Selasa, 23 Januari 2018 | 18:56 WIB

Kebutuhan Gas Bumi Industri 3.052 MMSCFD

Kamis, 01 Agustus 2013 / sectoral / antara

Jakarta, investorpialang.com - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memperkirakan kebutuhan gas bumi untuk industri dalam negeri pda 2014 sekitar 3.053,59 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

"Pasokan gas kita ada dimana-mana, tapi terputus di tengah, seperti dari Semarang dan Surabaya 'tumpah' di mana-mana," kata Ketua Koordinator Industri Gas Kadin Ahmad Widjaja dalam seminar yang bertajuk "Optimalisasi Regulasi Gas Nasional Menuju Harga Gas yang Tepat Guna bagi Industri" di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu.

Ahmad mengatakan kebutuhan energi gas bumi, terbagi sebagai bahan baku dan sebagai sumber energi.

Sebagai bahan baku, dia mengatakan kebutuhannya mencapai 1.175,50 MMSCFD, sementara untuk kebutuhan sebagai sumber energi mencapai 1.876,09 MMSCFD.

Dia memaparkan kebutuhan energi gas bumi sebagai bahan baku paling besar dikontribusi oleh industri pupuk sebanyak 805 MMSCFD dan disusul industri petrokimia sebesar 370,50 MMSCFD.

Sementara itu, kebutuhan kebutuhan energi gas bumi sebagai sumber energi paling besar dikontribusi oleh industri logam yang mencapai 998,22 MMSCFD.

Dia mengatakan kebutuhan energi gas bumi untuk industri dalam negeri meningkat sekitar 1.000 MMSCFD dibandingkan kebutuhan gas bumi pada 2010 yang hanya mencapai 2.785,73 MMSCFD.

Namun, dia mengatakan kebutuhan akan gas bumi tersebut tidak sejalan dengan pasokan gas dari 12 region yang diperkirakan hanya 1,130 MMSCFD.

Sementara itu, dia menyebutkan cadangan gas saat ini sebanyak 152,9 trilliun standard cubic feet (TSFC), cadangan terbukti 104,7 TSCF dan cadangan potensial 48,2 TSCF.

Ahmad memaparkan masih banyak kendala permasalahan gas, baik dari segi regulasi maupun di hulu dan di hilir.

"Kita bisa lihat rumitnya penguasaan migas dari hulu ke hilir. Seharusnya untuk peningkatan gas bumi harus menggunakan pendekatan kesejahteraan rakyat bukan memaksimalkan pendapatan negara," katanya.

Dia menjelaskan permasalahan hulu di antaranya, adanya "existing contract" yang tidak terpenuhi, lokasi cadangan gas bumi yang "stranded" atau marjinal (terpinggirkan), adanya oenurunan produksi gas bumi existing, adanya selang waktu yang cukup lama antara permintaan gas bumi dengan pengembangan lapangannya.

Dari sisi hilir, dia menyebutkan, belum tersedianya infrastruktur gas bumi secara utuh dan terpadu, adanya "gap" (halangan) antara daya beli pasar, dalam negeri dengan harga gas secara perekonomian dan adanya peningkatan permintaan dalam negeri akan gas bumi yang cukup signifikan.

Ahmad menambahkan permasalahan tersebut juga dipicu dengan permasalahan di kawasan atau regional, seperti kompetisi yang semakin meningkat dan dominasi minyak bumi sebagai sember energi utama.

"Peranan 'energy security' (ketahanan energi) dinilai sebagai kunci pertumbuhan ekonomi di kawasan," katanya.

Selain itu, dia menyebutkan faktor global juga memengaruhi, di antaranya keterkaitan harga gas bumi dengan kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah-Iran dan keterbatasan LNG di lepas pantai.

"Berkurangnya cadangan minyak dunia mengarah pada diversifikasi pada gas isu lingkungan yang mengarah pada 'clean energy'," katanya.

Dibaca : 623 kali
Baru dibaca Terpopuler