Minggu, 27 Mei 2018 | 20:41 WIB

Review: Membangkitkan Selera Pada Produk Derivatif

Rabu, 02 Mei 2012 / derivative / majalah pialang
Review: Membangkitkan Selera Pada Produk Derivatif
Terkait :

Pialang News, Jakarta - Antara ada dan tiada. Mungkin kata-kata itu cocok disematkan pada produk derivatif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski telah hadir sejak 2004, belum banyak pelaku di industri pasar modal yang mengenal produk turunan ini. Apalagi memahaminya, masih jauh dari harapan. Tak heran, keberadaannya belum mampu menggerakkan pasar.

Melihat keberadaannya yang belum mampu melirik para investor, BEI terus mengembangkan produk derivatif ini.  Bahkan, otoritas bursa berencana meluncurkan ulang (relaunching) dua produk derivatif yang dimilikinya dan membuat satu produk derivatif baru guna menyemarakkan produk investasi di pasar modal.

Kedua produk derivatif tersebut adalah Kontrak Berjangka Indeks Efek (KBIE) atau LQ-45 Index Futures dan Kontrak Opsi Saham (KOS) atau stock options sedangkan satu produk derivatif baru adalah waran terstruktur atau structured warrants.

Lebih Menarik
Produk pertama yang akan diluncurkan adalah structured warrants. Structured warrants adalah waran yang diterbitkan oleh perusahaan efek dengan aset dasarnya (underlying asset) saham yang dimiliki oleh perusahaan efek yang bersangkutan.

Penerbitannya sama seperti penerbitan waran pada umumnya. Bedanya, hingga batas akhir penerbitan, investor memiliki hak untuk mengambil alih (exercise) saham yang menjadi underlying asset-nya.

Untuk memikat investor sepertinya BEI memang tidak tinggal diam. Berkaca pada pengalaman pahit produk sejenis sebelumnya, salah satu self regulation organization (SRO) ini tidak ingin perdagangan struktur waran kali ini dihentikan sementara karena sepi peminat seperti produk yang lalu.

Agar pengalaman buruk itu tidak terulang, BEI telah menerima tanggapan dari 16 anggota bursa (AB) mengenai structured warrants ini. Meski masukan broker itu tidak mencapai sepertiga dari total AB sekitar 119 perusahaan efek, namun langkah terobosan itu dinilai sebuah kemajuan.

Menurut BEI, salah satu tanggapan dari pelaku pasar adalah penentuan peringkat perusahaan yang menjadi pihak penjamin structured warrants yang diterbitkan anggota bursa (guarantor). Beberapa masukan kontekstual sudah dimasukkan ke dalam penyusunan aturan (rule making rule) tersebut.

Menurut Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Friderica Widyasari Dewi, ke-16 Anggota Bursa tersebut kemungkinan besar menjadi pihak penerbit (provider) structured warrants.

“Aturan structured warrants akan segera diselesaikan dan akan kami sampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk ditindaklanjuti,” tambah Friderica.

Saat ini, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sedang menyiapkan aturan pencatatannya. Bursa optimis aturan terkait structured warrants akan segera disahkan Bapepam-LK dan menjadi produk derivatif pertama yang diluncurkan di tahun ini.

Friderica mengatakan, saat ini pemodal domestik lebih memilih bertransaksi produk derivatif di bursa negara lain. Dia juga mengakui, minimnya minat investor domestik mentransaksikan produk derivatif di negeri sendiri karena produk sebelumnya berbeda dengan produk derivatif yang diperdagangkan di beberapa bursa global.

Perbedaa itu tambah Friderica, terletak pada tingkat penurunan imbal hasilnya yang dibatasi hanya 10%. Padahal untuk produk derivatif seharusnya tidak demikian. Produk yang tergolong beresiko besar ini, harus menjanjikan keuntungan yang tak terbatas bagi investor.

“Jika dibatasi, maka akan mengurangi ketertarikan investor, makanya produk derivatif terdahulu tidak terlalu populer,” jelas Frederica.

Berkaca pada Pengalaman
Baik waran berstruktur atau kontrak opsi saham (KOS), sebelumnya sudah pernah diluncurkan oleh otoritas bursa. Peluncuran ulang ini dilakukan dengan memodifikasi beberapa spesifikasi kontrak.

Otoritas Bursa meyakini produk derivatif yang diluncurkan kali ini akan diminati investor karena secara spesifikasi sudah sama dan tidak akan jauh berbeda dengan produk derivatif yang diperdagangkan di pasar global.

Managing Director Valbury Asia Securities Johanes Soetikno, mengatakan minat investor Indonesia terhadap produk derivatif sangat tinggi. Otoritas Bursa harus dapat memanfaatkan ceruk tersebut dengan membuat instrumen derivatif yang menarik minat investor. Caranya tidak melakukan pembatasan terhadap tingkat pinjaman broker kepada nasabah (leverage) terlalu besar.

Menurut Johanes, tidak likuidnya perdagangan beberapa produk derivatif BEI selama ini karena adanya beberapa pembatasan. Pembatasan margin awal 10% dari nilai kontrak membuat KOS saat itu menjadi tidak menarik minat investor.

Pembatasan ini dinilai Johanes harus disingkapi sedemikian rupa sehingga produk derivatif yang akan diluncurkan bisa berfungsi sebagai lindung nilai (hedging). “Padahal peminat produk derivatif ini cukup besar di Indonesia,” kata Johanes. yang juga Dewan Pakar Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI).

Investor Indonesia lebih memilih bertransaksi di beberapa Bursa regional karena di Bursa Indonesia belum ada fitur produk derivatif yang dinilai kompetitif dari segi biaya transaksi dan rentang imbal hasil yang diperoleh investor. Salah satu hal yang dibatasi dalam produk derivatif KOS terdahulu adalah tingkat leverage yang dibatasi hanya 10 kali lipat saja dari modal.

Johanes mencontohkan, untuk produk derivatif Contract For Difference (CFD) yang diluncurkan di beberapa negara dimana investor dapat membeli saham berdasarkan selisih harganya, tingkat leverage-nya bisa sampai 50 kali lipat – 100 kali lipat. “Tidak perlu terlalu besar pembatasannya. Antara 25 kali lipat – 50 kali lipat saja, saya rasa investor tidak keberatan,” tambahnya.

Tingkat leverage yang tinggi diperlukan jika ingin membuat produk derivatif berfungsi sebagai hedging di kala Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak stagnan. Apalagi investor juga dinilai sudah paham tentang risiko dari investasi bertransaksi derivatif.

Fungsi hedging yang dimaksud Johanes adalah, ketika Indeks bergerak sudah dalam level yang cukup tinggi, maka akan ada pengurangan dalam volume dan nilai transaksi perdagangan harian karena investor akan lebih selektif dalam bertransaksi. Namun jika ada medium lain dalam bertransaksi misalkan dalam produk derivatif, maka investor cenderung mengaplikasikannya untuk mencari keuntungan lain yang maksimal.

Selain itu biaya transaksi derivatif juga sebaiknya tidak terlalu mahal. Sebagai perbandingan, kata Johanes, rata-rata minimal transaksi produk derivatif di pasar global sebesar US$ 250. Peran market maker dalam melikuidkan produk derivatif juga cukup krusial.

Dengam melihat berbagai masukan tersebut, BEI sepertinya cukup akomodatif. Oleh karena itu dalam peluncuran ulang produk derivatif ini, BEI hanya akan menentukan mekanisme penentuan harga awalnya saja, sehingga untuk perdagangannya akan disesuaikan dengan mekanisme pasar.

Demi meningkatkan minat investor lokal dan global, BEI akan mengajak perusahaan efek yang telah memiliki pengalaman di dunia internasional dan telah memiliki investor tersendiri untuk menjadi market maker produk derivatif baru ini.
 

Produk derivatif yang di re-lanuching

Kontrak Opsi Saham (KOS) atau stock options
KOS (Kontrak Opsi Saham) adalah Efek yang memuat hak beli (call option) atau hak jual (put option) atas underlying stock (saham perusahaan tercatat, yang menjadi dasar perdagangan seri KOS) dalam jumlah dan strike price (harga yang ditetapkan oleh Bursa untuk setiap seri KOS sebagai acuan dalam exercise) tertentu, serta berlaku dalam periode tertentu.

Sementara call option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut. Sebaliknya, Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut.

Option pertama kali secara resmi diperdagangkan melalui Chicago Board Exchange (CBOE) pada tahun 1973. Opsi tipe Amerika memberikan kesempatan kepada pemegang opsi (taker) untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo. Sedangkan Opsi Eropa hanya memberikan kesempatan kepada taker untuk meng-exercise haknya pada saat waktu jatuh tempo.

Kontrak Berjangka Indeks Efek (KBIE) atau LQ-45 Index Futures
Kontrak Berjangka atau Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu underlying (dapat berupa indeks, saham, obligasi, dll) di masa mendatang. Kontrak Indeks merupakan kontrak berjangka yang menggunakan underlying berupa indeks saham.

LQ45 Futures menggunakan underlying Indeks LQ45 yang telah dikenal sebagai benchmark saham-saham di Pasar Modal Indonesia. Di tengah perkembangan yang cepat di pasar modal Indonesia, Indeks LQ45 dapat menjadi alat yang cukup efektif dalam melakukan tracking secara keseluruhan dari pasar saham di Indonesia.

--------------

Perbedaan Sudah dan Sebelum:

Saat ini: Penentuan peringkat perusahaan yang menjadi pihak penjamin structured warrants yang diterbitkan anggota bursa (guarantor) lebih jelas.
Sebelumnya: Tidak ada penjelasan yang detil

Saat ini: Margin awal tidak dibatasi
Sebelumnya: Pembatasan margin awal hanya dibatasi 10%

Saat ini: Tingkat leverage akan diperbesar
Sebelumnya: Tingkat leverage hanya dibatasi 10 kali lipat

Saat ini: Biaya Lebih terjangkau

Sebelumnya: Cenderung tinggi

Dibaca : 1296 kali