Sabtu, 18 Nopember 2017 | 19:07 WIB

Gejolak Nilai Tukar Persulit Perhitungan Industri

Kamis, 29 Agustus 2013 / sectoral / antara

Jakarta, investorpialang.com - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mempersulit perhitungan produksi barang oleh industri yang masih mengandalkan bahan baku impor.

"Sepanjang komponen produksinya diimpor pakai dolar AS, tentu perhitungannya menjadi susah. Itu makanya Ketua Umum Apindo Sofyan Wanandi bilang nilai tukar rupiah Rp11.000 terhadap dolar AS tidak apa-apa, asalkan stabil," kata Menperin MS Hidayat, seusai mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR RI terkait empat paket kebijakan ekonomi pemerintah, di Jakarta, Rabu.

Menperin mengatakan saat ini pemerintah melalui Menteri Keuangan Chatib Basri sedang bekerja keras dengan timnya agar setidaknya dalam dua bulan ke depan rupiah dapat kembali stabil.

"Saat ini jangan berspekulasi yang buruk, semua usaha sekarang kita lakukan. Saya dan Chatib Basri sudah berdialog juga dengan pengusaha besar dan luar negeri untuk mendapatkan masukan bagaimana yang terjadi di pasar," ujar dia.

Dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi mengatakan pengusaha dipersulit dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini.

"Saya tidak percaya lagi dengan target-target rupiah di bawah Rp10.000 terhadap dolar AS. Buktinya bergejolak terus. Sebenarnya bagi pengusaha tidak apa-apa di atas Rp10.000 asalkan ada kepastian posisinya stabil," kata Sofyan.

Sofyan menjelaskan pengusaha Indonesia masih banyak mengandalkan bahan baku impor dalam proses produksinya. Dalam mendatangkan bahan baku impor pengusaha menggunakan dolar AS.

Menurut Sofyan, gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat pengusaha kesulitan dalam menghitung biaya mendatangkan bahan baku dan penjualan produksi.

"Pengusaha Indonesia itu banyak impor bahan pendukung, jadi tidak bisa kita tidak menaikkan harga produksi. Contohnya industri tekstil kita itu 100 persen kapasnya impor," kata dia.

Sofyan menyarankan bagi perusahaan-perusahaan yang masih memungkinkan bertransaksi dengan rupiah agar tetap menggunakan uang rupiah. Sehingga perhitungan produksi tidak ikut terpengaruh gejolak nilai tukar.

Dibaca : 667 kali