Sabtu, 18 Nopember 2017 | 18:50 WIB

Kadin Desak Pemerintah Atasi Defisit Perdagangan

Kamis, 22 Agustus 2013 / macro / antara

Jakarta, investorpialang.com - Kadin Indonesia meminta Pemerintah segera mengatasi tingginya defisit neraca perdagangan agar tidak mengimbas terhadap perekonomian nasional.

"Permasalahan ini harus segera ditekan sebelum dampak negatifnya merambah lebih jauh terhadap perekonomian nasional," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P. Roeslani, di Jakarta, Rabu.

Menurut Rosan, akhir-akhir lalu Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan yang disusul defisit neraca perdagangan.

Pada kuartal I 2013, defisit perdagangan telah mencapai 3,3 miliar dolar AS dan diperkirakan totalnya akan mencapai 6 miliar dolar AS di tahun 2013.

Defisit itu dipicu importasi migas dan bahan baku penolong untuk industri yang masih tinggi, disamping nilai komoditas ekspor nasional yang rendah.

Untuk menekan defisit tersebut, diutarakannya, pemerintah harus bisa mengontrol importasi minyak dan gas serta bahan baku penolong industri yang masih tinggi.

Selain itu, nilai komoditas ekspor nasional yang masih rendah harus lebih ditingkatkan melalui industri pengolahan bernilai tambah.

"Potensi-potensi ekspor daerah masih belum banyak diangkat. Padahal, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas komoditas unggulan ekspornya. Dari daerah ini diharapkan bisa memperkuat pertambahan nilai ekspor nasional," katanya.

Ia menilai, transaksi ekspor dengan pelemahan rupiah hingga mencapai nilai di atas Rp10.000 per dolar AS seharusnya bisa menjadi momentum bagi para eksportir untuk lebih meningkatkan kegiatan ekspornya di tengah fenomena defisit neraca perdagangan.

"Meski memang seharusnya nilai rupiah itu seharusnya mencapai titik yang baik dan ideal bagi stabilitas perekonomian nasional," ujarnya.

Lebih jauh dijelaskan Rosan, daya saing dari segala aspek industri tak terkecuali bagi usaha kecil menengah seharusnya bisa menjadi prioritas khusus.

"Daya saing kita lemah, sementara pasar bebas sudah tak terhindarkan. Sekarang tinggal bagaimana agar pelaku usaha kita berdaya saing dan siap menghadapi pasar bebas sehingga produknya bisa diterima tidak hanya di dalam negeri saja, tetapi juga luar negeri, katanya.

Dibaca : 561 kali
Baru dibaca Terpopuler