Rabu, 20 Juni 2018 | 20:10 WIB

Editorial: ICP Terus Turun, Pemerintah Mulai 'Kehilangan' Opsi Kenaikan BBM

Rabu, 02 Mei 2012 / macro / st05

 

Pialang News – Opsi pemerintah untuk bisa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) eceran mungkin semakin menjadi wacana. Syarat kenaikan BBM pada pasal 7 Ayat 6 a UU APBN Perubahan 2012 sulit dipenuhi karena harga minyak mentah Indonesia (ICP) terus menurun, mengikuti harga minyak mentah utama di pasar Internasional.

Berdasarkan laporan Tim Harga Minyak, Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM yang telah disahkan Menteri ESDM Jero Wacik, harga rata-rata ICP April 2012 turun US$3,51 per barel.

Dari US$128,14 pada Maret 2012 menjadi US$124,63 per barel selama April 2012. Dari salinan laporan yang diterima hari ini, disebutkan ada tiga faktor utama yang meredam laju kenaikan harga minyak dunia.

Pertama, meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di selat Hormuz. Kedua, Arab Saudi terus meningkatkan produksi minyak mentahnya, dari 8,9 juta barel per hari bph) menjadi 10 juta bph pada tahun ini. Pada bulan lalu, produksi ‘Juragan Minyak’ ini naik 0,1 juta bph dibandingkan bulan Maret 2012.

Ketiga, langkah China mengerem laju perekonomiannya. Pada Maret lalu, Perdana Menteri China, Wen Jiabao mengumumkan penurunan target pertumbuhan ekonomi negaranya menjadi 7,5% pada tahun 2012 ini.  Hal yang sama dibarengi oleh permintaan yang menurun dari Jepang.

Dengan fakta ini, pemerintah dapat dikatakan ‘kehilangan’ opsi untuk bisa menaikkan harga BBM. Ini karena pasal 7 ayat 6 a tersebut menyaratkan BBM subsidi boleh naik, sepanjang dalam enam bulan ke belakang sebelum kenaikan rata-rata ICP harus di atas 15 persen asumsi ICP di APBN Perubahan 2012 yang ditetapkan US$105 per barel.

Data ESDM, sepanjang Oktober 2011 hingga Maret 2012 lalu, pemerintah sebetulnya hanya tinggal menunggu rata-rata kenakan harga ICP sekitar 4 persen.

Alhasil, ketika memasuki bulan Mei, data Oktober 2011 dikerluarkan sebagai basis perhitungan, untuk digantikan bulan Aril 2012.  Sayangnya, seperti dikemukakan Tim dari ESDM, harga minyak April justru turun.

Pengalaman tahun 2008 memberi banyak pelajaran. Tahun itu, harga minyak dunia melambung tinggi, namun drop mulai pertengahan tahun. Pemerintah yang bahkan sudah memberikan subsidi pangan pun salah langkah. 

Berikut data harga ICP dalam enam bulan terakhir, yang bila dirata-ratakan hanya sekitar US$ 118 per barel. Padahal, syarat 15% dari asumsi ICP APBN P 2012 berarti US$120,75 per barel.

2011

  • November       US$112
  • Desember        US$110

2012

  • Januari             US$115,91
  • Februari           US$122,17
  • Maret               US$128,14
  • April                US$124,63

Dengan demikian, penentuan bisa tidaknya harga BBM naik agar bisa mengurangi beban subsidi akan ditentukan oleh harga Mei ini. Padahal, tanpa pembatasn konsumsi yang masih terus dikaji ini, konsumsi BBM bisa menambah ongkos subsidi sebesar Rp5 triliun perbulan, di luar yang sudah ditetapkan.

Subsidi BBM di tetapkan Rp137 triliun, naik dari semula Rp123 triliun. Artinya,  pemerintah menyubsisi sekitar  Rp5000 per liter konsumsi BBM eceran.

Ketidakpastian ini juga membuat ongkos psikologis bagi pasar. Soalnya, pembatasan rupanya tidak bisa dilakukan segera. Misalnya di pasar obligasi. Nilai transaksi perdagangan obligasi pada bulan April rata-rata tercatat hanya Rp3,49 triliun per hari.

Angka ini tururn drastic jika dibandingkan transaksi perdagangan rata-rata pada bulan Maret yang tercatat sebanyak Rp6,51 triliun per hari. Kondisi penurunan ini terjadi sejak akhir Februari lalu.

Sementara, hasil survei UGM dan UI menunjukkan 77 persen, terutama BBM jatuh ketangan mereka yang menengah dan atas, jadi mereka yang sudah punya mobil mewah, mobil lima. Hanya 15 persen subsidi BBM yang memang diniati pemerintah. 77 persen jatuh ke orang yang kaya.

 

Dibaca : 331 kali
Baru dibaca Terpopuler