Senin, 20 Nopember 2017 | 11:05 WIB

Kondisi Industri Jasa Keuangan Terjaga dan Stabil

Jumat, 12 Maret 2015 / sectoral / investor pialang

IPNEWS - Jakarta, 12 Maret 2015. Otoritas Jasa Keuangan menilai bahwa secara umum kondisi sektor jasa keuangan domestik sampai Februari masih terjaga, dengan stabilitas yang memadai ditandai terus menguatnya arah perdagangan pasar saham dan pasar surat utang domestik.

Demikian kesimpulan Rapat Bulanan Dewan Komisioner OJK yang  diselenggarakan Rabu 11 Maret 2015 untuk mengevaluasi perkembangan dan profil risiko di industri jasa keuangan.  Kinerja keuangan dan profil risiko di lembaga jasa keuangan juga terpantau masih dalam kondisi normal.

Pasar modal domestik pada Februari 2015 melanjutkan kecenderungan menguat. Hal ini terlihat dari peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yang disertai oleh net buy investor non-residen di pasar saham maupun pasar SBN.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi penguatan pasar saham dan surat utang domestik di antaranya adalah pengaruh sentimen global antara lain normalisasi The Fed yang belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat, kesepakatan bailout Yunani, dan quantitative easing zona Euro; serta membaiknya data ekonomi domestik antara lain data inflasi, neraca perdagangan, dan transaksi berjalan.

Kondisi keuangan lembaga jasa keuangan masih terpantau dalam kondisi baik. Di industri jasa keuangan, pertumbuhan kredit perbankan dan piutang pembiayaan per Januari 2015 tercatat masing-masing sebesar 11,55% dan 4,68% yoy, melambat dibandingkan bulan sebelumnya (masing-masing 11,58% dan 5,22% yoy) sejalan dengan proses penyesuaian dalam perekonomian domestik.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) perbankan per Januari 2015 tercatat cukup tinggi sebesar 21,01% naik dibandingkan posisi Desember 19,57%. Rentabilitas dan efisiensi perbankan juga tercatat stabil. Pada tahun 2015 ini, sejalan dengan membaiknya proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik, pertumbuhan kredit perbankan dan piutang pembiayaan diperkirakan akan meningkat.

Di industri perasuransian, kecukupan investasi asuransi jiwa maupun asuransi kerugian untuk menutup kewajiban kepada  pemegang  polis juga tercatat masih memadai.

Likuiditas di industri perbankan dan perasuransian terpantau dalam kondisi stabil. Kondisi likuiditas perbankan masih terjaga. Perbankan memiliki alat likuid yang memadai untuk mengantisipasi potensi penarikan Dana Pihak Ketiga (DPK). Masih memadainya ketahanan likuiditas perbankan ditunjukkan oleh rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK), yang masing-masing tercatat sebesar 89,84% dan 18,18% per akhir Februari 2015. Angka ini berada jauh di atas threshold masing-masing 50% dan 10%.

Sementara di pasar saham, rata-rata bid-ask spread (perbedaan harga beli dan jual pada suatu waktu tertentu) pada Februari 2015 menyempit dibandingkan rata-rata bulan sebelumnya, turut ditopang oleh peningkatan rata-rata harian nilai transaksi perdagangan saham.

Risiko kredit di industri jasa keuangan berada pada level yang relatif rendah. Kualitas kredit perbankan tergolong cukup baik meski mengalami kenaikan tipis, tercermin dari tingkat kredit bermasalah (Non-Performing Loan) per Januari yaitu sebesar 2,23% gross dan 1,15% net dibanding posisi Desember 2,04% dan 1,01%.

Pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing) di perusahaan pembiayaan juga relative rendah, yaitu sebesar 1,48% per Januari 2015. Baik NPL maupun NPF terjaga pada level yang masih jauh di bawah threshold 5%.

Secara umum risiko pasar di industri jasa keuangan relatif rendah dan masih dapat dikelola dengan baik. Rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan per Januari 2015 berada pada level 1,68%, menunjukkan perkembangan positif dibandingkan bulan sebelumnya 2,16%. Sementara itu, di industri perasuransian dan dana pensiun, risiko pasar cenderung menurun sejalan dengan penguatan pasar bulan Januari dan Februari 2015.

Di industri pembiayaan, gearing ratio (tingkat utang) perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 3,54 kali, jauh di bawah ketentuan maksimum 10 kali. Sementara itu, eksposur utang valas perusahaan pembiayaan per Januari 2015 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yang turut dipengaruhi oleh pelemahan nilaitukar Rupiah. Namun, perusahaan pembiayaan umumnya telah melakukan hedging ataupun natural hedging.

Ke depan, OJK senantiasa mencermati beberapa perkembangan utama dalam perekonomian global dan domestik yang berpotensi berdampak terhadap kondisi sektor jasa keuangan nasional. Perkembangan global yang dicermati antara lain pelaksanaan normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), perkembangan ekonomi Jepang dan Eropa, pelambatan ekonomi negara-negara berkembang khususnya Tiongkok, dan pergerakan harga komoditas dunia.

Di dalam negeri, OJK mencermati beberapa perkembangan seperti pergerakan nilai tukar Rupiah dan dampaknya terhadap sektor jasa keuangan, serta kondisi fundamental makro ekonomi domestik. OJK terus mempersiapkan berbagai langkah antisipasi agar faktor-faktor risiko tersebut tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. OJK juga memperkuat koordinasi dengan instansi-instansi terkait, termasuk melalui Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). 

Dibaca : 637 kali
Baru dibaca Terpopuler