Senin, 18 Juni 2018 | 10:58 WIB

Erry Firmansyah " MEMULAI DARI TITIK TERENDAH "

Erry Firmansyah " MEMULAI DARI TITIK TERENDAH "
Kamis, 27 September 2012 / life & style / majalah pialang edisi 14
Erry Firmansyah " MEMULAI DARI TITIK TERENDAH "
Erry Firmansyah
Terkait :

 

“Tidak ada kata terlalu tua untuk belajar.” Kata-kata itu meluncur dari Erry Firmansyah ketika ditanya mengapa baru membangun klan bisnisnya di pasar modal pada usia 54 tahun. Pasca menyelesaikan karir dua periode sebagai Direksi Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2009. Pria asal Sumatera Barat ini tidak lantas berpangku tangan menikmati hasil jerih payah yang telah didapat dari posisinya sebagai orang nomor satu di salah satu self regulatory organization (SRO) pasar modal Indonesia.
Saat itu, ia sebenarnya masih bisa mencalonkan diri satu kali lagi mengingat jabatannya sebagai Dirut BEI hanya peralihan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sejumlah anggota bursa pun menilai dirinya masih layak. Tapi Erry merasa sudah cukup menjabat sebagai direktur utama bursa efek sebanyak dua kali. ”Berdasarkan peraturan juga tetap tidak bisa. Kalau ada yang bilang seperti masih bisa karena BEI adalah institusi baru, itu hanya interpretasi mereka saja,” katanya waktu itu. Karir Erry di pasar modal dimulai tahun 1990an.
Ia adalah generasi pertama yang lahir bersamaan dengan kelahiran kembali bursa efek yang diswastanisasi. Dia mulai menjabat sebagai Direktur Utama BEJ pada 15 April 2002. Pada tahun 2005, ia terpilih kembali untuk jabatan yang sama. Saat BEJ dan Bursa Efek Surabaya (BES) dilebur menjadi BEI pada November 2007, Erry kembali dipercaya sebagai Direktur Utama BEI.
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1981 ini kemudian mencoba peruntungannya dengan membangun perusahaannya sendiri. Erry bersama rekannya Harry Wiguna mendirikan perusahaan jasa konsultan keuangan yang diberi label PT Eagle Capital pada 13 Oktober 2009. Keputusannya membangun perusahaan yang memfokuskan diri untuk memberikan solusi keuangan perusahaan dan pasar modal ini bukan tanpa alasan. 
Menurutnya jika kita memiliki ilmu, tidak ada salahnya membagi ilmu itu kepada orang lain karena dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh kita dan si penerima, tetapi juga bagi orang banyak. Tidak heran jika kemudian Erry berani untuk memberika jaminan jika para ahli keuangan perusahaan dan pasar modal yang berada dalam perusahaannya dapat menawarkan perspektif mendalam yang perlu diketahui oleh para klien, tidak hanya berupa pandangan yang ingin diketahui klien tetapi juga membantu perusahaan untuk dengan teliti mengenali tren pasar dan kebutuhan-kebutuhan yang timbul.
Memang tidak mudah dalam memulai sebuah usaha. Hal itu pula yang dirasakan oleh pria yang memulai karirnya sebagai auditor hingga menjadi senior auditor pada kantor akuntan Drs. Hadi Susanto && Co ini saat membangun bisnis consultingnya. Tantangan pertamanya adalah bagaimana Erry mengubah mindset terhadap dirinya sendiri dari awalnya sebagai SRO lalu menjadi penyedia jasa konsultasi pasar modal. Sudah membutuhkan kerja keras dan loyalitas yang tinggi.
 

“Dari kultur orang gajian yang menerima gaji setiap bulan menjadi orang yang harus bekerja keras mencari uang untuk menggaji orang setiap bulannya. Ini membutuhkan etos kerja, dedikasi yang tinggi dan pantang menyerah,“ kata Erry menggambarkan perubahan atas dirinya.


 

Tantangan terberat yang dirasakannya pada awal membangun Eagle adalah mendapatkan kepercayaan dari para klien. Hal tersebut tentu sangat wajar terjadi karena hampir dua dekade karirnya di pasar modal, Erry selalu berada dalam posisi sebagai pihak “antagonis” dari para perusahaan terbuka. “Ini sesuatu yang tidak mudah,” katanya.
Erry menuturkan jika dirinya benar-benar membangun bisnisnya itu dari titik terendah. Sebagai regulator pasar modal tentu dirinya sangat dikenal. Tapi sekarang dia dalam posisi di mana ia harus “mengenalkan” diri kepada klien agar dikenal bukan sebagai regulator tetapi menjadi salah satu player juga di pasar modal.
“Kita harus berusaha untuk merubah sikap dari regulator menjadi seorang yang cari kerjaan. Cari makan kan kita?,” ujar pria yang  kini aktif di beberapa organisasi seperti di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) sebagai Wakil Kepala Komite Keuangan ini.
Namun apa yang telah dilakoni bapak dua anak ini menjadi sebuah pencapaian manis dalam catatan karirnya. Meski baru seumur jagung, perusahaannya sudah mampu mendorong banyak perusahaan swasta untuk go public dengan melakukan penawaran saham perdana (IPO). Di antaranya adalah PT Central Omega Resources Tbk dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk.

 

Membangun Market
 
Tantangan berat sebagai bagian dari SRO dimulai pada 1998. Dia didampuk sebagai Direktur Utama KSEI, Erry langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa keadaan ekonomi Indonesia pada saat itu sedang terpuruk karena krisis. Krisis yang terjadi, menurutnya dikarenakan faktor investor asing yang secara bersamaan keluar dari Indonesia, sehingga pasar modal Indonesia yang masih tergantung pada investor asing kelimpungan dan rontok.
Ini diperparah oleh kondisi infrastruktur perdagangan saham yang belum memadai. Proyek KSEI membangun sistem perdagangan tanpa warkat (scripless trading) mandek karena krisis. “ Nggak ada duit, tetapi disuruh membangun sistem,” kenangnya. Erry mencari akal untuk membiayai program ini dan akhirnya selesai oleh dukungan bank pembayaran.

Namun, masalah tidak selesai sampai disitu. Scripless yang sudah dibangun mahal itu rupanya kembali mandek. “Tantangannya berat sekali, banyak yang tidak mau.” Selain karena takut risiko oleh teknologi baru, ada saja pihak yang tak suka. “Karena ada beberapa pihak yang kepentingannya terganggu,” Ujar Erry. “Bapepam-LK juga membantu kami dengan kewenangannya,” Butuh waktu dua tahun untuk sistem itu kemudian diterima BEI pada 2002. Erry yang sepertinya ditakdirkan menjadi “dokter” pasar modal menjadi Direktur Utama BEJ pada tahun 2002. “Tantangannya tak kalah berat, indeks jatuh kepercayaan merosot.”

 


Dia kembali dihadapkan pada kondisi morat-marit pasar modal Indonesia. Saat itu, nilai rata-rata transaksi harian di bursa Indonesia hanya sekitar Rp 400 miliar, berbeda jauh dengan nilai transaksi harian saat ini yang bisa mencapai Rp 5 triliun.


 

Investor asing belum mau kembali pasca krisis 1998 membuat Erry harus memutar otak agar bisa menggaet investor agar mau kembali masuk ke bursa. Tantangan utamanya adalah membangun confidence investor, sehingga pasar memiliki kepercayaan.
Di situ jiwa kepemimpinan Erry terlihat dengan dapat mencoba memberikan contoh, disiplin dan komitmen dengan membangun di internalnya bursa terlebih dahulu. “Kalau tidak dari internal bagaimana orang lain mau percaya, itu butuh kebersamaan diantara para direksi dan komisaris,” ujarnya.
Satu program utama lelaki yang dilakukannya adalah meninjau kembali keberadaan perusahaan emiten. Syarat perusahaan untuk masuk bursa  dipermudah olehnya. Asal perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa, yang penting prospektif memperoleh laba. Terobosannya terbukti melesatkan BEJ.
Meski banyak pihak yang menga-takan jika kebijakan yang diambil Erry saat itu terlalu longgar. Karena seolah memberikan kebebasan seluas-luasnya, baik investor asing maupun lokal untuk masuk, dan juga penerapan modal yang rendah, namun Erry menilai hal tersebut hanya sebagai suatu strategi agar pasar modal Indonesia bisa cepat berkembang.
Syarat perusahaan untuk masuk bursa lalu dipermudahnya. Kata Erry, asal perusahaan sehat, belum untung tidak apa-apa yang penting prospektif memperoleh laba. Cuma butuh waktu 45 hari sejak didaftarkan di Bapepam.
Erry mengambil contoh, pada saat dirinya memimpin bursa, modal AB hanya dibatasi minimal sekitar Rp 500 juta. Dengan begitu lebih banyak pemain bisa masuk. Menurut Erry, hal itu bukan salah satu bentuk kebebasan yang tidak bertanggung jawab yang diterapkannya, namun sebagai upaya membangun sebuah industri tentu tidak bisa sekaligus. Peningkatan permodalan tetap harus dilakukan secara bertahap.
Keberaniaan Erry mengajak ribuan perusahaan masuk bursa didukung oleh kenyataan bahwa masyarakat sesungguhnya mempunyai potensi besar sebagai investor pasar modal. Ada 3,5 juta rakyat Indonesia yang mempunyai pendapatan perkapita setara penduduk Singapura. Dia pun melihat, seliweran mobil-mobil mewah seperti Jaguar, BMW seri 7 maupun Porche menunjukkan ada banyak orang kaya di Jakarta maupun di kota-kota besar lain. Mereka potensial untuk digarap.
Secara bertahap, menurut Erry, terbukti terjadi peningkatan permodalan dari Rp 500 juta menjadi Rp 5 miliar dan terus naik hingga saat ini menjadi Rp 25 miliar. Namun langkah yang kemudian dilanjutkan oleh penerus Erry ini dianggap sebuah hambatan bagi AB untuk berkembang.
Penyuka mancing dan jogging di hari libur ini memiliki alasan lain terkait permodalan tersebut. menurutnya pasar modal membutuhkan modal cukup untuk berkembang,setelah berkembang maka ada baiknya kemudian permodalan itu harus ditingkatkan.
“Kapitalis dengan modal yang ada bisa untuk mengembangkan pasar, namun cara berpikir orang kadang lain. Bahkan ada yang beranggapan tidak perlu modal, kita kan hanya broker, padahal itu pemikiran yang salah,” paparnya. Hal tersebut menurut Erry perlu dipikirkan dengan pikiran dingin oleh para AB. Semata-mata agar pasar modal Indonesia tidak tertinggal dengan pasar modal negara lain.
Menurut Erry, ke depan akan dilakukan integrasi antara pasar modal, asuransi dan perbankan dalam wujud Otoritas Jasa Keuangan. Dirinya berharap lahirnya OJK dapat memecahkan permasalahan yang selama ini menjadi kendala di dunia keuangan Indonesia.
Menyinggung masalah OJK, Erry sendirisebenarnya sempat mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu bagian di dalam lembaga pengawas industri keuangan nasional tersebut, namun dirinya gagal. “Jangan tanyakan alasan kegagalan itu kepada saya, karena saya tidak tahu, tanyakan pada pihak penyelenggara,” ucapnya enteng.

 

 

Dibaca : 1864 kali
Baru dibaca Terpopuler