Senin, 20 Nopember 2017 | 11:05 WIB

Peringatan 36 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia

Jumat, 15 Agustus 2013 / market / investorpialang.com

Jakarta, investorpialang.com - Kamis, 15 Agustus 2013 bertempat di gedung Sumitro  Djojohadikusumo, Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beserta para petinggi SRO (Self Regulatory Organization) menghadiri peringatan 36 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia yang jatuh pada tanggal 10 Agustus lalu. Acara yang dihadiri oleh para Dewan Komisioner OJK serta Direksi dari BEI (Bursa Efek Indonesia), KPSI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) selaku SRO, berlangsung dari mulai pukul 10.30 WIB. Selain Ketua dan Dewan Komisioner OJK, turut hadir pula Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito dan juga Direktur Utama KSEI Heri Sunaryadi pada peringatan tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D.Hadad membuka acara dengan memberikan sambutannya kepada media. Pada awal sambutannya, Muliaman mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi rekan-rekan media yang datang. “Saat ini adalah minggu pertama setelah Lebaran, sehingga suasana Idul Fitri masih sangat kita rasakan. Selaku pribadi dan mewakili Otoritas Jasa Keuangan saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin,” sambut Muliaman.

Selanjutnya, Muliaman sedikit menyinggung sedikit mengenai sejarah pasar modal Indonesia. Pasar Modal sudah ada di Indonesia sejak tahun 1912, yang ditandai dengan dibukanya Bursa Efek di Jakarta. Bursa Efek tersebut merupakan bursa tertua ke empat di Asia, setelah Hong Kong, Mumbai, dan Tokyo. Namun bursa ini ditutup karena pecahnya perang dunia II.

Pada tahun 1952, Pemerintah Republik Indonesia membuka kembali Bursa Efek di Jakarta. Namun lagi-lagi bursa ini ditutup, kali ini karena munculnya larangan bagi Bursa untuk memperdagangkan Efek perusahaan Belanda di Indonesia pada tahun 1960 disertai inflasi yang sangat tinggi pada tahun 1966.

Pasar Modal di Indonesia kemudian diaktifkan kembali pada tanggal 10 Agustus 1977. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D.Hadad kemudian menjelaskan bahwa terdapat beberapa kegiatan lain yang merupakan momentum perkembangan Pasar Modal di Indonesia, salah satunya adalah Era Deregulasi tahun 1987 sampai dengan 1990. “ Pada era tersebut pemerintah menyederhanakan berbagai peraturan terkait Pasar Modal sehingga jumlah Emiten meningkat sangat pesat,” Muliaman menjelaskan.

Selain itu momen lainnya adalah terbitnya Undang-Undang tentang Pasar Modal pada tahun 1995. “Undang-Undang ini memberikan kerangka hukum pengaturan, pengawasan dan pembinaan Pasar Modal menjadi lebih kokoh sekaligus memberikan kewenangan regulator Pasar Modal yang lebih kuat dalam penegakan hukum,” ujar Muliaman.

Menurut Muliaman, beralihnya pengawasan Pasar Modal, Lembaga Keuangan Non Bank, dan nantinya Perbankan, ke Otoritas Jasa Keuangan juga merupakan tonggak yang sangat penting dalam perkembangan industri keuangan, termasuk industri Pasar Modal. Untuk memastikan bahwa manfaat yang maksimal dapat diperoleh dari momentum ini, beliau mengatakan akan berupaya keras agar OJK tidak hanya menggabungkan fungsi dari regulator-regulator sebelumnya, namun juga mampu mengintegrasikan, memperkuat, dan mengefektifkan kegiatan pengawasan pada berbagai sektor dalam industri jasa keuangan.

“Sebagaimana yang sudah kami sampaikan pada berbagai event sebelumnya, kami (OJK) ingin mewujudkan beberapa hal pada Pasar Modal kita,” jelas Muliaman. “Pertama, sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses, efisien, dan kompetitif. Kedua, menjadi sarana investasi yang atraktif dan kondusif. Dan ketiga, menjadi industri yang stabil, tahan uji dan likuid,” tambahnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Muliaman menambahkan bahwa terdapat beberapa kegiatan yang menjadi fokus OJK di bidang Pasar Modal. Salah satu nya adalah upaya mendorong pendalaman Pasar Modal melalui peningkatan supply dan demand di pasar. Pendalaman pasar ini juga termasuk di dalam upaya membangun sinergi antara Pasar Modal, Perbankan, dan Industri Keuangan Non Bank baik konvensional maupun syariah.

Selain itu OJK juga memiliki beberapa program strategis yang akan dijalankan pada masa yang akan datang, antara lain Dana Perlindungan Pemodal (Investor Protection Fund/IPF), penurunan satuan perdagangan dan perubahan jumlah kelompok harga, dan penyederhanaan prosedur penawaran umum. Untuk penurunan satuan perdagangan, kabarnya mulai 1 Desember 2013 OJK bersama BEI akan memberlakukan satuan lot baru dalam perdagangan saham. Yang sebelumnya 1 lot adalah 500 saham dirubah menjadi 100 saham. Hal ini diharapkan dapat mengakomodasi perdagangan yang lebih efisien dengan menambah kesempatan bertransaksi saham dalam satuan perdagangan yang lebih kecil dan mengurangi potensi tingginya fluktuasi harga.

Sebagai penutup, Muliaman D.Hadad mengajak segenap pemangku kepentingan Pasar Modal untuk terus membangun Pasar Modal Indonesia agar tidak tertinggal dan memiliki daya saing yang tinggi. “Saya mewakili Dewan Komisioner OJK menyampaikan apresiasi yang stinggi tingginya kepada semua pihak yang telah mendukung perkembangan Pasar Modal Indonesia sejak diaktifkan kembali 36 tahun silam,” kata Muliaman.

Dibaca : 700 kali
Baru dibaca Terpopuler