Senin, 20 Nopember 2017 | 11:02 WIB

ETF Syariah : Biar Belum Laku, Asal Ada Dulu

Rabu, 11 September 2012 / derivative / mp
ETF Syariah : Biar Belum Laku, Asal Ada Dulu

Atas nama likuiditas, regulator pasar modal tak bosan-bosannya melakukan terobosan dan pengembangan. Salah satunya, memfasilitasi kehadiran produk (Exchange Traded Fund /ETF) berbasis saham syariah.

Banyak jalan menuju Roma. Seolah tak ingin kehabisan akal, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) terus mengembangkan pilihan investasi bagi pemodal dilantai bursa. Seluruh peluang coba dipetakan sehingga menarik minat khalayak. Tak terkecuali, produk-produk investasi berbasis syariah berserta turunannya.

Jika reksa dana syariah relatif berhasil menggaet keinginan investor, lain halnya dengan ETF berbasis saham-saham berkaidah Islam. Tak heran, produknyapun masih jauh dari harapan. Perusahaan manajer investasi (MI) enggan mengembangkan produk tersebut karena khawatir tidak laku diserap pasar.

Otoritas mungkin berpikir begini; jika tidak dimulai dengan sarana produk, mau menunggu sampai kapan investor kita berkembang? Persis seperti perdebatan antara telur dan ayam, harus ada yang memulai. Atas dasar itulah,  Bapepam   mendorong perusahaan MI menyediakan produk ETF di bursa local guna menggaet investor.

Going concern Bapepam ini sejalan dengan potensi dan perkembangan pasar syariah yang tumbuh signifikan. Dari deretan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI),   periode 12 Mei 2011 – 15

April 2012, sebanyak 258 saham yang tergabung dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mampu tumbuh sebesar 10,03 persen. Pencapaian ini menjadikan ISSI sebagai indeks dengan pertumbuhan tertinggi dari 20 jenis indeks penghuni bursa.

Jumlah tersebut jauh melampaui kenaikan Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) di periode yang sama sebesar 6,22 persen. Sementara pertumbuhan 30 saham Jakarta Islamic Index

(JII) yang masih satu klan, lebih tinggi dibandingkan indeks LQ-4 yakni 5,05 persen berbanding 1,20 persen. Meski demikian, pertumbuhan saudara tua indeks berbasis syariah ini masih lebih rendah dibanding ISSI di periode yang sama.

Melihat perkembangan ini, sejumlah perusahaan MI mulai menunjukkan geliatnya. Mereka tengah memilah-milah sejumlah saham syariah untuk dijadikan underlying asset produk ETF. Apalagi Bapepam segera menelorkan revisi aturan Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah (DES). Beleid itu menambah jumlah saham dalam DES. Tujuannya, agar geliat MI menerbitkan reksa dana berbasis Indeks syariah makin tokcer mengingat ETF produk yang tergolong baru di pasar modal Indonesia. Jangankan berbasis syariah, ETF konvensional saja masih minim.

Mengacu data BEI per awal Maret 2012, Nilai Aktiva Bersih (NAB) seluruh produk ETF sekitar Rp500 miliar. Jumlah tersebut memang masih jauh dibawah NAB reksa dana terproteksi sebesar Rp41 triliun namun masih berpotensi terus meningkat seiring   perkembangan ETF di pasar modal.

Saat ini ada dua produk   ETF   yang dikenal di pasar domestik, reksa dana ABF IBI Fund yang diterbitkan Bahana TCW Investment Management dan reksa dana Premier ETF LQ-45 yang diterbitkan Indopremier Securities. Namun dua produk ini tidak seaktif ETF yang diterbitkan fund manager asing di bursa global dengan aset dasar saham-saham di BEI.   Sebut saja MSCI Indonesia Investable Market Index Fund (EIDO) yang dikeluarkan BlackRock Inc dan Market Vector Indonesia ETF yang diterbitkan Van Eck dengan rata-rata volume transaksi EIDO dari Januari-Februari 2011 mencapai 652.154 lembar dan IDX sebanyak 779.125 lembar.

Kalah Populer

Salah satu acuan investor berinvestasi adalah likuditas. Hal ini mencakup frekuensi, nilai dan volume perdagangannya. Sejauh ini, volume perdagangan ETF belum terlalu besar. Tak heran, produk ini belum dikenal investor sebagai salah satu varian instrumen investasi.

Bagi investor ritel, pergerakan ETF itu kurang populer dibandingkan dengan saham. Apalagi bicara hitungan-hitungan return masih melandai. “Imbal hasil ETF dalam negeri setiap bulannya hanya 1-2 persen, investor lebih suka mendapatkan return yang tinggi, maka mereka lebih memilih investasi di pasar saham,” jelas Direktur Utama Danareksa Securities, Marciano Herman. Dilihat dari faktor resiko, aman, investor cenderung memilih investasi diobligasi atau deposito. Kurang semaraknya perdagangan ETF juga dipengaruhi kerdilnya jumlah investor. Marciano   melanjutkan, melihat penurunan unit penyertaan yang tecatat atau volume transaksi, perdagangan ETF hanya ramai saat pertama kali diterbitkan, sama seperti perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana (IPO).   Untuk itu, peran fund manager penerbit ETF melakukan sosialisasi kepada  investor  menjadi mutlak. Selain sosialisasi. Cara lain yang bisa ditempuh adalah menawarkan ETF ke dana pensiun dan asuransi.

Tak jauh berbeda, Associate Director Standard Chartered Securities, Yuniar Restanto, mengatakan kurang aktifnya produk ETF karena investor sudah terbiasa pada produk investasi konvensional. Hal tersebut tak jauh berbeda saat perseroan mengeluarkan produk Kontrak Investasi Kolektif   Efek Beragun Aset (KIK EBA) pada 2009 lalu.  Padahal, saat peluncuran produk KIK-EBA tersebut sudah dibantu oleh Bapepam-LK baik dari segi teknis maupun sosialisasi.   Selain sosialisasi, agar produk tersebut menjadi masif, ETF harus berani memberikan imbal hasil lebih tinggi ketimbang instrumen investasi lainnya.

Direktur PT Bahana TCW   Investment   Management, Budi Hikmat, mengatakan dalam berinvestasi, investor akan  melihat struktur produk investasi tersebut dibanding produk sejenis. Reksa dana Pendapatan Tetap tetap dinilai menarik karena imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan deposito.

Indopremier Ramaikan ETF Syariah Geliat MI mengembangkan produk derivatif berbasis syariah diamini Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Pejabat Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) yang mengatakan produk ETF syariah akan diluncurkan tahun ini.

Adalah PT Indopremier Asset Management yang ingin mengembangkan ETF syariah di lantai bursa. Saat ini, perseroan masih dalam tahap kajian internal sebelum meminta izin pada regulator. Menurut Direktur Indopremier Asset Management, Diah Sofiyanti, pihaknya akan membua replikasi indeks dengan menggunakan JII sebagai acuannya. Alasan dipilihnya JII ketimbang ISSI karena jumlah saham ISSI terlalu banyak sehingga diversifikasi saham dinilai terlalu luas. “Kami berharap di tahun ini ETF Syariah bisa segera kami luncurkan,” tambah Diah.

Apalagi Indopremier boleh terbilang cukup sukses ‘menghidupkan’ kembali produk ETF yang dimilikinya yakni ETF berbasis Indeks LQ-45 yang diluncurkan ulang di 2011. Sampai dengan akhir Desember 2011, total dana kelolaan (asset under management) ETF LQ-45 adalah Rp30 miliar.

Melihat fakta di bursa global, potensi likuditas produk ETF sangat besar. Di New York Stock Exchange (NYSE) sekitar 40 persen transaksi didominasi ETF. Melihat ceruk pasar global, Indopremier optimis, investor asing yang masuk ma-suk ke ETF diperkirakan sekitar Rp20 triliun per tahunnya.

Presiden Direktur Indopremier Investment Management, John D. Item mengungkapkan,    potensi kerugian ETF juga lebih kecil jika investor memegang satu lot saham tertentu. Sebab, pergerakan harga saham selalu berdasarkan pada perusahaan atau emiten sedangkan pergerakan ETF mengikuti pergerakan Indeks yang menjadi acuannya. Oleh karena itu, apabila saham bisa berpotensi turun hingga di harga terendahnya, tidak halnya dengan ETF.

Patut ditunggu apakah ETF Syariah yang akan segera dikeluarkan   Indopremier dapat menjadi produk investasi alternatif investor. Jangan sampai pengalaman lalu terulang kembali karena ETF hanya sebagai pelengkap produk investasi di BEI.

 

Dibaca : 1127 kali
Baru dibaca Terpopuler