Senin, 20 Nopember 2017 | 10:56 WIB

Strategi Ala Sepak Bola Bryan Tilaar

"Menjadi regional player ternama di kawasan Asia Pasifik merupakan cita-cita Martina Berto. Untuk sekarang kami masih fokus di Asia Tenggara,"
Minggu, 03 Maret 2012 / life & style

 

Martina Berto tengah berjuang menjadi regional player dan memperkokoh posisi di dalam negeri. Di sini, Bryan berbicara strategi dan langkah yang telah ditempuhnya untuk mencapai target itu.

Setelah sekian lama berkubang dalam bisnis produk kecantikan, Bryan Tilaar akhirnya menemukan kecintaannya terhadap bisnis ini. Cinta mendorongnya untuk terus meningkatkan kemampuan bisnis dan manajerial agar dapat mengelola perusahaan dengan lebih baik. 

Itulah bekal yang membuatnya dipercaya Direktur Utama PT Martina Berto Tbk, emiten yang mayoritas kepemilikannya dimiliki Martha Tilaar Grup (MTG)

Duduki posisi tertinggi di perusahaan manufaktur, pemasaran, serta penelitian dan pengembangan merek dari Martha Tilaar Group yang sudah menjadi pemain papan atas di dalam negeri, membuat Bryan merasa tidak pantas berpuas diri.

Sesuai misi perusahaan, “Local Wisdom, Go Global”  ia masih berhadapan dengan banyak pekerjaan rumah. Mengembangkan pasar kosmetika dan jamu di level internasional dengan fokus jangka menengah di kawasan Asia Pasifik dengan produk dan merek pilihan, dan fokus jangka panjang di pasar  global. 

Tahun ini, Bryan menargetkan, pendapatan konsolidasi perseroan akan tumbuh 15,3% menjadi Rp653 miliar dengan estimasi laba bersih Rp48 miliar. Untuk mencapainya akan dibuka tambahan Martha Tilaar Shop, meluncurkan produk baru, dan melakukan peningkatan penjualan ke area Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta penetrasi penjualan ke Indonesia bagian timur.

Dalam jangka menengah, Bryan berupaya mencapai Top Three dalam industri beauty and personal care product dan spa product di Indonesia pada tahun 2016. Optimistisme ini berdasarkan statistik pertumbuhan penjualan produk-produknya yang terus meluas dari tahun ke tahun. Ia yakin, kinerja

Martina Berto akan tumbuh diatas rata-rata industri kosmetik yang mencapai 10% saat ini. Melihat potensi pertumbuhan konsumsi produk kosmetik setiap tahun, Bryan optimistis, penjualan perseroan akan menembus Rp1 triliun dalam dua hingga tiga tahun mendatang. “Martina Berto diperkirakan mencapai penjualan Rp1 triliun pada tahun 2013-2014,” ujarnya.

Kompak. Bukan One Man Show

Untuk mencapai target-target yang dicanangkan perseroan, Bryan menekankan kerjasama dan kekompakan tim. Meski berlabel perusahaan keluarga, Martina Berto dijalankan secara profesional dengan menempatkan orang-orang yang memiliki kompetensi di bidangnya, meski bukan anggota keluarga Tilaar. Salah satu prinsip yang dipakai untuk itu adalah  family own, profesionally run.

”Memiliki secara mayoritas tapi bukan berarti terus menerus menjadi pilotnya. Suatu saat kelak kita yang punya pesawat terbangnya, bukan jadi pilotnya. Kita punya mobilnya tapi bukan sopirnya. Tinggal yang punya pesawat ini kan bilang ke orang yang menjalankan, kita mau ke sini atau ke sana,” ujarnya.

Berfoto bersama dengan jajaran manajemen, dan Direksi BEI pada saat IPO

Kerjasama tim yang super dalam perusahaan ia ibaratkan seperti permainan sepak bola. “Kurang lebih sama seperti hebatnya tim sepak bola Jerman yang mengalahkan Argentina 4-0 di putaran final Piala Dunia 2010,” kata pria kelahiran Oktober 1971 yang menggemari sepak bola tersebut.

Meski kemudian Jerman gagal menjadi juara dunia, menurut data riset AC Nielsen, itulah pertandingan yang paling banyak ditonton diseluruh penjuru dunia. “Jadi bukan karena di satu tim ada individu tertentu, kemenangan diperoleh karena kebersamaan."

Kordinasi dan kebersamaan merupakan hal yang sangat penting dalam perusahaan. Untuk itu, generasi kedua keluarga Tilaar dilibatkan semua dalam pengelolaan perusahaan. Bryan mengatakan, pembagian tugas di antara anggota keluarga dilakukan secara terstruktur dan profesional.

Di jajaran direksi Martina Berto ada Bryan, Kilala Tilaar, dan Samuel Pranata yang merupakan keponakan dari Martha Tilaar. Adik Bryan, Wulan Tilaar dan Pinkan Tilaar mengelola bisnis sekolah kecantikan di bawah bendera MTG. Kunto Widarto, adik ipar Bryan, diangkat sebagai Direktur Utama PT Cedefindo, anak perusahaan Martina Berto.

Sikap profesional juga Bryan terapkan dalam mengelola hubungan dengan para pekerjanya dengan menjunjung tinggi prinsip memanusiakan karyawan secara utuh. Perseroan memberikan reward bagi karyawan yang berhak menerima atas prestasinya. Sementara, punishment  yang berbentuk teguran atau peringatan diberlakukan juga bagi karyawan yang lalai atau alpa dalam melaksanakan tugas yang merupakan kewajibannya.

"Dalam bekerja kita harus menggunakan hati dan akal budi. Jika hanya profit oriented, di sini bukan tempatnya. Jika perilakunya tidak menciptakan situasi kondusif dalam suasana kerja, artinya tidak cocok bekerja di Martina Berto. Namun jika mereka memiliki semua itu, kita akan berikan apa yang menjadi hak mereka." ujarnya.

Go Regional Player

Keinginan untuk mengelola perusahaan keluarga secara profesional itulah yang mendasari Martina Berto go public pada awal tahun ini. “Tujuan IPO selain untuk menjaga tradisi profesional, manajemen dan pendiri Martha Tilaar Group menilai pentingnya tata kelola perusahaan yang baik di perusahaan kami,” katanya .

Martina Berto didirikan oleh Martha Tilaar, Bernard Pranata (adik ipar Martha), dan Theresia Harsini Setiady (Kalbe Group) pada tahun 1977. Setelah keluarnya Grup Kalbe dari kepemilikan di Martina Berto pada tahun 1999, perseroan mulai merencanakan untuk mengembangkan perusahaan agar lebih besar lagi. ”Setelah Martina Berto kita miliki seluruhnya, kita mulai menentukan visi kita sendiri,” kata Bryan.

Menjadi perusahaan publik adalah target Martina Berto sejak keluarnya Kalbe. Setelah memperkuat fundamental dan stabilitas perusahaan, tahun 2011 diyakini merupakan saat yang paling tepat untuk mewujudkannya. Sebelumnya, kata Bryan, perseroan sempat melakukan penjajakan kerjasama dengan mitra strategis.  

“Namun kerjasama itu gagal karena perbedaan visi, akhirnya kami meyakini go public adalah pilihan yang tepat,” jelasnya. Bryan mengaku, menjadi perusahaan terbuka memang tidak gampang. Banyak persyaratan dan hukum yang harus ditaati dan dijalankan. Meski demikian, banyak juga hal positif yang diperoleh seperti akses pendanaan yang lebih mudah, dan dapat meningkatkan reputasi perusahaan.

Meningkatkan pangsa pasar di kawasan Asia Pasifik merupakan usaha yang saat ini menjadi konsen perseroan. Penguatan basis konsumen di dalam negeri juga menjadi fokus utama perseroan.

Bryan mengatakan, perseroan melihat potensi pengembangan pasar untuk produk kosmetik dan jamu tradisional masih sangat terbuka lebar. Salah satunya adalah di kawasan Indonesia bagian timur dan tengah. “Sejak semester kedua 2011 kami mulai menargetkan perluasan pasar di wilayah itu," ujarnya.

Misi itu pula yang mendorong Bryan untuk memperluas bisnis Martha Tilaar Shop (MTS) di Malaysia dan Brunei Darussalam tahun ini atau paling lambat tahun depan. Menurutnya, selama ini penjualan Martha Tilaar Shop di Singapura cukup menjanjikan.

Atas dasar itu, perseroan berencana memperluas toko ke berbagai negara dengan fokus awal Asia Tenggara. "Menjadi regional player ternama di kawasan Asia Pasifik merupakan cita-cita Martina Berto. Untuk sekarang kami masih fokus di Asia Tenggara," ujar Bryan

Sebagai tahap awal untuk target itu, perseroan telah mendirikan Eastern Beautypelago Pte Ltd pada 6 April 2011. Untuk keperluan pendirian perusahaan ini, Martina Berto mengeluarkan sekitar sedikitnya SIN$1 Juta atau sekitar Rp7 miliar. Eastern Beauty Pelago merupakan perusahaan patungan dengan warga negara Austria yang berdomisili di Singapura, Alfred Fahringer.

Martina Berto memiliki saham 55% dan 45% sisanya merupakan kepemilikan Alfred. “Tujuannya mengoperasikan semua Martha Tilaar Shop (MTS) di Singapura dan negara lain di luar Indonesia,” katanya.

Untuk memperkokoh penjualan di level domestik, Martina Berto tengah perluasan pasar di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah diawali pengalaman perseroan dalam mengadakan penjualan dan promosi melalui pelatihan dan demonstrasi produk pada beberapa kelompok masyarakat.

“Meskipun dihadiri oleh peserta yang lebih sedikit meskipun dihadiri oleh peserta yang lebih sedikit Penjualan yang diperoleh melalui kegiatan di kawasan timur dan tengah Indonesia lebih besar dibanding penjualan kegiatan serupa di kawasan barat Indonesia," ujarnya.

Bryan mengatakan, setelah melewati satu bulan pertama pada semester kedua 2011, upaya perseroan dalam menangkap potensi pasar di kawasan timur dan tengah Indonesia mulai menunjukkan hasil. 

Kontribusi penjualan berdasarkan area penjualan pada bulan Juli 2011 dari Manado tercatat 1,4% dari total penjualan Martina Berto, meningkat 0,6 % dari 0,8%  pada bulan sebelumnya.

Sementara, di Banjarmasin juga mencapai 6,2% dari total penjualan, naik 3,6% dari 2,6% dari bulan sebelumnya. Demikian pula dengan kontribusi penjualan dari Pontianak yang tercatat 2,5% dari total penjualan, atau tumbuh 1 % dari 1,5% dibanding bulan Juni 2011.

“Secara keseluruhan, Indonesia bagian Timur akan memberikan kontribusi sekitar 15-20% dari total penjualan secara nasional pada tahun ini,” jelasnya.

Selain dengan ekspansi-ekspansi di bidang penjualan, Bryan menambahkan, perseroan juga terus mendorong pertumbuhan perusahaan secara organik. Perseroan berencana mengembangkan pabrik herbal di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat dengan biaya investasi sebesar Rpl35 miliar.

"Kita punya lahan 10 hektare, 6 hektare untuk pabrik dan sisa lahannya dibangun Kampoeng Djamu Organik yang isinya berbagai macam tumbuhan herbal  untuk mendukung produk herbal, kosmetik, dan perawatan rambut,” jelasnya.

Selain itu, perseroan juga membangun pusat riset dan pelatihan pelatihan tanaman organik di kawasan Cikarang, Jawa Barat. Untuk membiayai kegiatan tersebut, perseroan mengucurkan dana investasi sekitar Rpl3 miliar.  

Saat ini, Martina Berto memproduksi dan memasarkan sejumlah merek produk kecantikan terkemuka seperti Sari Ayu Martha Tilaar, Biokos Martha Tilaar, Mirabella, Cempaka, Martina, Pesona, dan Rudy Hadisuwarno.

Ia meyakini, prospek usaha perseroan akan terus tumbuh. "Perempuan tidak akan pernah bisa lepas dari kosmetik. Bisnis ini akan terus tumbuh dan memiliki prospek yang sangat cerah," katanya.

Mengikuti salah satu program CSR perusahaan

 

Tak Jatuh dari Langit

Hanya kedisiplinan tinggi dan kemampuan handal yang menjadikan Bryan Tilaar menapaki puncak karir sebagai Direktur Utama Martina Berto Tbk. Meski menyandang nama keluarga Tilaar, tak lantas membuat ia secara cepat menduduki jabatan tersebut.

Putra pertama dari pasangan HAR. Tilaar dan Martha Tilaar memang telah dipersiapkan untuk meneruskan kerajaan bisnis keluarga Tilaar yang berawal dari bisnis kecantikan kecil-kecilan di garasi rumah sejak tahun 1970 tersebut.

Untuk itulah, ia digembleng dan ditempa untuk menjadi suksesor sang Ibunda. Ditambah dengan sikap disiplin, naluri bisnis dan kemampuan perencanaan serta strategi yang handal, ia menjalankan bisnis keluarga ini secara profesional.

Ketika masih menjadi mahasiswa di Redlands University di Amerika Serikat, sempat terpikir oleh Bryan untuk memulai perjalanan karir di banyak perusahaan di Indonesia dan bukan di perusahaan yang dimiliki keluarga. “Saya lihat banyak investasi AS di Indonesia, saya ingin belajar seperti itu dengan memulainya dari bawah,” katanya.

Namun selepas kuliah pada tahun 1995, orangtua Bryan malah mendorongnya untuk langsung terjun di perusahaan keluarga dan memulai dari bawah. ”Akhirnya, tahun 1995, setelah lulus kuliah, saya masuk Martina Berto mulai dari bawah sebagai management trainee, setelah itu berkembang pindah ke kantor cabang dan akhirnya jadi Dirut hingga sekarang,” jelasnya.

 

BIODATA

Nama               :  Bryan Tilaar

Lahir                 :  Jakarta, Oktober 1971

Pendidikan:

  1. Bachelor of Science in Business Administration University of Redlands, California, USA (1995)
  2. Executive MBA Education Labora School of Business (1998)
  3. Post Graduate Diploma Executive Education Warren Keegan Institution, New York, USA (2003)
  4. Executive Education Finance & Accounting, Columbia University  (2004)
  5. Columbia Graduate School of Business, New York, USA

 Karir:

  • Management Trainee-konsentrasi di Pemasaran Internasional (1995 – 1996)
  • Assistant Export Manager  PT Tiara Permata Sari - a Martina Berto subsidiary company (Desember 1996 - Agustus 1997)
  • Assistant Product Manager  PT Tiara Permata Sari - a Martina Berto Subsidiary company (September 1997-Januari 1998)
  • Assistant Business Development Manager PT Marthana Megahayu Inti (Februari 1998-Januari 2000)
  • Sales Branch Officer PT Sari Ayu Indonesia (Februari 2000 - Oktober 2000)
  • Key Account Manager (November 2000-Februari 2002)
  • Deputy Chief of President’s Office (Februari 2002 – 2005)                       
  • Direktur Utama PT Martina Berto (2005 – sekarang)                 

 

Dibaca : 1270 kali
Baru dibaca Terpopuler