aman investor dalam berinvestasi di pasar modal bertambah karena melalui AKSes, investor dapat mengecek kepemilikan efek yang tersimpan di anggota bursa.

Kartu AKSes merupakan bagian dari penerapan identitas tunggal investor (single investor identification/SID). Saat ini boleh dikatakan program penerapan SID untuk investor sudah cukup sukses karena sekitar 272 ribu nasabah sudah memiliki SID dari jumlah 330 ribu sub rekening tercatat di KSEI.

Ke depannya, KSEI melalui arahan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) berencana menerbitkan SID untuk semua investor pasar modal, tidak hanya investor saham saja. Investor yang berinvestasi hanya di Obligasi Retail Indonesia (ORI), berbentuk warkat (script) dan investor reksadana akan diberikan SID.

Program Lainnya

Program lainnya yang sedang diemban bersama dua direksi KSEI lainnya adalah melakukan pengkinian data nasabah. Disini ia dan KSEI menemui beberapa kendala dalam melakukan pengkinian data invesor pasar modal karena mayoritas perusahaan efek mengalami kesulitan dalam mengumpulkan dan memperbaharui data nasabahnya.

“Untuk pengkinian data saat ini memang sekitar 90% perusahaan efek telah menyerahkan data nasabahnya kepada kami. Akan tetapi masih ada beberapa data yang belum lengkap,” jelas Margaret.

Program lainnya yang tengah dikejar penyelesaiannya oleh KSEI adalah pemisahan dana nasabah. Pasalnya target program ini adalah 1 Februari 2012. Program ini dilakukan dengan tujuan melindungi dana nasabah di sekuritas sehingga regulator dapat mengontrol dana yang dimiliki nasabah dan memastikan bahwa dana nasabah tidak disalahgunakan oleh perusahaan efek.

Namun kendala untuk menyelesaikan program pengkinian dana nasabah saat ini adalah adanya ketidaksingkronan data nasabah antara data yang diberikan oleh perusahaan efek dengan data yang diberikan kelima bank yang ditunjuk KSEI untuk menjadi bank pembayaran.

Saat ini baru 2.414 rekening investor yang telah dipisah rekening dananya dengan rekening milik sekuritas. Jumlah tersebut baru sekitar 1% dari total sub rekening efek yang tercatat di KSEI dan jumlah itu berasal dari 41 anggota bursa dan belum seluruh nasabah perusahaan efek tersebut yang sudah melakukan pemisahan rekening dana nasabahnya.

Oleh karena itu, Margaret mengatakan dalam beberapa hari ke depan ia bersama KSEI akan mengadakan pertemuan dengan bank pembayaran dan seluruh anggota bursa untuk membahas dan memberikan solusi bersama sehingga seluruh sub rekening investor saham yang tercatat di KSEI sudah dilakukan pemisahan dana.

“Kami juga selalu siap untuk membantu perusahaan efek untuk melakukan sosialisasi kepada investor terkait hal ini. Jika sampai 1 februari 2012, perusahaan efek belum melakukan pemisahan rekening dana, maka mereka tidak mengikuti aturan Bapepam-LK dan kami terus melakukan pengecekan kepada masing-masing bank yang kami tunjuk menjadi bank pembayaran. Sejauh ini ada beberapa broker yang secara bertahap terus melakukannya,” tukasnya.

Untuk itu, perusahaan efek dihimbau untuk terus melakukan pemisahan rekening dana nasabahnya sebelum tenggat waktu. Margaret dan KSEI akan terus mengingatkan perusahaan efek dan memastikan kepada semua broker untuk melakukannya sebelum akhir batas waktu pada awal Februari tahun depan.

Hobi

Di sela kesibukannya bersama KSEI, Margaret memiliki hobi bermain golf. Untuk hobinya ini ia mengaku ia mengaku cukup menghilangkan stres dan cukup serius menjalaninya. Terbukti dari beberapa turnamen golf yang diikutinya.

“Main golf ini lebih ke arah hobi, walaupun di sisi lain juga ikut menjalin relasi karena menjalin lebih banyak hubungan pertemanan,” tambah Margaret.  

Ia mengaku biasa bermain golf dengan Ananta Wiyogo (Direktur Utama KSEI), Sulistyo Budi (Direktur KSEI) dan Ito Warsito (Direktur Utama BEI) serta dengan beberapa Komisaris lembaga SRO lainnya. Ia juga ikut dalam club golf pasar modal bersama mereka dan tercatat beberapa kali memenangi kejuaraan golf yang diikutinya.

Tantangan di dunia pekerjaan diibaratkannya sama sulitnya seperti memasukkan bola golf ke dalam hole. Ada  satu kepuasan tersendiri jika berhasil menyelesaikan target yang diberikan. 

----

 

Biodata:

Margaret Mutiara Tang

Jakarta, 27 Juni 1960

Hobi : Golf

Pendidikan : Bachelor of Science, Mathematics, University of Oregon, 1984.

Karir :

  • Head of Information Technology, PT Janssen Pharmaceutica, (1987-1990).
  • Head of Client Services, Custodial Services, Standard Chartered Bank, (1990-1993).
  • Head of Custody, PT Bank Dagang Negara Indonesia, (1993-1996).
  • Head of Origination, Capital Market Division, PT Bank International Indonesia, (1996-1999).
  • Banking Relation, Asia Pulp & Paper, Co. Ltd, (1999-2003).
  • Head of Domestic Custody Service, Deutsche Bank AG, (2003-2005).
  • Securities Country Manager, Citibank NA, Indonesia, (2005-2009).
  • Direktur, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), (2009-sekarang). 
Dibaca : 1698 kali