Sabtu, 20 Januari 2018 | 08:39 WIB

Rasa Sakit Kini Akan Bisa Terbaca Melalui Pemeriksaan Otak

Jumat, 12 April 2013 / life & style / antara

Washington, investorpialang.com - Para ilmuwan mungkin akan bisa menaksir kegelisahan, depresi, kemarahan bahkan perasaan lain yang diterima otak dengan membaca (scan) otak, kata temuan yang dipubliksikan pada jurnal kedokteran, Rabu lalu.

"Saat ini belum ada cara klinis yang bisa diterima untuk mengukur rasa sakit dan perasaan lain kecuali menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan," kata pimpinan penelitian terseebut, Tor Wager dari Universitas Colorado Boulder.

Tim Wager menggunakan komputer untuk menggali data dan menyisir 114 citra yang masuk ke dalam otak saat seseorang menghadapi berbagai tingkat paparan panas mulai dari yang hangat hingga yang panas menyakitkan.

Dengan menggunakan komputer, para peneliti dapat mengenali tanda-tanda pada syaraf yang sangat jelas untuk tingkat rasa sakit dan rasa sakit itu bisa dikirimkan kepada orang yang berbeda untuk merasakan seberapa rasa sakit itu dengan tingkat kebenaran antara 90-100 persen.

Para ilmuwan itu juga dikejutkan dengan temuan bahwa isyarat itu khusus untuk rasa nyeri secara fisik.

Akhirnya mereka meneliti untuk melihat apakah isyarat syaraf itu dapat melacak saat obat anti nyeri diberikan guna menghilangkan rasa sakit. Hasilnya, isyarat itu berkurang ketika obyek diberi obat penghilang rasa sakit.

Hasil penelitian itu belum dapat diterapkan oleh para dokter untuk menaksir jumlah rasa sakit, tetapi menjadi dasar untuk tugas masa mendatang untuk menguji rasa sakit oleh dokter di rumah sakit.

Wager dan koleganya juga sudah menguji betapa isyarat syaraf itu berhenti saat dilakukan uji jenis sakit yang berbeda.

"Saya pikir ada banyak cara untuk memperluas penelitian ini, dan kami sedang mencari pola pengujian yang sudah kami kembangkan untuk memperkirakan ada tanda berbeda jika Anda mengalami tekanan sakit, atau rasa sakit pada bagian tubuh yang berbeda." "Kami juga mencari tahu lebih lanjut untuk mengembangkan cara mengukur sakit yang parah dengan cara yang sama," kata Wager.

"Memahami penerimaan yang berbeda dari sistem berbeda atas sakit yang kronis dan bentuk penderitaan yang lain adalah langkah penting untuk memahami dan meredakan penderitaan manusia," Wager menambahkan.

Dibaca : 567 kali
Baru dibaca Terpopuler