Sabtu, 18 Nopember 2017 | 19:07 WIB

Harga Udang Indonesia Melambung

Senin, 26 Agustus 2013 / sectoral / antara

Palu, investorpialang.com - Harga udang Indonesia meningkat tajam pada Agustus 2013 karena suplai komoditas tersebut di pasar dunia menurun akibat gagal panen di beberapa negara penghasil serta dampak depresiasi rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat.

Saat ini, kata Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) kawasan Timur Indonesia H. Hasanuddin Atjo, harga udang budidaya jenis windu dan vaname di tingkat pembudidaya di Jawa Timur menembus angka Rp75.000,00 sampai Rp94.000,00 per kilogram sesuai ukuran besar-kecilnya.

Saat dihubungi melalui telepon di sela studi komparasi di Pelabuhan Perikanan Samudra Muara Baru dan Pelabuhan Perikanan Pantai Muara Angke, Jakarta, Minggu, Hasanuddin Atjo merinci, harga udang ukuran 70 ekor per kilogram harganya Rp75.000,00, ukuran 50 ekor seharga Rp86.000,00 dan ukuran 40 ekor mencapai Rp94.000,00.

"Harga ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang rata-rata Rp48.000,00 per kilogram," kata Hasanuddin Atjo, pengusaha tambak udang dan penemu sistem budidaya udang vaname super intensif dengan produksi 153 ton per hektare di Kabupaten Baru, Sulsel.

Menurut dia, ada dua faktor utama yang menjadi penyebab meningkatnya harga udang tersebut yakni pertama adalah negara-negara penghasil udang utama dunia seperti China, Thailand, Vietnam, dan Meksiko mengalami gagal panen akibat serangan penyakit yang disebut "EMS" (early mortality syndroms) yang diduga disebabkan oleh sejenis bakteri.

Konsekuensi dari wabah tersebut adalah stok udang dunia menurun sementara negara-negara pembeli seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang membatasi komoditas tersebut dari negara yang sedang terkena wabah EMS.

Penyebab lainnya adalah melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini telah menembus angka Rp11.000. Namun faktor ini pengaruhnya dinilai masih kecil.

Penemu sistem budidaya udang vaname super intensif di Kabupaten Baru itu mengemukakan bahwa tinginya harga komoditas tersebut hstud udang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan rakyat dan perolehan devisa negara. Hal itu mengingat saat ini Indonesia merupakan salah satu negara penghasil utama udang yang dinyatakan bebas dari wabah EMS.

Indonesia pada 2012 memproduksi sebesar 405.000 udang dan diprediksi tahun 2013 akan meningkat menjadi hampir 500.000 ribu ton.

Doktor perikanan dari Universitas Hasanuddin Makassar itu memperkirakan kondisi perudangan dunia akan pulih kembali paling cepat dua atau tiga tahun mendatang.

Terkait dengan wabah EMS itu, upaya yang telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI bekerja sama dengan Shrimp Club Indonesia antara lain adalah memperketat masuknya sarana dan prasarana budidaya yang berasal dari negara yang sedang terkena wabah, memperbaiki mutu benih serta sosialisasi dan pengawasan tentang cara berbudidayaan udang yang baik dan berkelanjutan.

Selain itu juga dilakukan percontohan-percontohan serta pendampingan di beberapa sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, Lampung dan Sulawesi Selatan.

Peluang Sulteng Saat ditanya tentang prospek Sulawesi Tengah, Hasanuddin Atjo yang uga Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng ini mengatakan bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunggulan komparatif untuk menjadi salah satu daerah penghasil udang terkemuka di Indonesia.

Keunggulan itu antara lain adalah masih baiknya kondisi lingkungan perairan laut di tiga 'cluster' pengembangan yaitu Selat Makassar-Laut Sulawesi (meliuti Kabupaten Buol, Tolitoli dan Donggala); Teluk Tomini (meliputi Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Unauna dan Banggai bagian barat) serta Teluk Tolo (Banggai bagian timur, Banggai Kepulauan, Banggai laut dan Morowali serta Morowali Utara).

Keunggulan lainnya adalah terbitnya regulasi yang antara lain menetapkan Kota Palu bersama Bitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia yang nantinya akan memperkuat daya saing komoditi daerah ini.

Ia juga menyebutkan bahwa mulai 2013 Sulawesi Tengah telah memiliki cadangan energi listrik yang berlimpah dan memungkinkan industri tumbuh lebih pesat, termasuk budidaya udang yang juga membutuhkan ketersediaan listrik yang memadai dan terjamin suplainya.

Namun demikian, katanya, daerah ini masih diperhadapkan oleh beberapa faktor penghambat antara lain infrastruktur jalan, air bersih, dan masalah sosial termasuk di dalamnya kemudahan, kenyamanan dan keamanan berinvestasi yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh instansi terkait.

"Bila di Sulawesi Tengah tercipta iklim yang kondusif untuk berinvestasi, maka ke depan daerah ini akan menjadi salah satu penghasil udang terkemuka dan paling tidak bisa memproduksi udang sebanyak 200 ribu ton setahun dengan nilai 1,6 miliar dollar US atau Rp16 triliun, mampu menyerap tenaga kerja sampai 80 ribu jiwa," ujarnya.

Dibaca : 868 kali
Baru dibaca Terpopuler