Minggu, 27 Mei 2018 | 23:03 WIB

Saham Sub Sektor Perkebunan Jadi Fokus Utama Investor

Kamis, 26 April 2012 / market / st02
Saham Sub Sektor Perkebunan Jadi Fokus Utama Investor
Terkait :

 

Pialang News - Saham dari sub sektor perkebunan dinilai analis sekuritas tetap masih menjadi perhatian utama investor ketika bertransaksi di sektoral agribisnis. Untuk sub sektor peternakan, perikanan dan sub sektor lain-lain, belum menjadi pilihan utama investasi investor di tahun ini. 
 
Analis Recapital Securities, Agustini Hamid mengatakan, saat ini rasio harga saham berbanding pendapatan (price to earning ratio/PER) dari industri agribisnis sebesar 12,7 kali dan rasio harga saham berbanding nilai buku (price to book value/PBV) dari emiten agribisnis sebesar 2,6 kali. Meski demikian, hal tersebut dinilainya belum dapat menjadi indikator utama investor untuk berinvestasi atas saham tersebut. 
 
"Jika PBV dan PER dari emiten tersebut berada di bawah PER dan PBV dari industri, belum menjadi jaminan bahwa harga sahamnya murah. Faktor likuiditas dan prospek usaha dari emiten menjadi perhatian lain investor dalam berinvestasi," jelasnya, Kamis (26/4). 
 
Oleh karena itu, lanjut Agustini, meski beberapa saham memiliki PER dan PBV di bawah PER dan PBV rata-rata industri, belum jadi jaminan sahamnya prospektif secara jangka panjang. Untuk saham sektor agribisnis sendiri, Agustini melihat saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) prospektif secara jangka panjang. 
 
Alasannya meski secara PBV sudah di atas PBV industri, yakni 3,6 kali, namun secara PER saham ini masih di bawah PER industri yakni 11,75 kali. "Apalagi porsi lahan yang belum ditanami (land bank) dari saham ini masih cukup besar. Untuk saham sektor perkebunan land bank tentu jadi perhatian utama investor karena menentukan perkembangan industri di masa depan," tambahnya. 
 
Sedangkan untuk sub sektor peternakan, perikanan dan sub sektor lain-lain, meski kemungkinan harga PBV dan PER-nya berada di bawah PBV dan PER rata-rata industri, namun likuiditas sahamnya menjadi alasan investor tak berminat berinvestasi atas saham-saham tersebut.
 
"Mayoritas saham selain dari sub sektor perkebunan pergerakan harga sahamnya tak likuid, mungkin hanya digunakan investor untuk spekulasi saja jika ada isu yang menyangkut saham tersebut," ungkap Agustini. 
 
Agustini melanjutkan, investor yang bertransaksi di saham-saham agribisnis kemungkinan masih belum akan melakukan aksi jual beli dalam jangka pendek. Pasalnya pergerakan saham sektor agribisnis masih akan mengalami koreksi lanjutan. Pada pergerakan harga sahamnya turun 1,03% menjadi 2.335,16 poin dari sebelumnya 2.359,56 poin. 
 
Sedangkan untuk jangka panjang, pergerakan saham sektor agribisnis masih akan prospektif. Apalagi hasil produksi emiten perkebunan yakni minyak kelapa sawit (crude palm oil) termasuk salah satu kebutuhan pokok masyarakat, jadi permintaan publik terhadap CPO masih besar dalam jangka panjang," jelasnya. 
 
Faktor Lainnya
Analis Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, menilai selain faktor likuditas dan fundamental, keberadaan induk perusahaan di dalam suatu emiten juga menjadi pertimbangan investor ketika bertransaksi atas saham tersebut. Sebagai contoh, saham PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP). Meskipun saham ini memiliki PER hanya 5,56 kali dan PBV 0,45 kali, namun pengaruh grup Bakrie yang kurang dipercaya pasar menjadi sentimen negatifnya. 
 
"Terkadang pergerakan harga saham juga tidak sejalan dengan kondisi riil di dalam perekonomian Indonesia. Misalkan saat ini konsumsi masyarakat untuk produk perikanan yang mengalami peningkatan, namun pergerakan harga saham emiten sub sektor perikanan justru cenderung stagnan, faktor harga saham yang tak likuid menjadi sentimen negatif lainnya," tambah Reza. 
 
Analis Sucorinvest Central Gani, Gifar Indra Sakti, mengatakan prospek saham sub sektor perkebunan di sektor agribisnis juga ditentukan oleh masa tanaman yang menjadi produk dari masing-masing emiten. Sebagai contoh emiten PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dimana masa tanamannya sudah relatif menua dari di atas masa produktifnya. 
 
"Selain itu, tanaman baru yang masih belum produktif juga masih sedikit dan tanaman yang ditanam kembali juga belum banyak. AALI harus melakukan banyak peremajaan tanamannya untuk dapat prospektif di masa depan," tutup Gifar.
Dibaca : 643 kali
Baru dibaca Terpopuler