Jumat, 27 April 2018 | 00:37 WIB

Liputan Malam: Antara Utang dan "Isi Kutang"

Selasa, 17 April 2012 / life & style / st01

 

Pialang News - Jakarta memang masih menjadi kota harapan bagi sebagian orang di Indonesia. Kota yang kerap menjadi menjadi impian bagi orang-orang dari daerah lain di Indonesia ini mampu menjadi magnet dan bisa mengundang orang dari mana saja untuk datang.
 
Begitu beragamnya kehidupan di Jakarta berujung pada tuntutan hadirnya tempat-tempat hiburan yang dapat menjadi pelabuhan bagi mereka yang ingin melepas penat di tengah hiruk pikuk kesibukan pekerjaan.
 
Tidak hanya hiburan yang benar-benar memiliki arti untuk menghibur saja yang disediakan kota Megapolitan ini, namun kehidupan “hiburan” juga dengan mudah dapat kita jumpai di Jakarta.
 
Salah satunya adalah munculnya berbagai kehidupan malam, dari mulai lokasi pijat yang menyediakan layanan plus-plus, night club yang menyediakan layanan striptease hingga lokasi esek-esek yang berbalut night club juga hadir di Jakarta.
 
Tidak heran jika kehidupan malam Jakarta ini bahkan pernah dibukukan oleh Moammar Emka dalam bukunya yang berjudul Jakarta Undercover.
 
Beberapa wilayah yang dapat kita kunjungi jika ingin mendapatkan “hiburan” malam di Jakarta adalah daerah Mangga Besar, Harmoni hingga sekitaran Pasar Baru.
 
Kali ini kita akan sedikit mengupas salah satu lokasi tempat “hiburan” yang berlokasi di seputaran Jalan Samanhudi. Di lokasi yang menyediakan berbagai macam hiburan dari mulai karaoke, hingga tempat “eksekusi” wanita penjaja ini mungkin bisa sedikit menggambarkan mengenai kehidupan malam kota Jakarta.
 
Lokasi yang memiliki inisial CT ini buka mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 04.00 WIB. Pertama kali datang ke tempat ini mungkin kita tidak akan menyangka jika di dalamnya merupakan salah satu lokasi favorit bagi para pria hidung belang yang membutuhkan layanan cinta sesaat.
 
Tampilan mewah bangunan yang terdiri dari 7 lantai tersebut begitu menyihir siapapun yang datang. Di lobi gedung kita belum akan melihat para gadis manis berdandan menor yang menjajakan tubuhnya.
 
Di lantai dasar kita hanya akan melihat adanya mini market dan restoran yang menyediakan makanan dari mulai makanan Indonesia hingga Chinese Food. Namun di pojok lobi kita akan menemui pintu yang dijaga oleh para pria berbadan tegap.
 
Ya itulah salah satu lokasi night club yang menyediakan wanita-wanita yang siap menuntaskan hasrat seksual Anda. Spesialnya di lokasi yang kerap dilabeli bunker ini, selain menyediakan wanita-wanita Indonesia, juga dihadirkan wanita impor seperti dari Mongolia, Russia, Uzbekistan, Thailand, Vietnam dan wanita-wanita dari negara Amerika Latin.
 
Sebelum masuk, setiap pengunjung akan mendapatkan gelang yang ujungnya terdapat nomor. Gelang ini tidak hanya berfungsi sebagai aksesoris namun fungsinya cukup vital, yaitu sebagai alat untuk kita bertransaksi.
 
Setiap kali kita memesan makanan atau minuman kita cukup menunjukan nomor yang ada di gelang tersebut yang nantinya akan dicatat di sistem mereka dan akan dikalkulasi pada saat kita keluar nantinya.
 
Di bunker, minimum Payment untuk tiap pengunjung sebesar Rp75 ribu yang dapat kita tukar dengan segelas bir atau softdrink.
 
Di sini kita juga bisa menghabiskan waktu bermain bilyard. Ditengah-tengah club juga terdapat Bar, para wanita duduk di sofa-sofa yang ada di pojok-pojok ruangan, sedikit berbeda dengan yang lokal, biasanya untuk wanita-wanita Import sofanya berada di belakang Bar yang ada di tengah tersebut.
 
Harga teman kencan di sini memang sedikit mahal, untuk teman kencan lokal saja kita harus merogoh kocek antara Rp500 ribu-Rp1 juta. Fasilitas tersebut terdiri dari pelayanan selama 1 jam, kamar untuk “pertempuran” dan sebuah alat kontrasepsi.
 
Untuk wanita Impor bahkan harganya bisa lebih mahal lagi, minimal kita harus membayar sebesar Rp 1.700.000 dengan fasilitas sama namun dengan durasi "pertempuran" yang lebih lama 30 menit atau sekitar 1 jam 30 menit.
 
 
Murmer Nikmat
 
Nah, bagi yang bermodal cekak tidak perlu khawatir, pasalnya tidak hanya di restoran cepat saji saja yang disediakan paket murah meriah (murmer) nikmat agar bisa tetap mendapatkan pelayanan plus-plus dengan harga yang lebih terjangkau, di sini juga ada paket murmer nikmat untuk melepas hasrat seks Anda.
 
Kalau bunker berlokasi di lantai dasar gedung, untuk yang bermodal cekak bisa mengunjungi night club yang berada di lantai 2. Di sini tata cara berkunjung sama dengan yang ada di bunker.
 
Pengunjung yang masuk akan diberi gelang untuk bertransaksi. Night club di lantai 2 ini memiliki hiburan tambahan berupa sexy dancer yang hadir 2 jam sekali, dari mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Diantara kehadiran sexy dancer, biasanya juga diselingi oleh performance band reguler.
 
Menariknya para sexy dancer ini tidak hanya memamerkan kemolekan tubuhnya di atas panggung. Di sela-sela show, sebagian sexy dancer akan mendatangi para pengunjung dan menawari minuman yang ada di dalam sloki yang dibawa para waitress yang mengikuti kemanapun sexy dancer tersebut berjalan dengan harga per sloki Rp50 ribu, namun terkadang para sexy dancer juga mau jika anda menawar Rp100 ribu untuk 3 sloki.
 
Tawar menawar dengan sexy dancer ini bertujuan selain untuk mendapatkan minuman, juga kesempatan anda menjamah tubuh para sexy dancer tersebut, karena tidak jarang para sexy dancer ini melenggak-lenggokan tubuhnya ataupun memasang kuda-kuda agar anda dapat menjamah tubuh si sexy dancer sambil merayu para pengunjung agar mau membeli minuman yang ada di dalam sloki-sloki tersebut.
 
Merasa “panas” dengan hiburan para sexy dancer, para pengunjung juga bisa langsung mendapatkan pelayanan yang lebih dengan mengajak para wanita yang siap untuk melepas hasrat seksual Anda.
 
Sama seperti para wanita yang ada di bunker, di night club lantai 2 ini, para wanita juga duduk di sofa-sofa yang berjajar di sekeliling night club. Para wanita penjaja cinta sesaat di sini duduk di sofa yang berbeda tergantung dengan grup masing-masing, untuk membedakannya para wanita juga tampil dengan warna pakaian yang berbeda sesuai grupnya.
 
Terdapat 6 grup yang berbeda dan masing-masing memiliki sekitar 20 wanita dengan 3 “Mami” yang siap untuk memperkenalkan para penjaja cinta tersebut. Anda cukup meminta “Mami” untuk menghadirkan wanita pilihan ke meja anda, guna sekedar menemani minum ataupun berlanjut ke peraduan atau istilah yang terkenal di tempat tersebut adalah “betulin genteng”.
 
Harga untuk mendapatkan pelayanan wanita di night club lantai 2 ini juga jauh lebih murah ketimbang di bunker. Di sini para pengunjung cukup membayar sebesar Rp270 ribu untuk ditemani seorang wanita atau Rp400 ribu untuk ditemani 2 wanita sekaligus atau yang dikenal dengan istilah threesome.
 
Fasilitas yang diberikan selain ruangan yang cukup representatif untuk sebuah kamar yang hanya digunakan sesaat, anda juga mendapatkan satu alat kontrasepsi. Lama pelayanan esek-esek di night club lantai 2 ini berlaku selama 1 jam untuk satu sesinya.
 
 
Ironi para wanita
 
Ditengah kegaduhan dan riuh rendah suasana night club sebenarnya ada ironi tersendiri yang terpampang di depan mata. Di saat para pria hidung belang berlomba-lomba untuk mendapatkan pelayanan “cinta satu jam”, ada sosok-sosok yang merasa sebenarnya hidup mereka telah hancur, ya, tidak lain tidak bukan mereka adalah para kupu-kupu malam tersebut.
 
Sebut saja namanya Delima, wanita berusia 19 tahun yang mengaku asli dari salah satu daerah di jawa Barat ini mengatakan, dirinya terpaksa berprofesi sebagai pemuas birahi para lelaki hidung belang karena tuntutan ekonomi.
 
Janda beranak satu yang hanya lulusan SMU ini bingung harus mencari pekerjaan apalagi karena dirinya merasa tidak memiliki skill apapun, makanya ketika tawaran untuk menjadi wanita penghibur datang, dirinya menyanggupi tawaran tersebut.
 
Menurut Delima, dirinya baru sekitar 4 bulan bekerja di sana. Selama bekerja dirinya tinggal di mess yang disediakan oleh pemilik tempat hiburan. Awal bergabung Delima langsung mendapatkan panjer penghasilan senilai puluhan juta.
 
“Hutang” tersebut harus dia bayar dengan melayani para tamu setiap malamnya sampai uang panjer tersebut lunas. Entah berapa lama uang panjer tersebut akan terlunasi olehnya. Pasalnya dari setiap transaksi senilai Rp270 ribu, Delima hanya mendapatkan bagian sebesar Rp80 ribu, sementara sisanya, harus dibagi lagi antara mami dan pemilik tempat hiburan tersebut.
 
“Mau tidak mau saya harus bisa memberikan pelayanan yang maksimal agar mendapatkan uang tips dari para tamu yang besarnya berkisar antara Rp50 ribu-Rp100 ribu,” katanya lirih.
 
Delima mengatakan, dalam semalam dirinya bisa melayani antara 2-4 lelaki hidung belang, jumlah tersebut akan semakin meningkat di akhir pekan, dimana banyak tamu yang datang ke night club tersebut.
 
Beragam perlakuan pernah diterimanya, dari mulai meminta dirinya untuk keluar dari pekerjaan tersebut dan menawarinya menjadi istri simpanan sampai ada pelanggan yang sedikit menderita kelainan seks dengan menyiksa dirinya sambil melakukan hubungan seks (masokis).
 
Delima mengaku dirinya tidak bisa menolak setiap tawaran tamu yang ingin menggunakan tubuhnya sebagai pemuas seks. Meski begitu terkadang dirinya harus sedikit berbohong sedang “datang bulan” jika ia benar-benar sudah merasa tidak sanggup lagi untuk melayani tamu.
 
“Ya bilang saja tiba-tiba mens, jadi nggak bisa ngelayanin lagi,” ujarnya sambil tertawa.
 
Wanita dengan senyum manis tersebut juga terkadang harus menenggak minuman beralkohol yang disodorkan pria teman kencannya agar dapat berhubungan dengan pelanggannya.
 
Dalam hati kecilnya, Delima menuturkan jika Ia ingin sekali segera melunasi uang panjer yang sudah diterimanya, Delima menambahkan dia ingin kembali ke kampung halamannya atau mencari pekerjaan yang lebih diterima di masyarakat.
 
Nasib lebih beruntung mungkin dirasakan oleh Maria. Wanita asal Sumatera ini bekerja sebagai waitress di night club ini. Meski tidak harus melayani para pria hidung belang, namun Maria mengaku dirinya juga kerap mendapatkan perlakuan tidak senonoh.
 
Perlakuan iseng para pengunjung dari mulai merangkul, memegang bagian tubuhnya, berusaha mencium sampai ada yang ingin “menggunakan” dirinya kerap dialami Maria.
 
Namun Maria berusaha bersikap profesional dengan menepis perlakukan tidak senonoh yang diterimanya. “Ya mau gimana lagi, tamu adalah raja, makanya saya berusaha sekuat tenaga untuk menolak namun tidak menyinggung perasaan tamu,” paparnya.
 
Ya, itulah sekelumit kisah tentang kehidupan malam di Jakarta. Di balik kesan menyeramkan dari dunia malam, nyatanya dunia gemerlap ini juga menyuguhkan berbagai pelajaran yang mungkin tidak akan kita temui di bangku sekolah formal tergantung bagaimana kita menyikapinya.

 

Dibaca : 1559 kali
Baru dibaca Terpopuler