Senin, 20 Nopember 2017 | 10:56 WIB

Tradisi Mudik Suntikan Bagi Perekonomian Desa

Rabu, 30 Juli 2013 / macro / antara

Padang, investorpialang.com - Pengamat Ekonomi Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat, Dr Syafrizal Chan menilai tradisi mudik Lebaran merupakan suntikan bagi perekonomian desa (nagari adat) dari masyarakat kota.

"Daerah semestinya memanfaatkan peluang tradisi mudik Lebaran itu, guna menggerakkan perekonomian di desa, karena perputaran uang dalam kurun waktu sekitar sebulan relatif tinggi," kata mantan Direktur Pasca Sarjana UBH Padang ini di Padang, Senin.

Menurut dia, melihat dampak terhadap perekonomian desa dari para perantau yang mudik itu, di antaranya pada transaksi di warung-warung, pasar ketika mereka berbelanja, penginapan dan objek wisata.

Jadi, selama arus mudik terjadi distribusi pendapatan dalam jumlah yang cukup besar, makanya daerah harus bisa membuat bagaimana perantau bisa berbelanja lebih banyak.

Selain itu, tak kalah pentingnya uang yang mengalir ke desa dari masyarakat kota tersebut, semestinya harus tertahan di desa dalam artian masyarakat desa jangan konsumtif.

"Dana yang banyak diperoleh masyarakat desa dari perantau, sebaiknya dapat menjadi suntikan modal untuk usaha yang produktif," ujarnya.

Misalnya, mengembangkan usaha berternak sapi atau budidaya perikanan serta berdagang dan lainnya, tapi bukan untuk konsumtif membeli kendaraan sepeda motor dan berbelanja perlengkapan rumah tangga lainnya.

Jika untuk kebutuhan konsumtif oleh masyarakat, tambahnya, makanya dana yang mengalir dari perantau setiap tahunnya perputarannya lari keluar desa tersebut, tentu dampaknya tidak akan terlihat.

"Tradisi mudik merupakan fenomena ekonomi berulang setiap tahunnya dan sesuatu yang bagus, karena dinilai kehidupan orang di kota lebih baik dari masyarakat desa," ujarnya.

Sebab, setiap perantau yang mudik ke kampung halamannya jelas membawa uang dan barang-barang yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan jumlah tidak sedikit.

Kemudian para perantau yang mudik berbagai latarbelakang profesi dan usaha, makanya peluang ini harus dimanfaatkan juga bagi daerah untuk menawarkan investasi terhadap potensi yang di daerah.

Menurut dia, ketika perantau mudik ke Sumbar bukan hanya sekadar mengharapkan sumbangan atau bantuan untuk membangun infrastruktur ibadah dan sosial lainnya.

Namun, bagaimana pemerintah kabupaten dan kota mempersiapkan penawaran investasi yang dapat menjadi daya tarik bagi perantau untuk menanamkan modalnya.

Sebab, tak semuanya perantau yang mengenal lebih dalam tentang potensi daerah atau kampung halamannya, makanya perlu diekspos saat mereka mudik.

"Kalau ada perantau yang investasi, jelas memberi dampak pergerakan ekonomi secara berkelanjutan jangka panjang dan membuka lapangan pekerjaan di daerah," ujarnya.

Kemudian tradisi mudik, juga ada dampak pendidikannya karena pengalaman orang rantau suatu yang menarik didengarkan bagi generasi di kampung.

Hal itu, tentunya dapat menjadi motivasi bagi generasi yang ada di kampung untuk dapat giat belajar dan dapat pula merantau jadi sukses.

"Momentum ini tinggal bagaimana mengemasnya bagi pemerintah nagari, kecamatan dan kabupaten/kota. Bagaimana semakin banyak uang orang rantau tinggal di kampung," katanya.

Dibaca : 325 kali
Baru dibaca Terpopuler