Sabtu, 20 Januari 2018 | 08:39 WIB

HKTI Minta Alih Teknologi Terkait Investasi China-Malaysia

Senin, 29 Juli 2013 / sectoral / antara

Jakarta, investorpialang.com - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta adanya alih teknologi yang berarti terkait rencana kelompok agribisnis China-Malaysia berinvestasi senilai Rp20,3 triliun untuk membangun lahan persawahan dan proyek pengolahan terpadu pada November 2013 di Indonesia.

Ketua Badan Pertimbangan Oranisasi (BPO) HKTI Ahmad Mubarok di Jakarta, Sabtu, mengatakan, investasi tersebut kalau tidak disertai dengan alih teknologi tidak akan mendatangkan keuntungan yang berarti bagi masyarakat di Tanah Air.

"Ini harus ada alih teknologi di dalamnya, kalau sepenuhnya mereka akan menggarap pasar kita, maka semangat kemandirian itu tidak akan pernah terbangun," kata Ahmad Mubarok.

Ia mengatakan, investasi tersebut memang potensial untuk mendongkrak sektor pertanian Indonesia tetapi bisa berpotensi untuk mengerdilkan peran petani di Indonesia.

Oleh karena itu, pada dasarnya, kata dia, Indonesia memerlukan konsep besar di bidang pertanian termasuk mengubah paradigma masyarakat khususnya petani di Indonesia tentang petani yang miskin.

"Gagasan seperti ini sebenarnya sudah lama dan pernah akan dilaksanakan oleh perusahaan asing di Papua tetapi masih sekadar wacana tapi kalau ini akhirnya direalisasikan kita harus tekankan bahwa ketergantungan kepada asing yang keliru akan membuat petani kita sulit berdiri di atas kaki sendiri," katanya.

Padahal, menurut dia, Indonesia masih memiliki potensi besar untuk swasembada pangan karena potensi alam yang mendukung.

"Kita hanya perlu konsep yang besar oleh pemimpin besar dengan langkah yang besar," katanya.

Mubarok sendiri memandang sektor pertanian di Indonesia belum digarap optimal dimana sebagian besar petani masih berkutat dengan sistem pertanian tradisional.

Malaysia Chronicle belum lama ini merilis tentang rencana perusahaan perkebunan China Liaoning Wufeng Agricultural yang telah menandatangani nota kesepakatan kerja sama dengan Malaysian Amarak Group dan perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah Mandiri.

Wufeng merupakan pemodal utama dalam rencana pengembangan dan pengolahan padi dan kedelai di Subang, Jawa Barat, Indonesia. Amarak diketahui berkontribusi sebesar 20 persen dari investasi awal di Indonesia.

Bahkan, sebuah laporan menyatakan jumlah investasi tersebut bisa berkembang mencapai Rp50,8 triliun.

Perusahaan China itu berharap bisa memasuki pasar berkembang di Tanah Air sekaligus memenuhi pasokan beras domestik.

Dibaca : 578 kali
Baru dibaca Terpopuler