Kamis, 26 April 2018 | 14:47 WIB

Siklus Properti Melambat Akibat Perekonomian Melemah

Rabu, 28 Agustus 2013 / sectoral / antara

Jakarta, investorpialang.com - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Indonesia Property Watch (IPW) memperkirakan siklus properti di Tanah Air akan melambat sebagai dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Sektor properti juga terkena dampak perekonomian yang melemah. Kondisi ini yang seharusnya diwaspadai oleh para pelaku bisnis properti saat ini," kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Ali, bila kondisi ini tidak bisa teratasi dengan baik oleh pemerintah maka pasar properti diperkirakan akan lebih terpukul dan relatif akan terjadi perlambatan yang lebih dalam lagi.

Ia juga berpendapat pelaku pasar properti segmen menengah atas telah mulai berpikir untuk menghitung ulang bisnis propertinya khususnya untuk proyek-proyek yang menggunakan material luar negeri karena merosotnya nilai rupiah.

"Kehati-hatian pelaku pasar turut dipertaruhkan agar jangan sampai terjadi proyek macet dan berimbas pada kredit macet perbankan," katanya.

Di sisi lain, ujar dia, pasar properti segmen menengah pun relatif akan melambat dengan menurunnya daya beli masyarakat akibat meningkatnya tingkat suku bunga.

Sebelumnya, perusahaan konsultan properti internasional Jones Lang LaSalle menyatakan bahwa Kota Jakarta menunjukkan pertumbuhan terkuat dalam peningkatan harga rumah mewah dari berbagai kota yang disurvey di Asia.

"Jakarta terus melewati semua pasar yang termonitor di Asia," kata Kepala Pemasaran Proyek Residensial Jones Lang LaSalle Indonesia, Luke Rowe, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (21/8).

Berdasarkan laporan kuartal II tahun 2013, harga rumah mewah di Jakarta menunjukkan peningkatan nilai sebesar 34,2 persen yoy (tahun ke tahun), sedangkan yang terkuat kedua adalah Beijing dengan 18,7 persen yoy.

Sementara bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, harga di Jakarta juga meningkat lebih tinggi dibandingkan kota lainnya yaitu sebesar sembilan persen qoq (quartal ke quartal). Sedangkan tempat kedua perbandingan harga rumah mewah antarkuartal juga tetap ditempati Beijing dengan peningkatan 6,7 persen qoq.

Menurut Luke Rowe, pasar di Jakarta terus berkembang seiring dengan semakin banyaknya proyek baru yang diluncurkan yang mendapat respon yang baik.

Kenaikan itu dinilai juga karena terbatasnya pasokan dan ditambah dengan semakin meningginya permintaan dari kota yang dalam keadaan padat bisa berpopulasi hingga lebih dari 20 juta orang tersebut.

Jones Lang LaSalle menyatakan bahwa Jakarta akan terus melanjutkan pertumbuhan harganya dibandingkan dengan pasar lainnya di Asia di sisa tahun 2013.

Dibaca : 673 kali
Baru dibaca Terpopuler