Sabtu, 20 Januari 2018 | 08:39 WIB

Non AB, Ujung Tombak yang Terabaikan

Selasa, 24 April 2012 / market / st05

 

  • Jumlah perusahaan efek non Anggota Bursa (AB) terus menyusut tinggal 26 atau terpangkas hampir sepertiganya dalam sepuluh tahun terakhir.
  • "Perusahaan efek AB diharapkan merangkul non AB di daerah untuk mengjangkau dan menjaring investor di daerah... Perlu peran aktif perusahaan efek.” Ketua Bapepam LK- Nurhaida

Ada paradok antara penyedia jasa dan nilai emisi di pasar modal Indonesia yang terus terjadi selama satu dekade terakhir. Nilai emisi baik saham, obligasi dan produk lainnya telah tumbuh di atas 192% menjadi Rp816 triliun pada akhir 2011. Pertumbuhan luar biasa ini turut diikuti penikmat hasil dana publik itu, dari 441 emiten menjadi 640. Manfaat pasar modal semakin terasa bai perekonomian nasional.

Namun, bandingkan dengan jumlah perusahaan efek baik Anggota Bursa (AB) dan non AB yang semula berjumlah 201, kini hanya tinggal 146. Nasib yang lebih tragis dialami perusahaan efek non Anggota Bursa. Pada 2002 jumlahnya mencapai 65 perusahan, dan saat ini tinggal 26 saja.

Dengan begitu rata-rata ada empat perusahaan efek non AB yang tumbang setiap tahun. Pasca krisis, Badan Pengawas Paasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) semakin sering menutup broker non AB. Tahun lalu saja, ada 12 yang dibekukan karena menyalahi aturan atau tutup.  

Meskipun paradok, namun angka itu justru memberikan aura positif bahwa ada persaingan di industri pasar modal. Siapa tidak kuat, silahkan menyingkir dari pada mencoreng citra pelaku yang lain. Pun, regulator tidak tidur karena peraturan rupanya dijalankan, meskipun selalu saja ada insiden kecolongan setiap krisis ekonomi tiba.

Tren membaik juga terjadi pada jumlah investor di pasar modal Indonesia. Sayangnya, ia tidak sejalan dengan pertumbuhan emisi, namun lebih mendekat pada performa jumlah perusahaan efek. Saat ini, jumlah investor dalam negeri hanya 331 ribu atau sekitar 0,2% dari populasi penduduk.

Jumlahnya tidak berkembang banyak sejak sepuluh tahun terakhir. Jalin kelindan performa perusahaan efek dan investor ini semakin menegaskan tugas mendongkrak jumlah investor domestik tampaknya lebih tepat berada ditangan perusahaan efek  dibandingkan regulator sekalipun.

Alasannya sederhana, investor lebih berkepentingan dan jauh lebih sering berinteraksi dengan perusahaan efek dibandingkan regulator. Sayangnya, regulasi ketat dan beban berat yang dipundak 120 perusahaan efek AB tampaknya menyulitkannya bergerak leluasa.

Jangankan berupanya ekspansi jumlah cabang, agar menjangkau ke pelosok nusantara, penegakan peraturan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) minimum Rp25 miliar pada Februari ini saja dikabarkan bakal memangkas puluhan sekuritas. Modal broker mungkin tak bisa ditawar atas nama perlindungan investor, namun bukan berarti tidak ada jalan.

 

Bertumpu Peran Non AB

Ketua Bapepam LK Nurhaida mengatakan perusahaan efek adalah garda depan untuk dapat menlipatgandakan jumlah investor lokal. Salah satu caranya adalah dengan merangkul perusahaan efek non AB. Menurut Ketua Bapepam-LK hal ini dirasa perlu dilakukan karena dapat meningkatkan jumlah investor terutama di daerah-daerah.

"Diharapkan dapat merangkul perusahaan efek non anggota bursa di daerah untuk mengjangkau dan menjaring investor di daerah-daerah,” kata Nurhaida

Imbauan Nurhaida agar perusahaan efek AB lebih aktif merangkul non AB cukup beralasan. Ini karena mereka cenderung lebih leluasa berkonsentrasi pada pemasaran, dan fokus membuka cabang-cabang di daerah. Bapepam sendiri mendukung bisnis non AB dengan mempermudah syarat pendirian dan model bisnis yang lebih ringan dibandingkan AB, kecuali yang menjalankan bisnis penjamin emisi efek. “Perusahaan efek yang non AB bisa menjadi perpanjangan tangan, kalau investor mau transaksi melalui perusahaan efek yang AB,” ujarnya.

Presiden Direktur PT Capital Bridge Indonesia, Haryajid Ramelan—salah satu perusahaan efek non AB—mengatakan peranannya yang sama dengan AB. Bahkan, pada praktiknya beberapa broker AB cenderung lebih suka mengelola investor kakap atau institusi besar, dibandingkan ritel. Segmen itu memang menjadi garapan lazim broker non AB. “Non AB ini boleh dibilang sebagai ujung tombak pasar modal yang langsung berhubungan dengan nasabah, khususnya di luar daerah,” ujar dia.

Keterbatasan AB mengingat beban regulasi dan fokus penjualan tampaknya tidak perlu menjadi persoalan sepanjang semua pihak ikut mendukung perkembangan non AB. “Karena untuk menjalankan bisnisnya, bukan hanya buruh waktu dan perjuangan yang lebih besar (dibandingkan AB), namun kami juga perlu melihat potensi peningkatan ekonomi suatu daerah, dan bagaimana tingkat pendidikan calon investor di daerah tersebut," papar Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia ini

Dia mengatakan berbisnis non AB harus jeli, dan pandai mengatur ritme serta mampu berkreasi untuk menjaga kenyamanan investor dalam berinvestasi. Pasalnya non AB tetap harus bertatap muka dengan investor, dan tidak dapat melakukan transaksi secara langsung.

Dengan kata lain order nasabah dilakukan dengan kerjasama antara sekuritas non anggota bursa dan sekuritas anggota bursa melalui mekanisme titip jual dan titip beli.

Model bisnis kemitraan yang diungkapkan Nurhaida salah satunya dilakukan PT Garuda Nusantara Capital (GNC). Perusahaan efek non AB yang didirikan sejumlah pemain gaek pasar modal ini bermitra eksklusif sebagai distribution channel dengan PT Bahana Securities untuk perdagangan saham, dan PT Syailendra Capital untuk memasarkan produk pengelolaan aset, atau reksa dana.

“Kami sedang menyiapkan 17 cabang baru di 17 kota besar lagi, agar bisa menciptakan investor-investor baru,” ujar Presdir GNC Saidu Solihin. Saat ini, GNC memiliki  tiga titik penjualan atau cabang, di Serpong,  Bandung dan Bandara Lampung.

Senada dengan Haryajid, Saidu mengatakan pada praktiknya non AB adalah ujung tombak industri pasar modal. Mereka yang terjun di bisnis ini harus siap ‘babat alas’ atau melakukan edukasi ke masyarakat di daerah yang masih buta terhadap pasar modal.

Bahkan, dalam beberapa kasus harus memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara pasar modal dengan money market atau skema skema investasi bodong yang mengatasnamakan pasar modal. “Ini fungsi yang sebenarnya lebih tepat dilakukan oleh regulator. Namun di bisnis ini, peran itu mau tidak mau harus dilakukan,” terangnya.

Memaksimalkan potensi non AB sebagai pintu masuk investasi di pasar modal sebetulnya bisa disinergikan dengan tren perdagangan saham via internet (online trading). Duet keduanya bisa mendongkrak jumlah investor pasar modal dalam waktu cepat, namun lebih berkualitas.

Saidu mengungkapkan, online trading memang signifikan menambah jumlah investor, namun perlu edukasi dan pendampingan secara langsung agar investor masuk ke pasar modal dengan cara yang benar. “Tanpa edukasi potensi merugi investor baru akan lebih besar, sehingga bisa menimbulkan efek jera investasi,” ujar Ketua Umum Ikatan Pialang Efek (IPEI) ini.

Sumber Majalah Pialang Edisi Februari 2012

 

Dibaca : 1883 kali
Baru dibaca Terpopuler