Sabtu, 18 Nopember 2017 | 18:52 WIB

Nafas Baru Reksa Dana Penyertaan Terbatas

Kamis, 26 April 2012 / derivative / st05

 

Pialang News - Aliran masuk dana investasi asing ke dalam negeri perlahan tapi pasti mulai mengalir ke pasar modal domestik sejak peringkat utang dan investasi Indonesia masuk ke dalam kategori layak investasi pada akhir tahun lalu. 

Apa yang bisa dilakukan untuk menampung dana besar di pasar modal? Reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) adalah salah satunya.

Saat ini Bapepam-LK sedang mengembangkan RDPT, bentuk dana investasi swasta (private equity fund) yang skemanya dibentuk pemerintah untuk diarahkan ke investor profesional dengan cara penawaran terbatas. 

Sifat penawaran terbatas (private placement) terhadap produk tersebut berarti hanya dapat ditawarkan kepada pihak yang terbatas, dan penawaran RDPT juga hanya dapat dilakukan bagi investor profesional.

Yang diklasifikasikan sebagai pemodal profesional adalah pemodal yang memiliki kemampuan untuk membeli unit penyertaan dan melakukan analisis risiko terhadap RDPT, sehingga bukanlah investor ritel yang berkemampuan finansial terbatas. Hingga akhir tahun lalu, sudah ada 92 RDPT yang didaftarkan kepada otoritas pasar modal. Portofolio produk itu terdiri dari reksa dana berbasis proyek sektor riil dan efek pasar modal.

Data akhir tahun Bapepam-LK setiap tahunnya menguraikan jumlah RDPT pada tahun 2008 yang tercatat ada 34 produk RDPT diterbitkan, dan membengkak dua kali lipat pada 2009 karena beberapa proses lain. Pada tahun yang sama, satu RDPT sempat diperiksa di Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK karena diduga terjadi kesalahan atau kelalaian dalam pengelolaannya.

Era tertutup RDPT berangsur sirna. Pada tahun 2010, Bapepam-LK mulai menyebutkan jumlah dana kelolaan RDPT yang mencapai Rp28,11 triliun, yang merupakan 16,44% dari total jumlah dana kelolaan reksa dana manajer investasi yang jumlahnya mencapai Rp170,92 triliun. Dana kelolaan itu ditampung oleh sebanyak 97 RDPT, sedangkan yang terbit dan didaftarkan pada tahun tersebut sebanyak 36 produk.

Namun, sepanjang tahun 2011, hanya tercatat ada 4 produk RDPT yang terbit dan secara kumulatif, meskipun jumlah dana kelolaannya meningkat jadi Rp35,2 triliun. Jumlah itu merupakan bagian 17,56% dari total jumlah dana kelolaan reksa dana sebesar Rp201,53 triliun. Apa penyebab penurunan jumlah RDPT baru sepanjang 2011? Ternyata Bapepam-LK sedang merevisi secara khusus skema produk itu agar lebih terdiversifikasi. 

Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto, yang pada awal Januari 2012 masih menjabat, mengatakan selama peraturan masih dikaji, belum ada perusahaan manajer investasi yang dapat mencatatkan RDPT baru yang berbasis portofolio efek murni. 

Peraturan yang akan direvisi tersebut bernama IV.C.5 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif Penyertaan Terbatas. Karena peraturan No.V.C.5 yang masih berlaku tidak membatasi batas dan jenis portofolio RDPT, maka dalam praktiknya pelaku pasar modal dapat memanfaatkan produk itu untuk merestrukturisasi efek pasar modal milik investor.

Restrukturisasi itu dilakukan dalam bentuk penilaian efek dengan metode yang dinilai wajar tanpa melihat dari harga pasarnya yang masih dinilai anjlok, terutama sejak krisis ekonomi global pada 2008 sempat terasa getarannya di pasar modal dalam negeri.

Saat ini, agar lebih beragam dan tak hanya mengandalkan produk berbasis efek pasar modal dan proyek sektor riil, pemerintah juga sedang mengembangkan RDPT yang memperjelas batas antara portfolio efek pasar modal dan sektor riil, yang sebelumnya belum dibatasi. 

RDPT tersebut juga didedikasikan untuk menampung RDPT yang ingin membiayai proyek yang dilakukan oleh UMKM dan pelaku ekonomi mikro, meskipun harus memiliki perantara yang dapat menjamin atau mengawasi kelangsungan proyek tersebut. Selain kepada UMKM dan ekonomi mikro, Bapepam-LK juga sedang mengkaji adanya RDPT untuk koperasi, meskipun masih menyinkronkan beberapa perbedaan dengan catatan keuangan produk ekonomi dalam negeri tersebut.

Bagaimana prospeknya?

Masa depan RDPT sudah mulai terlihat. Dari empat RDPT yang terbit pada masa tenggang itu saja, salah satunya produk yang diberi lampu hijau dari Bapepam-LK adalah PT PNM Investment Management yang menerbitkan RDPT PNM Pembiayaan Mikro BUMN 2011. Produk berdana kelolaan Rp200 miliar itu terbit pada 27 Desember 2011. 

RDPT tersebut dialamatkan untuk mengatasi pendanaan industri usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang sebelumnya ditengarai hanya mendapatkan sumber dana dari modal sendiri atau pinjaman dari lintah darat. 

Dari total jumlah UMKM yang ada, sebanyak 68,7% ditengarai masih terjebak dengan sumber pendanaan tradisional tadi. Produk investasi itu menggunakan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) yang diterbitkan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai aset dasarnya. PNM Investment sendiri merupakan salah satu anak usaha PNM.

MTN yang digunakan manajer investasi pimpinan MQ Gunadi tersebut bernama MTN IV/2011 yang diterbitkan pada 23 Desember 2011. Dana dari surat utang yang dilepas induk usaha PNM Investment itu sekaligus menjadi sumber pendanaan pembiayaan UMKM yang disalurkan melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM).

Selain PNM Investment, manajer investasi lain yang juga berencana menerbitkan RDPT berbasis proyek penyaluran pinjaman kepada UMKM adalah PT Danareksa Invesment Management.

Pilot Project

Sebelumnya, penerbitan produk yang dijadikan pilot project untuk menerapkan peraturan RDPT sebagai private equity fund adalah RDPT Bahana Private Equity Pelabuhan 1. Produk jahitan PT Bahana TCW Investment Management itu ditujukan untuk membiayai pembangunan pelabuhan EastKal Base Supply Base di Penajam, Balikpapan, Kalimantan Selatan.

Analis Riset PT Infovesta Utama Rudiyanto, pernah mengatakan dirinya optimistis karena revisi peraturan itu akan membuat industri pengelolaan investasi lebih jelas.  Dia menilai ada beberapa ketentuan di dalam peraturan RDPT itu yang dinilai masih di dalam wilayah abu-abu. “Salah satunya peraturan itu tidak membatasi sama sekali underlying asset RDPT, jadi bisa pakai efek apa saja, baik yang berbasis proyek ataupun efek biasa.”

Dengan longgarnya peraturan RDPT tersebut bisa dan sudah dimanfaatkan beberapa MI hanya untuk membungkus efek yang kurang likuid di pasar modal agar portofolio efeknya tidak jelek di dalam pembukuan masing-masing investor. Menurut Rudiyanto, klasifikasi yang akan diatur bagi RDPT sebaiknya tidak membatasi pada efek pasar modal secara tegas. 

Menurutnya, salah satu bentuk dasar RDPT itu adalah bertujuan mencatatkan sebuah perusahaan atau proyek menjadi perusahaan tercatat di bursa sebagai jalan keluar bagi investornya untuk melepas kepemilikannya dan meraup keuntungan.

Skema RDPT yang sudah direvisi itu memungkinkan praktek private equity fund dilakukan di dalam negeri dengan menggunakan jasa manajer investasi yang semakin terawasi pemerintah. Semaraknya produk RDPT memungkinkan praktek private equity fund di Indonesia semakin teregulasi akan semakin meyakinkan bagi investor yang akan berinvestasi di dalam negeri.

Mengapa RDPT lebih aman dibandingkan skema private equity fund global:

  1. Skemanya dirancang dan berdasarkan pemantauan dari Bapepam-LK, sehingga segala macam perselisihan akan menjadi pertimbangan otoritas pasar modal.
  2. Pelaksanaannya dieksekusi oleh manajer investasi yang diawasi oleh Bapepam-LK, sehingga ada pihak lain yang mengetahui transaksi tersebut, tidak hanya dua pihak seperti yang terjadi di praktek private equity fund biasa.
  3. Dapat dijadikan pilot project untuk menerapkan kebijakan baru karena skemanya yang masih baru.
Dibaca : 1883 kali
Baru dibaca Terpopuler