Selasa, 23 Januari 2018 | 18:40 WIB

Sekuritas Asing Dominasi Broker Teraktif

Credit Suisse Indonesia Menjadi Perusahaan Efek Teraktif Sepanjang Semester Pertama 2011
Senin, 24 Oktober 2011 / market
Sekuritas Asing Dominasi Broker Teraktif

 

Anggapan jika pasar modal Indonesia menjadi magnet bagi investor asing tampaknya tidak terbantahkan. Hal itu terbukti dengan adanya delapan dari sepuluh perusahaan efek internasional yang menempati posisi sebagaibroker teraktif di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Unsur permodalan yang kuat, jaringan investasi yang luas dan manajemen perusahaan yang profesional ditenggarai menjadi tiga faktor yang membuat sekuritas asing mampu mengungguli eksistensi perusahaan efek lokal.

Belum lagi jika melihat kondisi pasar saham nasional yang hingga kini masih di dominasi oleh investor mancanegara, tentunya semakin memperkuat asumsi jika keberadaan broker luar negeri tidak tergoyahkan.

Dengan pendanaan yang kuat, sekuritas asing bisa memiliki batas transaksi yang lebih besar, pemberian fasilitas margin yang lebih tinggi serta kemampuan mengelola manajemen resiko yang lebih baik.

“Semua itu tidak terlepas karena (mereka) mempunyai Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) yang kuat, disamping tentunya Sumber Daya Manusia yang kompeten dan memang profesional dibidangnya” lanjut Jeffrosenberg Tan Head of Research Sinarmas Securities.

 

Berdasarkan data perdagangan BEI sepanjang semester pertama 2011, memunculkan nama Credit Suisse Indonesia sebagai sekuritas teraktif dengan membukukan volume transaksi sebanyak 52,15 triliun rupiah.

Perusahaan patungan milik Credit Suisse AG dan Dharwin Yuwono tersebut memiliki modal dasar hingga Rp 800 miliar dengan jumlah modal disetor sebesar Rp 235 miliar. Tak hanya itu, perseroan juga memiliki MKBD sejumlah Rp 505,83 miliar (Juli 2011) atau merupakan salah satu yang terbesar di kalangan Anggota Bursa (AB).   

Sementara dari sisi kinerja, pada kuartal pertama Credit Suisse Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp 82,83 miliar dengan laba bersih senilai Rp 43,28 miliar.

Sedangkan jumlah aktiva perseroan mencapai Rp 2,27 triliun, dan jumlah kewajibannya sebanyak Rp 1,68 triliun. Kemudian menguntit dibelakangnya adalah Kim Eng Securities dengan akumulasi transaksi sebesar Rp 50,51 triliun.

Perusahaan asal Singapura ini mencatatkan modal dasar senilai Rp 100 miliar dengan modal disetor sejumlah Rp 50 miliar. Nilai MKBD perseroan kini berjumlah Rp 183,21 miliar (Juli 2011).

Sampai kuartal pertama, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 49,92 rupiah dengan laba bersih senilai Rp 9,03 miliar. Perusahaan patungan antara Kim Eng Holding Limited dan PT Buana Prima Adhiutama ini memiliki total aktiva sebanyak Rp 2,31 triliun dengan nilai kewajiban sebesar Rp 2,08 triliun. Setelah itu ada Bahana Securities yang mencatatkan transaksi perdagangan sejumlah Rp 46,31 triliun.

Satu-satunya perusahaan efek lokal yang mampu menembus tiga besar broker teraktif tersebut memiliki modal dasar senilai Rp 500 miliar dengan modal disetor sebanyak Rp 175 miliar.

Sementara posisi MKBD per Juli 2011 berada diangka Rp 361,82 miliar. Pada kuartal pertama, perseroan masih mencatatkan pendapatan minus sebesar 151,53 miliar rupiah dengan rugi bersih senilai 186,92 miliar rupiah.

Aktiva perusahaan mencapai 2,89 triliun rupiah dengan total kewajiban sejumlah 2,61 triliun rupiah. Kemudian satu broker lokal lain yang juga masuk ke jajaran sepuluh besar perusahaan efek teraktif adalah Mandiri Sekuritas, dan duduk di posisi sepuluh dengan raihan volume perdagangan senilai 27,48 triliun rupiah.

Data ini mengisyaratkan jika pasar modal kita masih sangat bergantung dengan aliran dana asing (capital inflow) yang masuk. Meskipun, perkembangan kepemilikan portofolio asing kini sudah jauh lebih sedikit, yakni sekitar 62 persen dibandingkan beberapa tahun lalu yang sempat mencapai 70 persen.

Walaupun, imbas dari krisis ekonomi global juga turut menggerus nilai transaksi asing, yang kemudian menyebabkan kepemilikan investor lokal meningkat sebanyak 1 persen.

Akan tetapi, hal itu belum mampu untuk mengubah fakta jika keberadaan investor luar negeri, yang notabene tercermin dari agresifitas perusahaan efek asing masih mendominasi dalam industri transaksi perdagangan efek di bursa saham domestik.

“Ini karena penambahan basis investor lokal yang masih kecil setiap bulannya. Hingga kini, total jumlah sub rekening efek yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) baru sekitar 344 ribu sub rekening.

Meskipun mayoritas dari jumlah tersebut adalah milik investor domestik, namun secara valuasi masih jauh jika dibandingkan dengan investor asing,” tutur Margareth Tang Direktur KSEI, di Jakarta.  

Dibaca : 2134 kali
Baru dibaca Terpopuler