Jumat, 15 Desember 2017 | 21:02 WIB

AISKI Siap Dukung Pemerintah Wujudkan Swasembada Pangan

Senin, 21 Januari 2013 / sectoral / antara

Jakarta, investorpialang.com - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) menyatakan kesiapannya mendukung pemerintah mewujudkan swasembada pangan pada 2014.

"Problem lahan marginal dan miskin hara, sudah bisa diatasi dengan serbuk sabut kelapa. Singkong yang biasanya hanya bisa dipanen sebanyak 100 ton per hektare, bisa ditingkatkan hingga 800 ton per hektare dengan menggunakan serbuk sabut kelapa," kata Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI Ady Indra Pawennari di Jakarta, Sabtu.

Menurut Ady, manfaat serbuk sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas lahan yang marginal dan miskin hara adalah jawaban yang tepat untuk segera menghentikan impor bahan pangan, khususnya singkong. Dengan bibit singkong Formula Satu (F-1) yang di-"treatment" dengan serbuk sabut kelapa, AISKI yakin swasembada singkong akan tercapai.

"Tahun lalu, kita dikejutkan dengan impor singkong dari Thailand, Vietnam dan China. Insya Allah, tahun depan kita sudah siap ekspor singkong. Jangan ragu-ragu lagi, dengan serbuk sabut kelapa kita bisa wujudkan swasembada singkong," ujar Ady.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, potensi lahan untuk pengembangan tanaman singkong, masih sangat besar yaitu lahan tidur seluas 5,84 juta hektare dan lahan sawah tadah hujan 1,18 juta hektare. Pemerintah menargetkan produksi singkong pada 2014 mencapai 27,6 juta ton dengan luas lahan tanaman 1,5 juta hektare.

"Dalam hitungan ujicoba dan simulasi AISKI, baik di lahan subur maupun lahan marginal dan miskin hara, produksi singkong dengan menggunakan treatment serbuk sabut kelapa dapat ditingkatkan menjadi 500 - 800 ton per hektare. Jadi, untuk mencapai target 27,6 juta ton itu, AISKI hanya butuh lahan seluas 55 ribu hektare," jelas Ady.

Ady mengakui masih kesulitan memasyarakatkan penggunaan serbuk sabut kelapa kepada petani dan perusahaan-perusahaan pertanian dan perkebunan di Indonesia. Berbeda dengan perusahaan pertanian dan perkebunan di negara-negara maju, seperti China, Korea, Jepang, Jerman, Italia, Kanada dan Spanyol.

"Sampai saat ini, 95 persen penyerapan serbuk sabut kelapa Indonesia, masih pasar ekspor. Padahal, manfaatnya luar biasa untuk meningkatkan sektor pertanian dan perkebunan dalam negeri. Andai saja penggunaan serbuk sabut kelapa ini sudah masyarakat di kalangan petani, nilai impor bahan pangan Indonesia yang mencapai angka Rp90 triliun per tahun dapat dikurangi," tambahnya.

Ady menceritakan hasil ujicoba dan simulasi yang dilakukan koleganya, Tiara di Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan menggunakan serbuk sabut kelapa sebagai media tanam, ia sukses memanen singkong siap jual sebanyak 800 ton di lahan seluas 1 hektare.

Bibit singkong yang dibudidayakan Tiara di Samarinda bukanlah bibit singkong biasa, tapi bibit hasil inkubasi DNA (deoxyribosenucleid acid) singkong dari Taiwan dan singkong asli Kalimantan Timur.

Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150 - 200 mm pada umur 1 - 3 bulan, 250 - 300 mm pada umur 4 - 7 bulan, dan 100 - 150 mm pada fase menjelang dan saat panen. Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar dan panjang.

Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam serbuk sabut kelapa juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K). (ANTARA)

Dibaca : 318 kali
Baru dibaca Terpopuler