Senin, 20 Nopember 2017 | 10:54 WIB

Margaret Mutiara Tang : "Tantangan Laksana Bermain Golf"

Jumat, 27 September 2012 / life & style / mip

Filosofi itu yang tersematkan di dalam diri Margaret Mutiara Tang. Selama perjalanan karirnya, Margaret, begitu panggilan akrabnya, menemui banyak tantangan. Namun semua tantangan tersebut boleh dikatakan cukup sukses dijalaninya.


Awal Karir

Margaret muda menyelesaikan studi kuliahannya di University of Oregon, USA pada 1984 silam. Berbekal gelar Bachelor of Science, ia memulai karir pertamanya dengan menjadi Head of Information Technology PT Janssen Pharmaceutica (1987 - 1990). Booming pasar saham di awal 1990-an menjadi salah satu jalan Margaret terjun ke dunia capital market. Keinginan pindah dari fokus pekerjaannya, didasari satu keyakinan. Ia merasa jauh lebih berkembang jika pindah ke jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pasar modal.

Ketertarikan saham menjadi salah satu alasan lainnya, walaupun secara total Margaret mengalami penurunan pendapatan bulanan dan harus belajar lagi dari awal. “Sebab saat itu pemerintah sedang fokus untuk mengembangkan pasar saham Indonesia, sehingga banyak perusahaan yang mencari karyawan untuk bekerja di bagian kustodian,” kata Margaret.

Tawaran dari Standard Chartered Bank pada 1990 menjadi pijakan pertama karirnya di dunia pasar modal sebagai Head of Client Services, dan dilanjutkan Custodial Services sampai 1993. Sejak saat itu, Margaret mulai focus berkarir di dunia pasar modal. Pada 1996 sampai 1999 ia menjadi Head of Origination, Capital Market Division PT Bank International Indonesia (BII) dengan tugas membuat perjanjian investasi berjenis promissory notes dan berbagai investasi yang sifatnya jangka pendek.

“Untuk yang short term itu bertugas di bagiancapital market, sedangkan untuk investasi long term itu dogolongkan ke dalam divisi investment banking. Saya masuk ke investasi short term,” jelas Margaret.

Tantangan Besar Pertama Tugasnya sebagai pihak yang membuat perjanjian investasi berjenis promissory notes membuatnya menemui rintangan karena pihak penerbit (issuer) promissory notes mengalami kerugian dan terjadi gagal bayar.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang membuat jumlah utang perusahaan meningkat menjadi tujuh kali lipat menjadi sebab utamanya. “Pada saat itu baru merasakan, saya harus mengejar pihak issuer. Investor tidak mau dirugikan karena notes sudah diterbitkan. Namun karena nilai tukar rupiah terhadap US$ meningkat tujuh kali lipat membuat pihak issuer mengalami default. Saya harus cari jalan keluar baik untuk issuer-nya ataupun untuk investornya,” jelas Margaret.

Kerumitan penyelesaian masalah semakin bertambah karena pada saat itu banyak pihak penerbit promissory notes yang tidak mengetahui bahwa surat utang jenis ini tidak memiliki jaminan (collateral). Namun kewajiban atas kesanggupan pembayaran kredit yang diterima membuat pihak penerbit melakukan beberapa penyelesaian kepada investor selaku pihak kreditur.

Penyelesaian pembayaran dari pihak penerbit dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan aset yang dimilikinya. Bisa berupa apartemen atau aset properti lainnya. Oleh karena itu pasca krisis 1997, produk promissory notes tidak diperdagangkan lagi karena terlalu beresiko dengan alasan utama tidak ada collateral.

Menurut Margaret, pada saat itu investor asing tidak berminat untuk berinvestasi di promissory notes. Mereka lebih memilih berinvestasi di saham perusahaan atau obligasi rekapitulasi karena sejumlah bank yang mengalami kesulitan keuangan paska krisis, ramai-ramai menerbitkan obligasi rekapitulasi. Keuntungan yang didapatkan investor asing dari obligasi rekapitulasi dialihkan dengan membeli surat utang negara yang dinilai lebih aman.

Selanjutnya tawaran berkarir di Negara tetangga Singapura oleh Grup Sinarmas diterima Margaret. Di sana ia menduduki jabatan Banking Relation di Asia Pulp & Paper Co. Ltd pada 1999. Namun karir ini hanya bertahan empat tahun saja, setelah pada 2003 Margaret menjabat sebagai Head of Domestic Custody Service di Deutsche Bank AG, Indonesia.


"Setiap pekerjaan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Sebuah karir bisa dikatakan sukses, jika kita bisa melewati tantangan tersebut. Tak hanya itu, jika dikaji lebih dalam lagi, kesuksesan karir adalah membuat hal yang sulit menjadi mudah untuk dilakukan dengan segala keterbatasan yang dimiliki".


Ibu dari satu putra ini kemudian menduduki jabatan Securities Country Manager Citibank NA, Indonesia pada 2005 silam. Ia mengaku senang berkarir di bagian kustodian karena merasa tertantang untuk selalu dituntut tak hanya memahami pasar saham, namun juga harus mampu membaca arah pasar, berhubungan dengan regulator, serta berhubungan dengan beberapa peraturan baik dari regulasi perbankan, pasar modal maupun perpajakan.

“Kita dituntut untuk mengertiaitu semua karena setiap setahun sekali, custodian di bank asing itu harus roadshow keluar negeri dan harus menjelaskan kepada klien-klien kita di luar negeri,” jelas Margaret. Pelajaran yang berharga dari krisis 1997 membuat Margaret bersama pelaku pasar lainnya lebih siap dalam menghadapi krisis 2008. Saat terjadi krisis tiga tahun silam, Margaret berpendapat investor domestik sudah lebih pintar dalam menyingkapinya.

Sebagai contoh, investor yang memiliki investasi di produk reksadana juga tidak banyak yang melakukan penarikan (redemption) karena sudah melakukannya untuk ambil untung (taking profit) di 2003. Selain itu, krisis 2008 memang lebih dipengaruhi oleh sentimen global dan tidak terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap US$ seperti halnya 1997 silam.


Menjadi Regulator

Setelah empat tahun berkarir di Citibank, Margaret memperoleh tawaran untuk menjadi Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) periode 2009-2013. Margaret merasa tertantang berkarir di KSEI karena ingin lebih mengembangkan pasar modal bersama lembaga otoritas pasar modal lainnya.

Karir di KSEI boleh dibilang sebagai puncak karirnya. Beberapa proyek pengembangan pasar modal yang saat ini tengah dikerjakannya bersama dengan dua direksi KSEI yang lain adalah penerapan identitas tunggal investor (Single Investor Identification/SID), pemisahan rekening dana, edukasi investor,  dan peningkatan jumlah investor domestik. Margaret mengatakan, beberapa perbedaan pekerjaan di KSEI dengan karir sebelumnya adalah bahwa di KSEI ia harus memposisikan sebagai regulator yang harus memberikan penjelasan kepada pelaku pasar. Di satu sisi m ndengarkan keluhan dari pelaku pasar, tetapi di sisi lainnya tidak bias harus mengikuti semua keinginan dari pelaku pasar.

Tantangan berkarir di KSEI adalah menambah basis investor domestik mengingat tidak banyak investor  berinvestasi di dunia pasar modal. Jumlah sub rekening yang tercatat di KSEI saat ini baru sekitar 330 ribu sub rekening. Jumlah tersebut berikut dengan investor institusi. Artinya jumlah investor individu pasar modal saat ini baru sekitar 190 ribu. “Tantangannya adalah menambah jumlah investor individu domestik di pasar modal Indonesia,” tambahnya. Selain itu, tugas yang harus diembannya di KSEI adalah meningkatkan rasa aman investor dalam berinvestasi.

Salah satu program yang dapat menjamin rasa aman itu adalah melalui pembuatan kartu Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes). Tingkat rasa aman investor dalam berinvestasi di pasar modal bertambah karena melalui AKSes, investor dapat mengecek kepemilikan efek yang tersimpan di anggota bursa.

Kartu AKSes merupakan bagian dari penerapan identitas tunggal investor (SID). Saat ini boleh dikatakan program penerapan SID untuk investor sudah cukup sukses karena sekitar 272 ribu nasabah sudah memiliki SID dari jumlah 330 ribu sub rekening tercatat di KSEI.

Ke depannya, KSEI melalui arahan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) berencana menerbitkan SID untuk semua investor pasar modal, tidak hanya investor saham saja. Investor yang berinvestasi hanya di Obligasi Retail Indonesia (ORI), berbentuk warkat (script) dan investor reksadana akan diberikan SID. Program lain yang sedang diemban bersama dua direksi KSEI lainnya adalah melakukan pengkinian data nasabah. Disini ia dan KSEI menemui beberapa kendala dalam melakukan pemutakhiran data invesor pasar modal karena mayoritas perusahaan efek mengalami kesulitan dalam mengumpulkan dan memperbaharui data nasabahnya.

“Untuk pengkinian data saat ini memang sekitar 90% perusahaan efek telah menyerahkan data nasabahnya kepada kami. Tetapi masih ada beberapa data yang belum lengkap,” jelas Margaret. Program lain yang tengah dikejar penyelesaiannya adalah pemisahan dana nasabah. Pasalnya program ini ditenggat 1 Februari 2012. Pemisahan dana nasabah bertujuan melindungi dana nasabah di sekuritas, sehingga regulator dapat mengontrol dana yang dimiliki nasabah dan memastikan dana nasabah tidak disalahgunakan oleh perusahaan efek.

Namun kendala untuk menyelesaikan program pengkinian dana nasabah saat ini adalah adanya ketidaksingkronan data nasabah, antara yang diberikan oleh perusahaan  efek dengan data yang diberikan kelima bank yang ditunjuk KSEI untuk menjadi bank pembayaran.

Saat ini baru 2.414 rekening investor yang telah dipisah rekening dananya dengan rekening milik sekuritas. Jumlah tersebut baru sekitar 1% dari total sub rekening efek yang tercatat di KSEI dan jumlah itu berasal dari 41 anggota bursa dan belum seluruh nasabah perusahaan efek tersebut yang sudah melakukan pemisahan rekening dana nasabahnya. Untuk itu, perusahaan efek dihimbau untuk terus melakukan pemisahan rekening dana nasabahnya sebelum tenggat waktu, sebelum akhir batas waktu pada awal Februaritahun depan.


Hobi

Di sela kesibukannya bersama KSEI, Margaret memiliki hobi bermain golf. Untuk hobinya ini ia mengaku cukup menghilangkan stres. Tak hanya itu, Margaret juga tampak menseriusi hobi yang satu ini. Terbukti dari beberapa turnamen golf yang diikutinya.

“Main golf ini lebih ke arah hobi, walaupun di sisi lain juga ikut menjalin relasi karena menjalin lebih banyak hubungan pertemanan,” tambah Margaret. Ia mengaku biasa bermain golf dengan Ananta Wiyogo (Direktur Utama KSEI), Sulistyo Budi (Direktur KSEI) dan Ito Warsito (Direktur Utama BEI) serta dengan beberapa Komisaris lembaga SRO lainnya. Ia juga ikut dalam club golf pasar modal dan tercatat beberapa kali memenangi kejuaraan golf yang diikutinya. Tantangan di dunia pekerjaan diibaratkannya sama sulitnya seperti memasukkan bola golf ke dalam hole. Ada satu kepuasan tersendiri jika berhasil menyelesaikan target yang diberikan.

Dibaca : 783 kali
Baru dibaca Terpopuler